
Kepala Suku bingung, ke mana perginya Udin. Seharusnya ia ada di sini mengawasi jalannya pesta pernikahannya Beleza dengan Zul karena dia adalah Ketua Karang Taruna Pemuda Suku Rimba.
“Sampuraga!” seru Kepala Suku.
“Iya Kepala Suku,” sahut Sampuraga bertekuk lutut di hadapan Kepala Suku dan menundukkan wajahnya untuk menunjukkan rasa hormat.
“Di mana Udin? Kalian harus segera membuat Pondok untuk pengantin baru ini. Nanti, mereka tak bisa pula melakukan ritual pengantin baru,” kata Kepala Suku dengan senyum cerah.
“Ha-ha-ha iya, ya. Kulihat Beleza sudah tak sabar tuh,” sahut Sampuraga ikut tertawa. “Tapi aku tak tahu ke mana Udin pergi?” Dia curiga Udin sedang patah hati melihat wanita idamannya malah bersanding dengan Pria lain.
“Ke mana lah anak itu? Jelas-jelas dia adalah ketua Karang Taruna Suku Rimba, malah mangkir pula disaat acara penting begini,” gerutu Kepala Suku. Biasanya Udin paling semangat jika ada acara adat begini. “Apa jangan-jangan Udin sedang patah hati sekarang. Yang kulihat sepertinya ia menyukai Beleza?” Kepala Suku berspekulasi.
Sampuraga segera berlari ke dalam Hutan, ia takut sahabatnya itu melakukan tindakan ceroboh, seperti bunuh diri atau meninggalkan Suku Rimba.
...***...
__ADS_1
Udin tak menyangka ternyata Nerida menyukainya dan hanya berpura-pura saja menyukai Jarjit. Detak jantung Udin berpacu tak karuan, dipandanginya lah Nerida tanpa berkedip sedikitpun.
“Nerida ternyata sangat cantik juga kutengok... apa selama ini mataku katarak ya? Sehingga gadis secantik dia bisa luput dari pandanganku,” bergumam lah Udin dan menjadi dilema pilih dia atau Beleza yang kini sudah menjadi bini orang lain.
Namun, bila ia menerima ungkapan perasaan dari Nerida maka ia akan membuat Sampuraga patah hati—karena Sampuraga terang-terangan mengatakan membantu Udin agar dia bisa dicomblangin dengan Nerida.
Akan tetapi, seperti kata pepatah sebelum janur kuning melengkung dia masih bisa menyalip dari belakang seperti Valentino Rossi dan bodo amat sama namanya pertemanan karena urusan hati itu nomor satu.
Nerida melihat Udin tampak melamun dan berpikir Udin memang tak menyukainya sehingga ia tertunduk lesu. “Jadi, Abang tak suka sama Nerida, ya?” Butiran air mata membasahi wajahnya dan ia segera berbalik badan.
Nerida pun berhenti dan menyeka air matanya agar tidak terlihat lemah di mata Udin. “Hmm ....” Dia berbalik badan menatap Udin.
“Aku juga mencintaimu. Tapi bisakah kita berpura-pura tak saling menyukai dulu karena Sampuraga juga menyukaimu. Dia bahkan membantuku membuat pelarian untuk Zul, asalkan aku bisa membantunya mendekatimu!” Udin berkata jujur, tetapi Nerida tetap senang mendengarnya karena Udin juga menyukainya.
“Terus apa yang harus kulakukan, Bang Udin?” tanya Nerida.
__ADS_1
Udin berpikir sejenak dan berkata, “Kita tunggu dia mengungkapkan cinta padamu. Kemudian kau tolak. Sementara aku akan tetap membantu pelarian Zul, akan tetapi aku tak yakin itu akan berhasil karena ... tahu lah ada ayahnya Beleza yang hebat dalam mendeteksi keberadaan musuh, maka mudah saja baginya mengejar Zul bila anak setan itu kabur!”
“Baiklah," jawab Nerida yang sebenarnya tak peduli dengan rencana Udin. “Kalau begitu ayo kembali ke Pondok Persinggahan!” ajak Nerida dan Udin mengangguk pelan.
Namun, tiba-tiba Sampuraga muncul di depan mereka, sehingga Udin dan Nerida terkejut melihatnya.
“Eh, kok Nerida ada di sini?” Sampuraga bertanya keheranan.
Detak jantung Udin berdegup tak karuan—takut Nerida akan memberitahu hubungan mereka yang sebenarnya.
“A-aku tadi diam-diam mengikuti abang Udin. Kulihat ia sangat terpukul dengan pernikahan Beleza. Jadi aku menghiburnya,” jawab Nerida ragu-ragu.
“Oo, begitu toh. Aku hampir berpikiran aneh-aneh ha-ha-ha ....” Sampuraga tertawa—ia merasa lega, ternyata mereka tidak sedang bermesraan. Kemudian berkata lagi, “Din... Kau dicari Kepala Suku untuk membuat Pondok. Tahulah, sebentar lagi Beleza akan melakukan ritual malam pengantin ha-ha-ha ....”
“Ah, sialan!” Udin berpura-pura marah. “Nasib-nasib! Dia yang enak-enakan. Eh, malah kita yang dapat capeknya,” gerutunya sembari mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Nerida segera mengikuti Udin dari belakang sedangkan Sampuraga langsung berjalan disamping Nerida sambil senyum-senyum menatapnya karena senang wanita pujaan hatinya kini bersamanya. Namun, ia masih bingung mau berkata apa pada wanita yang sangat disukainya itu. Seakan-akan otaknya jadi kosong saja.