Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Dukun Agung


__ADS_3

“Cih, kusumpahi kalian mati digigit nyamuk malaria!”


Zul mengutuk mereka dalam hati dan hanya pasrah saja ketika di jinjing oleh Malin menuju persinggahan Suku Rimba.


“Apa kau, hah!” Jarjit membentak Zul karena menatap tajam padanya. “Mau kupecahkan kepala kau itu!” ancamnya lagi.


Zul mengerutkan keningnya dan segera menundukkan wajahnya. Dia tak ingin bogem mentah mendarat di wajahnya, karena para Pemuda Suku Rimba ini tidak mengenal belas kasihan pada yang lemah.


“Sudah-sudah, jangan begitulah. Apa kalian tak kasihan kalian padanya,” sela Malin melindungi Zul dari perundungan rekan-rekan satu sukunya itu.


“Tak asik kau Malin! Mentang-mentang akan dimasakkan makanan enak oleh Beleza, langsung saja kau cari muka macam antek-antek Politikus yang rela menjadi kaki tangan mereka saja kau!”


Jarjit mendengus dingin tak senang dengan sikap Malin yang malah menjadi bodyguard untuk Zul.

__ADS_1


“Sudahlah jangan kalian bertengkar gara-gara anak setan itu. Toh, sebentar lagi dia akan dijadikan persembahan untuk penunggu hutan.” Udin melerai keributan kecil tersebut.


Semuanya menurut dengan apa yang dikatakan oleh Udin karena ia adalah Ketua Karang Taruna Suku Rimba. Tentu ranting komando itu adalah yang tertinggi di belantara pegunungan Bukit Barisan.


“Nasib-nasib! begini amat dah, nasibku. Sungguh ter-la-lu,” gumam Zul meratapi nasibnya.


Seperti bak kata pepatah, penyesalan selalu datang terakhir. Begitu jua yang dirasakan Zul. Sebuah layar Virtual masa lalunya muncul dibenaknya, mulai dari membangkang pada Emak. Menambah hutang sang Ayah di kedai kopi Oppung Sirait. Sudahlah, sungguh beban keluarga.


Kepala Suku, Dukun Agung, para anggota Suku Rimba duduk bersila membentuk lingkaran. Dengan Beleza dan orang tuanya berdiri ditengah-tengahnya. Karena sebentar lagi akan dilakukan sidang penentuan nasib Pemuda yang dibawa oleh Beleza—walaupun sebenarnya Kepala Suku dan Pitung telah membuat kesepakatan lebih dulu—yakni akan menikahkan Zul dengan Beleza. Namun, itu hanya keputusan sepihak saja, sementara dipihak Zul belum tentu mau mempersunting Beleza dan bila kesepakatan ini gagal terlaksana, maka keputusan akhirnya adalah kembali ke rencana awal; Zul akan dijadikan persembahan untuk penunggu hutan.


“Mereka datang!”


Seorang anggota Suku Rimba yang berjaga di pucuk pohon tertinggi di dekat pondok persinggahan Suku Rimba berteriak keras agar anggota Suku yang ada dibawah segera bersiap-siap menyambut kedatangan Udin dan kawan-kawan.

__ADS_1


“Terimakasih Penunggu Hutan. Kau telah mengabulkan permohonan diriku yang lemah gemulai ini, babang tampanku akhirnya kembali ke pangkuanku,” gumam Beleza tersenyum bahagia melihat Zul yang datang dalam keadaan hidup, walaupun tubuhnya dipenuhi lumpur.


Wanita tua berambut putih dengan tubuh bungkuk ditopang sebuah tongkat berjalan menghampiri Zul. Beliau adalah Dukun Sakti yang telah menjaga Suku Rimba dari gangguan supranatural sepanjang hidupnya. Sudah tak terhitung jumlahnya anggota Suku Rimba yang ia tolong dari gangguan Kuntilanak, Nenek Gayung atau Suster ngesot yang mengganggu petugas jaga malam Suku Rimba.


Mulut Dukun Agung komat-kamit merapalkan mantera sembari mengunyah beberapa lembar daun sirih. Cuaca tiba-tiba berubah menjadi berawan yang disertai sambaran Petir, karena saat ini di Sumatera sedang memasuki musim Pancaroba di mana paginya cuaca sangat cerah dan sorenya akan hujan disertai sambaran petir yang menggelegar. Namun, bagi para Suku Rimba ini adalah pertanda alam tidak menerima kedatangan Pemuda asing ini.


“Ambilkan air yang sudah direndam dengan air bunga kembang tujuh rupa!” Perintah Dukun Agung pada asisten pribadinya, yang juga merangkap sebagai penerus tahta Dukun Agung selanjutnya dan cucunya satu-satunya.


Sang cucu yang bernama Ayoyo itu lari tergopoh-gopoh menuju pondok milik sang Nenek, mengambil nampan yang telah berisi air bunga kembang tujuh rupa itu.


Usia Ayoyo baru Sepuluh tahun, ia yatim-piatu karena kedua orangtuanya tertimbun longsoran tanah beberapa tahun lalu. Untung saja ia selamat dan setelah itu Nenek Ayiyo yang merawatnya dengan sepenuh hati.


Dengan langkah tegap bak robot mungil—Ayoyo berjalan ke arah Dukun Agung dan meletakkan nampan itu di depan Neneknya. “Tugas telah selesai dilaksanakan,” katanya dengan semangat berapi-api.

__ADS_1


__ADS_2