
Hati udin retak melihat wanita idamannya malah dipersunting oleh Pria asing itu. Dia menengadah menatap langit agar air matanya tidak tumpah membasahi pipinya.
Kenyataan ini sungguh kejam. Kejadian ini di luar dugaannya—sehingga ia memilih mundur pelan-pelan ke belakang para Pemuda Suku Rimba yang sedang merayakan pernikahan Beleza dengan Zul.
Udin kemudian berlari ke dalam hutan sembari menangis tersedu-sedu sambil meninju pohon durian di depannya. Tangannya lansung mengeluarkan darah segar, tetapi ia tak peduli akan hal itu.
“Kenapaaaaaaaa?”
“Kenapa harus dia?”
“Apakah aku kurang baik atau kurang tampan?”
Udin berteriak histeris meluapkan amarahnya.
“Kenapa kau tega Beleza melakukan hal menyakitkan ini,” katanya lagi.
Di balik pohon yang berjarak dua puluh meter dari Udin, Nerida sangat sedih melihat Udin begitu menderita karena ditinggal nikah oleh sahabatnya, Beleza. Dia ingin memeluk Udin dan menghiburnya agar tidak bersedih lagi.
Namun, kakinya sungguh berat untuk di langkahkan, padahal sebenarnya ia sangat menyukai Udin sejak dulu, tetapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena Udin sangat mencintai Beleza.
“Krekkkkk!”
__ADS_1
Nerida tak sengaja menginjak ranting pohon yang sudah lapuk saat hendak kembali ke Persinggahan Suku Rimba.
“Siapa di sana?”
Udin cepat-cepat menyeka air matanya karena curiga Sampuraga mengikutinya sejak tadi dan telah melihatnya menangis.
“Bang Udin ....”
Dengan seulas senyum Nerida muncul dari balik pohon, ia tampak gugup sembari menggaruk-garuk rambut keritingnya yang tak pernah di sisir tersebut.
“Ne-nerida?” Udin terkejut melihatnya. “Kau pasti sudah melihat semuanya, kan?” Udin sangat malu.
Nerida menganggukkan pelan dan memberanikan diri melangkahkan kaki dengan langkah tegap bak robot—karena setiap langkah kakinya sejajar dengan ayunan tangannya mendekat ke arah Udin.
“Umm... anu... sebenarnya aku menyukaimu Bang Udin dan aku hanya berpura-pura saja menyukai Jarjit karena tahu Abang menyukai Beleza,” kata Nerida dalam satu tarikan nafas dengan nada tinggi melengking yang membuat burung-burung di pepohonan beterbangan karena mengira diusir olehnya.
Udin terkejut mendengarnya, matanya menatap Nerida tanpa berkedip dan segera mengusapnya; apakah ia sedang bermimpi atau berhalusinasi.
...***...
Zul dan Beleza duduk di kursi yang terbuat dari anyaman rotan. Satu persatu anggota Suku Rimba menyalami kedua pengantin baru itu, seraya mengucapkan selamat dan doa-doa yang baik-baik untuk mereka.
__ADS_1
Zul hanya senyum-senyum saja—ia merasa kejadian ini seperti mimpi saja dan Beleza pun merangkul tangan Zul kemudian menyandarkan kepalanya di bahunya.
Walaupun pernikahan ini tampak sederhana, tetapi perayaannya sangat meriah. Semua orang terlihat bahagia, mungkin Zul saja yang pikirannya berkelana ke mana-mana.
“Apalagi yang kalian tunggu, cepat panggang babinya dan bawakan arak yang banyak ha-ha-ha!” seru Kepala Suku Rimba.
“Baik Kepala Suku!” sahut Malin segera menuju gudang makanan mengambil babi bertubuh besar hasil buruan mereka kemarin.
Pitung mendekati Zul yang memaksakan diri tersenyum di hadapan mertuanya itu. “Ayo minum tuak(arak) ini anak muda hehehe... agar malam pertama kalian tongkat saktimu onfire sampai pagi!”
Pitung tertawa terkekeh-kekeh setelah mengatakannya, tetapi sorotan mata Beleza sangat tajam tertuju padanya—karena ia tak ingin ayahnya merecoki suaminya dengan ajaran sesatnya.
Zul ragu-ragu menatap gelas berisi arak di tangannya, apakah ia akan meminumnya atau tidak. Karena selama hidupnya ia tak pernah meminum arak—walaupun saat masih STM dulu, ia adalah Ketua Preman di sekolahnya—begitu juga saat menjadi Preman kampung.
“Buang saja itu babang tampanku!” seru Beleza menepis gelas berisi arak tersebut hingga tertumpah.
“Aaaaaaaa! Kenapa kalian menyia-nyiakan minuman paling mewah di seantero Bukit Barisan ini!” Pitung sangat menyesalkan tindakan Putri semata wayangnya.
“Ayoyo ambilkan Madu untukku dan babang tampanku!” seru Beleza pada gadis kecil yang duduk di dekatnya itu dan mengabaikan ocehan ayahnya.
“Siap dilaksanakan, Kak Eza!” sahut Ayoyo sambil mengambil dua gelas berisi Madu dengan tangan mungilnya itu.
__ADS_1
Dengan cemberut Pitung segera menjauh dari sana, sedangkan Zul hanya tersenyum masam tanpa mengatakan sepatah katapun—karena takut kata yang keluar dari mulutnya justru akan menjadi bumerang untuknya.