
Zul merasa tatapan dari para Pemuda Suku Rimba padanya seperti tatapan pembunuh di film-film Hollywood.
“Itu karena ramuan ini,” kata Zul memperlihatkan sisa Pangir buatannya. “Jangan lupa juga kalian pakai akar pohon yang ditumbuk ujungnya untuk membersihkan gigi emas kalian itu,” katanya lagi sembari menyerahkan wajan berisi sisa Pangir pada Nerida.
Para gadis-gadis Suku Rimba lansung berkerumun mengelilingi Nerida, mereka penasaran dengan ramuan yang membuat Beleza menjadi bak bidadari itu.
“Jangan lupa menggosok tubuh kalian pakai sabut kelapa, agar kotoran yang menempel di tubuh menghilang. Kalau menggosok bagian punggung, gantian saja sama teman-teman,” sahut Beleza bersikap sombong—karena telah cantik seperti wanita-wanita di lembah bukit Barisan.
“Baikkkkk!” sahut Nerida. “Terima kasih, ya. Kami coba dulu, nanti kita buat lebih banyak lagi untuk semua penduduk Suku Rimba!”
Nerida langsung berlari ke arah gua, kamar mandi umum Suku Rimba itu—karena sudah tak sabar ingin cantik seperti Beleza agar Bang Udin-nya makin klepek-klepek padanya.
__ADS_1
“Wah-wah ... semuanya dibawa. Kan, aku juga penasaran dan ingin tampan seperti Zul,” gerutu Malin.
“Cih, hati-hati! Itu adalah produk asing yang mungkin memiliki efek samping, mending gini-gini saja. Hidup apa adanya dengan aroma alami ini!” sela Udin pura-pura tak suka. Padahal ia juga penasaran ingin mencobanya, mana tahu ia akan mirip dengan Bang Regar; tampan dan berkharisma.
“Woalah... kolot sekali kau, Din! Gadis-gadis sekarang pasti milih yang tampan dan wangi, sudah nggak zaman pamer otot doang!” cibir Malin sembari berpura-pura ingin kencing ke dekat Gua.
Udin yang melihat tingkah Malin hanya menggelengkan kepala, karena ia tahu Malin pasti ingin mengintip para gadis-gadis Suku Rimba yang sedang mandi. Dia hanya berkilah saja mengatakan ingin kencing.
Nucifera, emaknya Beleza keluar dari Pondoknya dengan wajah kusut dan rambut keriting yang acak-acakan karena tadi malam ia dan Pitung bergulat hebat yang membuat Pondok bergetar-getar bak gempa bumi saja.
“Oahammmmmmm! Apaan sih ribut-ribut pagi-pagi begini, ganggu orang tidur saja. Nggak tahu kalian ya, pinggangku sedang keropos nih!” Nucifera menggerutu sembari menguap dengan mulut terbuka selebar-lebarnya.
__ADS_1
Namun, ada satu orang yang langsung ketakutan melihat sosok emaknya Beleza itu, dia adalah Zul yang langsung merasa Dunia seperti akan runtuh saja dan yakin kata-kata mutiara akan tertuju padanya, kelakuan mertuanya ini mirip sekali dengan emaknya di kampung.
Nucifera tercengang melihat sosok Beleza kini yang menjadi sangat cantik, ia bahkan mengucek matanya berkali-kali; apakah ia sedang berhalusinasi atau sedang kesambet hantu penunggu hutan.
Namun, ternyata gadis cantik itu benar-benar Beleza, anak gadisnya yang lahir dalam keadaan sungsang bertahun-tahun yang lalu tersebut.
“Eza anak gadis Emak, kau syantik sekali!” Nucifera memeluk Beleza. “Kau wangi sekali? Mandi air apa kau, apakah Dukun Agung memberikanmu susuk?” Dia penasaran.
“Hari gini makai susuk, Eza pakai ramuan buatan Abang lah, Mak!” sahut Beleza tersenyum lebar sambil menatap Zul yang tegang dan berdiri tegap bak Polisi Enggres yang menjaga istana Buckingham.
“Oo, ternyata kau berguna juga, tak kira kau hanya bisanya goyang pinggul saja dan menjadi beban hidup kami!” cibir Nucifera dengan tatapan sinis khas ibu mertua dalam sinetron ikan terbang.
__ADS_1