Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Keputusan Zul dan Kemurahan Hati Udin


__ADS_3

Sampuraga yang ada di sebelah Zul langsung melompat ke arah Babi itu—yang membuat Babi itu tersungkur menabrak Pohon. Dia kemudian menggorok leherr Babi Hutan itu.


Udin juga menusukkan Tombaknya ke Perut Babi Hutan, untuk memastikan buruan mereka tak melakukan perlawanan lagi.


“Hebat sekali kalian!”


Zul menyeka air matanya dan tersenyum lebar. Dia sangat kagum dengan keberanian mereka yang tanpa ragu melawan Babi hutan yang ganas tersebut.


“Ini mah belum seberapa, yang menegangkan itu saat berhadapan dengan Harimau Sumatera yang justru mereka lah yang mengintai kita. Makanya kita diharuskan berburu berkelompok agar bisa saling bahu membahu bila bertemu Harimau atau Beruang!” sahut Sampuraga.

__ADS_1


Udin tak mengatakan apa-apa, ia hanya membersihkan noda darah dari Tombaknya, kemudian mengikat kaki babi hutan dengan tali ijuk—agar gampang digotong nanti.


Zul teringat kembali tentang pelariannya karena anjing yang menggiring babi hutan itu agar lari ke arah mereka telah muncul di depannya sambil menggonggong tanpa henti.


“Hmm... apa kalian serius membantuku kabur dan anjing ini akan membawaku ke lembah tempat aku ditemukan pertama kali?” Zul bertanya pada Udin.


Udin menganggukkan kepala dan menghela nafas panjang, sepertinya ia tampak ragu dengan usulannya itu—sehingga Zul merasa dirinya seperti akan dijebak saja.


“Tenang saja, kami belum melakukan ehem-eheman. Mungkin ia akan sedih beberapa saat. Namun, aku yakin seiring berjalannya waktu ia akan melupakan aku dan menerima salah satu dari kalian sebagai pelabuhan hatinya. Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk mengatakan pada Eza bahwa aku ini lelaki bajingann dan tidak dapat dipercaya. Kalian juga bisa membuktikan padanya kalau Pemuda Suku Rimba justru adalah lelaki yang pantas untuknya,” sahut Zul dengan ekspresi wajah serius—walaupun sebenarnya ia tiba-tiba merasa sangat bersalah pada Beleza.

__ADS_1


Laki-laki seperti apa dirinya ini, kenapa harus menyia-nyiakan wanita secantik dan baik sepertinya. Namun, ia juga sangat rindu dengan Emak, ayah dan kedai Oppung Sirait, bermain Sekater dan bermain Domino taruhan Kopi segelas.


Udin merasa apa yang dikatakan Zul ada benarnya, walaupun ia sudah memiliki Nerida tetapi Sampuraga, Malin, Jarjit dan Pemuda Suku Rimba lainnya bisa menggantikan posisi Zul membahagiakan sahabatnya itu. Siapa yang tak mau dengan Beleza yang kini telah bertransformasi menjadi sangat cantik, bahkan bila boleh berpoligami di Suku Rimba—maka ia akan memborong Beleza sebagai bini keduanya.


“Baiklah... kau pergilah dan semoga kau sampai ke lembah dengan selamat,” sahut Udin. “Masalah Beleza, kami akan mengatakan kamu menghilang saat kita disergap sekumpulan Harimau yang memaksa kita menyelematkan diri masing-masing!” Udin berpikir alasan inilah yang terbaik.


“Eh, kalau begitu kita tak bisa membawa Babi ini ke Pondok Persinggahan, dong?” sela Sampuraga.


“Ya, sudah kita bakar saja dan makan di sini he-he-he... Kan, kita pulangnya agak kemalaman agar saat Pitung membawa Pemuda Suku mencari Zul, dia sudah kabur sangat jauh dan tak mungkin ditemukan lagi!” jawab Udin.

__ADS_1


“Pintar kali kau, Din. Nggak kepikiran aku ke sana ha-ha-ha ....” Sampuraga tertawa terbahak-bahak, kemudian menatap Zul. “Hush! Hush! Pergi sana, jangan bilang kau mau babi panggang juga?” selidik Sampuraga karena Zul belum juga pergi.


Zul tersenyum masam dan segera melarikan diri, dia takut mereka malah berubah pikiran dan membawanya kembali ke Pondok Persinggahan Suku Rimba.


__ADS_2