Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Konspirasi Melenyapkan Pemuda Aneh Yang Dibawa Beleza


__ADS_3

Udin bingung, kenapa Beleza begitu ingin membawa laki-laki aneh tersebut. Apa karena wajahnya yang terlihat lebih tampan dari laki-laki Suku Rimba? Kalau iya, itu sangat menyakitkan baginya—karena ia tumbuh bersama Beleza, melalui suka dan duka bersama. Namun, wanita yang disukainya itu ternyata hanya menganggapnya sebagai sahabat saja.


“Sakitnya tuh di sini!” Seperti kata sebuah lagu dangdut yang pernah viral tersebut. Dan Udin memegang dadanya yang berdebar-debar tak karuan.


Baru berjalan melewati satu bukit saja, Beleza telah terengah-engah lagi dan sekujur tubuhnya dipenuhi keringat, karena cukup sulit juga membawa laki-laki tampannya itu melewati belantara hutan Bukit Barisan.


Udin menghela nafas panjang dan berkata, “Kau bisa tidak membawanya?” Senyuman masam terpancar dari sudut bibirnya. “Kalau tak kuat. Kan, bisa minta tolong, gitu?”


Secara tidak langsung ia ingin menawarkan bantuan pada Beleza. Namun, ia gengsi untuk mengungkapkannya secara langsung, makanya ia sengaja membuat kalimat tersirat.


“Ah, iya, ya. Masa aku tak kepikiran ke situ!” sahut Beleza dengan senyum manisnya yang membuat detak jantung Udin berdebar-debar. “Bang Malin ....”


Beleza memelas menatap Malin, tak lupa ia juga berkedip menggodanya—sehingga Malin langsung mengerutkan keningnya, kenapa tidak minta tolong pada Udin saja. Padahal jelas terlihat di wajah Udin yang berharap kalau Beleza meminta bantuan padanya.


“Ada apa Beleza?” Malin berpura-pura tidak tahu dengan niat Beleza.


“Abang, kan, besar. Tolong bawakan dong, tampanku ini. Tenang saja, nanti Beleza buatkan makanan spesial buat Abang, deh!”


Malin langsung mengangguk setuju, walaupun Udin mengedipkan mata sebagai kode agar dirinya menolak tawaran Beleza. Namun, kalau sudah namanya makanan, Malin tak mungkin menolak hadiah spesial tersebut—walaupun akan meretakkan hubungan pertemanan diantara mereka.


“Baiklah! Janji, ya, buatkan yang paling spesial yohohoho.”


Malin tertawa lebar sembari menatap Udin yang menghela nafas panjang—kecewa dengan keputusannya.

__ADS_1


“Apa kau bisa membawanya sembari mengangkat keranjang ikan itu?” sela Udin— masih berharap, Beleza meminta pertolongan padanya. “Kayaknya susah, deh! Sini biar aku saja yang bawa! Menyusahkan saja!”


Udin berpura-pura menggerutu. Namun, sebenarnya ia berharap agar Malin membiarkan dirinya saja yang membawa laki-laki tersebut.


Malin menyikut tangan Udin yang ingin meraih laki-laki itu dari pangkuan Beleza.


“Tenang saja, Bos! Aku kuat, kok. Kan, tinggal taruh di dalam keranjang. Beres!”


Malin tak bisa membiarkan hadiah besarnya diambil oleh Udin, tak peduli walaupun Udin menatap tajam padanya.


“Pelan-pelan Bang! Jangan sampai ia jatuh nanti,” kata Beleza khawatir saat Malin memasukkan Pria misterius tersebut ke dalam keranjang besar, kemudian Malin memikul Keranjang itu dan melanjutkan perjalanan.


“Kau tak perlu risau! Calon suami tampanmu ini akan Abang jaga dengan sepenuh hati dan jiwa ragaku,” sahut Malin sembari menyeringai menatap Udin yang raut wajahnya tampak sangat masam sekali.


“Sial! Awas kau Malin! Aku akan membuat perhitungan padamu nanti!” gerutu Udin yang membuat Sampuraga tersenyum melihatnya.


“Ada yang ketikung, nih,” ejek Sampuraga—sehingga Udin makin kesal. Kemudian Sampuraga menepuk pundaknya. “Masih ada kesempatan kok, walaupun peluangnya kecil,” katanya lagi.


“Betulkah?” Udin sangat senang mendengarnya. “Bagaimana caranya, tolong katakan padaku!” Pundak Sampuraga dicengkeram dengan keras olehnya.


“Tenanglah, Bos!” Sampuraga terkejut dengan reaksinya. “Jadi, benar kau sangat mencintai Beleza, ya? Kalau sedari dulu kau nyatakan cinta padanya, aku yakin kalian sudah menjadi pasangan bahagia sekarang, mungkin telah lahir Dua tuyul kembar menggemaskan ha-ha-ha.”


Udin hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia juga merasa kenapa sulit sekali mengungkapkan perasaannya, padahal tinggal mengatakan ailope yu, beres.

__ADS_1


“Huh! teori sih gampang banget, tapi giliran prakteknya malah amburadul,” gumam Udin menengadah menatap langit biru dan menghela nafas panjang.


“Aku tak yakin apakah ini akan berhasil, tapi patut dicoba namanya juga usaha.” Sampuraga mendekati Udin dan berbisik, “Kalau pemuda itu telah sadar nanti, kau bisa membantunya kabur. Dia pasti rindu dengan kampungnya, tunjukkan padanya arah jalan pulang.”


“Caranya menunjukkan jalannya? Kan hutan Bukit Barisan ini sangat luas!”


Udin masih bingung cara menunjukkan jalan pulang pada laki-laki itu, karena mereka tinggal di tengah-tengah belantara Bukit Barisan yang jauh dari pemukiman penduduk.


“Jadi, kita berjalan dibelakang saja. Kita buat tanda sepanjang perjalanan dan ia hanya perlu mengikuti tanda yang kita berikan. Kan, beres Bos! Beleza pun kembali ke pangkuanku ... eh, kepangkuan Bos maksudnya ha-ha-ha!”


Sampuraga tertawa terkekeh-kekeh, sehingga para Pemuda Suku Rimba menoleh ke arah mereka.


“Hush! Hush! Jalan sana! Kepo saja,” keluh Sampuraga mengayunkan tangannya—menyuruh rekan-rekannya tetap berjalan lebih dulu.


Udin tersenyum lebar setelah mendengar ide brilian tersebut. Dia yakin cuma inilah cara yang paling ampuh untuk menjauhkan Beleza dari pemuda itu.


Namun, tiba-tiba ia teringat dengan hukum Suku Rimba yang melarang anggota Suku berbaur dengan Suku lain.


“Kenapa kita tidak menyuruh Kepala Suku saja menghabisinya?”


“Eh, dasar Bos bodoh! Apa kau yakin Kepala Suku akan menghukum mati Pemuda itu kalau Beleza membelanya mati-matian, apalagi ayah Beleza adalah Panglima Perang kita, ingat kalangan atas itu bisa membolak-balikkan hukum seenaknya saja!” sahut Sampuraga mengerutkan keningnya, karena merasa Udin terlalu polos walaupun ia memiliki kekuatan seperti hulk. Namun, otaknya tidak seencer Iron Man.


“Masuk akal. Kau memang sahabat terbaik.”

__ADS_1


Udin sangat puas dengan penjelasan Sampuraga. Kini mereka hanya perlu berpura-pura memeriksa bagian belakang dan memulai aksi mereka memasang tanda sepanjang perjalanan pulang mereka.


__ADS_2