
“Aaaaaaaaaaa ... sakit Makkkkkkk!”
Zul berteriak histeris karena Malin menginjak bokongnya, sehingga ia merasa seperti dihimpit batu besar saja.
“Bos Udin, aku mendengar suara Pemuda tampan itu,” kata Malin sembari melihat sekelilingnya mencari dari arah mana sumber suara tersebut.
Para Pemuda Suku Rimba yang akan meninggalkan tempat itu berhenti melangkah dan segera memperhatikan sekitar mereka juga.
“Woi! jangan kau pijak Aku kampret! Minggir sana!” Zul berteriak pada Malin yang langsung menyadari keberadaannya.
“Ha-ha-ha ternyata kau bersembunyi di sana, macam belut saja kau ini!”
Malin segera menarik kerah baju Zul dan menjinjing tubuhnya seperti mengangkat kerupuk saja.
“Cih, si Malin sialan ini malah menangkapnya, kenapa ia tidak berpura-pura tidak melihatnya saja sih,” gerutu Udin dalam hati.
Kebencian Udin pada Malin kian memuncak, karena gara-gara dia kesempatan untuk mendapatkan Beleza kini kembali ke titik Nol, dan ia harus mendaur ulang strategi cara menyingkirkan Zul.
“Wah, persembahan kita akhirnya ketemu juga ha-ha-ha ... kau diam saja dan patuh. Nanti malam kepalamu akan menggelinding di depan hantu penunggu hutan ini.”
Jarjit menjambak rambut Zul dan menatapnya dengan tatapan tajam—sembari menjulurkan lidahnya menakut-nakutinya.
__ADS_1
“Hei, jangan kau berbuat kasar begitu, bukankah Kepala Suku mengatakan untuk membawanya dalam keadaan utuh!” Malin mendorong Jarjit.
“Betul kau jangan kasar-kasar, lah!”
Sampuraga ikut-ikutan membela Zul, karena ia tidak menyukai Jarjit yang disukai oleh Nerida—wanita idamannya, makanya kesempatan ini dimanfaatkan oleh Sampuraga untuk memarahi Jarjit.
“Hei, ada apa dengan kalian. Kenapa kalian membela orang asing? Lagi pula dia akan segera mati karena dijadikan persembahan untuk penunggu hutan.”
Jarjit tak terima dengan sikap Malin dan Sampuraga yang justru memojokkan dirinya.
“Kamu salah,” sahut Malin. “Beleza sangat menyukainya dan ia pasti akan meminta Panglima Perang untuk memveto putusan Kepala Suku.” Malin berspekulasi.
Udin terkejut mendengarnya dan ia pun panik, ucapan Malin tersebut pasti akan menjadi kenyataan karena sikap yang ditunjukkan oleh Panglima Perang Suku Rimba saat ini masih tidak jelas, apakah ia berpihak kepada Beleza atau aturan adat.
Udin menarik Parang yang diselipkan di pinggangnya. Dia pun lupa diri dan berpikir kalau Zul tidak dibunuh saat ini maka tidak akan ada kesempatan lagi dikemudian hari—yang ada ia akan melihat Beleza dipersunting oleh anak setan ini.
“Matilah kau!” teriak Udin mengayunkan Parangnya ke arah leher Zul.
“Ti-tidakk!”
Zul berteriak dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Malin untuk segera melarikan diri.
__ADS_1
Dengan sigap Malin mengayunkan Kapak miliknya, menangkis tebasan Parang Udin, sehingga kedua senjata mereka mengalami retakan saking kuatnya mereka mengayunkan senjata masing-masing.
“Apa-apaan kau ini Udin. Jangan bertindak gegabah begitu! Kita memiliki hukum adat, jadi biarkan Kepala Suku yang menentukan nasibnya,” bentak Malin.
“Ya, tenanglah Din! Biarkan saja Kepala Suku yang menentukan keputusan apa yang tepat padanya, jangan turuti amarahmu, yang ada nanti Beleza makin membencimu!”
Sampuraga menarik Udin mundur beberapa langkah.
Dia kemudian berbisik, “Kenapa kau gegabah begitu. Kan, kita sudah membuat rencana pelarian untuknya. Sekarang kau malah membuat anak setan ini takut padamu.”
Mengkerut lah wajah Udin dan merasa ia telah melakukan kesalahan besar. Kemudian ia menatap Zul sembari menghela nafas dalam-dalam.
“Baiklah, bawa dia menghadap Kepala Suku, tadi itu cuma bercanda saja ... kalian lihat wajahnya lucu sekali saking takutnya ha-ha-ha!” Udin tertawa terkekeh-kekeh.
“Ngeri kali bercandamu Din, sampai membuatnya terkencing-kencing di celana ha-ha-ha ....”
Jarjit ikut tertawa terkekeh-kekeh karena cairan berwarna kuning meluncur di celana Zul saking takutnya saat Udin mengayunkan Parang ke arahnya.
Gelak tawa para Pemuda Suku Rimba pecah setelah mendengar guyonan Sampuraga. Hanya Malin dan Zul saja yang tidak tertawa.
Malin merasa tindakan Udin tadi itu tidaklah bercanda, karena tangannya sampai bergetar saat Kapak-nya beradu dengan Parang milik Udin.
__ADS_1
Lain lagi dengan Zul yang hanya bisa mengumpati mereka dalam hati saja. Karena ia mengira akan bertemu malaikat pencabut nyawa, padahal ia belum bertobat dan meminta maaf pada Emaknya, karena ia merasa sudah menjadi anak durhaka selama ini.