
Beleza bahkan bergumam, apakah kaca itu sedang rusak atau ia berhalusinasi. Namun, Zul tampak sangat senang melihatnya dan berpikir wajah cantik di kaca spion mobil itu adalah Beleza Vine Roots Andalas, kecantikan nomor satu seantero pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari ujung Aceh hingga ujung provinsi Lampung tersebut.
“Baiklah ayo kita ke Pondok dan perlihatkan pada wanita Suku Rimba kecantikanmu ini agar mereka cemburu melihatnya,” sahut Zul membuyarkan keterkejutan Beleza pada dirinya sendiri.
Beleza mengangguk pelan dan tak henti-hentinya tersenyum ketika berjalan menuju Pondok. Dia sangat bersyukur sekali bertemu dengan Zul yang merubah hidupnya lebih berwarna.
...***...
“Kalian wangi sekali!”
“Beleza jauh lebih cantik sekarang!”
“Wah, Bang Zul ganteng sekaliiiiii!”
“Bisa diubah lagi tidak, undang-undang adat Suku Rimba? Aku mau menjadi istri kedua Bang Zul.”
__ADS_1
“Aku ketiga!”
“Aku keempat!”
“Aku kelima!”
Udin yang tengah sarapan pagi itu, dibuat dongkol mendengar suara gadis-gadis labil Suku Rimba itu, bahkan Nerida juga ikut-ikutan berteriak histeris seperti melihat artis idola saja.
Udin juga tak menyangka Nerida mengatakan mau menjadi selir harem Zul tepat di depan batang hidungnya. Sedih hati Udin mendengarnya, ternyata good looking dapat mengalahkan good boy seperti Udin.
“Wah, Bang Udin pintar sekali,” sahut Nerida sembari mengacungkan jempol dan mengedipkan sebelah matanya—sehingga Sampuraga yang duduk di sebelah Udin merasa sikap keduanya tampak spesial, tidak seperti teman biasanya saja. Jangan-jangan teman tapi mesra dan lama-lama jadi gandengan tangan terus ke pelaminan.
“Oh, nooooooooo!” Sampuraga berteriak dalam hatinya—tak ingin apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
Namun, dari gelagat Nerida—tampak cukup jelas ia sangat menyukai Udin dan ia hanya sulit membaca sikap Udin saja yang jelas seperti sudah merelakan Beleza bersama dengan Zul.
__ADS_1
Nerida melebarkan sudut bibirnya agar terlihat sangat ramah dan mendekati Beleza dengan langkah tegap bak robot.
“Eza sahabatku... aku mewakili ikatan gadis-gadis Suku Rimba ingin mengetahui caranya agar kami bisa secantik dirimu dan wangi, plissss... aku akan melakukan apa saja agar kau memberikan petunjuknya, bahkan aku rela menggantikanmu menjadi istri Bang Zul!” kata Nerida yang membuat Udin batuk-batuk dan segera berlari ke sungai kecil di dekat Pondok Persinggahan, menenggak air sungai.
Nerida mengabaikan Udin dan ia memasang ekspresi wajah sok imut—padahal wajahnya mirip dengan sosok Mak Lampir.
“Ah, itu berkat suamiku. Dia menyuruhku telanjang... kemudian menarik tanganku... kemudian ....”
Gadis-gadis Suku Rimba langsung membayangkan dua monyet jantan dan betina yang sering bergulat di Pohon beringin dekat Pondok Persinggahan. Namun, anehnya dua hari yang lalu, mereka berhenti bergulat karena tiba-tiba saja monyet betinanya melahirkan bayi yang lucu sekali.
“Bang Zul menggosok secara perlahan-lahan dengan lembut, aku sampai mendesahh keenakan!”
Gadis-gadis Suku Rimba menelan air ludah mereka dengan wajah memerah, sehingga Zul tersenyum masam.
“Hei, bodohhhhhh!” Zul menjitak kening Beleza. “Kau membuat mereka berpikiran aneh-aneh tahu,” gerutunya.
__ADS_1
Jangankan gadis-gadis Suku Rimba, Malin, Udin dan Sampuraga pun ikut-ikutan menghayal jauh ke samudera Pasifik dan tiba-tiba pikirannya mereka meletup seperti gunung berapi. “Ah, aku ingin menikah juga!” gumam mereka dengan senyum nakal.