Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Sandiwara Udin dan Sampuraga


__ADS_3

Namun, Udin dan Sampuraga bingung, kenapa para Pemuda Suku Rimba pada mengerutkan kening—macam tak percaya saja dengan ucapan mereka.


Udin menatap Sampuraga, ia menganggukkan kepala sedikit—mengatakan pesan tersirat bahwa yang ada salah dengan akting mereka.


Akan tetapi Sampuraga mengedipkan mata beberapa kali dan menggeleng ke kiri dan kanan menjawab kode-kodean dari Udin.


Udin mengangkat bahunya, yang berarti bahwa sepertinya akting mereka belum sempurna untuk meyakinkan para Pemuda Suku Rimba.


“Eh?”


Mengerut-kerut kening Udin saat melihat Beleza datang bersama Zul yang tersenyum lebar menatapnya yang bertelanjangng dada. Dia sangat malu dan marah, sudah lelah dan gelisah dirinya—bahkan rela merusak baju barunya. Eh, tiba-tiba orang yang dibantuin malah muncul di hadapannya.


Digenggamnya lah gagang goloknya. “ini tak bisa dibiarkan,” pikir Udin. “Cara main Zul sungguh telah melampaui batas, kepalanya harus ditebas.”

__ADS_1


Melihat sorotan mata tajam Udin, Zul segera mundur selengkapnya dan berkah, “Maafkan Aku Din, tadi aku nyasar di hutan dan malah sampai duluan ke sini!”


Zul berkilah untuk menenangkan hati Udin yang masih menggenggam erat gagang goloknya dan menatap tajam ke arah Zul yang bersembunyi di punggung Beleza.


Sampuraga berdiri tegak dan menyeka debu yang menempel pada pakaiannya, kemudian ia menarik tangan Udin agar tidak bertindak impulsif dan membuat Beleza makin membenci mereka.


“Oh, syukurlah kamu baik-baik saja!” sahut Sampuraga dengan tatapan sinis. “Bubar kalian, kupatahkan pula leher kalian itu. Kami hanya bergurau saja, jangan kalian anggap tadi itu serius. Camkan itu!” Dia membawa Udin pergi.


Beleza bingung melihat sikap dua sahabatnya itu dan menatap Zul, seperti ingin menanyakan kenapa Udin dan Sampuraga sangat marah saat melihatnya.


“Oh, ternyata begitu. Aku akan berbicara dengan Bang Udin, jadi Abang kembalilah lebih dulu ke Pondok!” sahut Beleza tak ingin suaminya itu malah bermusuhan dengan Udin dan sahabatnya yang lain.


Zul menganggukkan kepala dan berjalan ke Pondok dengan ekspresi wajah lesu. Dia telah memutuskan kembali ke sini untuk menjalani hidup bersama dengan Beleza, padahal ia sudah memiliki kesempatan untuk kabur.

__ADS_1


Zul menghela nafas dalam-dalam, berpikir apakah keputusan yang ia ambil sudah tepat atau tidak. Padahal ia sebenarnya masih rindu dengan omelan emaknya setiap pagi dan berkumpul dengan teman-temannya di kedai Oppung Sirait.


...***...


“Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian Bang Udin? Kenapa kamu sangat marah pada Bang Zul?” selidik Beleza sembari duduk di sebelah Udin yang sedang duduk di atas Batu gunung dengan ekspresi wajah kesal.


Malin yang sedang makan di dekat mereka berkata, “Sebenarnya Udin dan Sampuraga menyuruh Zul kabur dengan mengikuti Anjing Pemburu kita, kan?”


Udin dan Sampuraga terkejut mendengarnya, dan mereka mengedipkan mata agar Malin diam saja daripada menyalakan api permasalahan yang lebih rumit nantinya.


“Betulkah?” sahut Beleza dengan kening mengkerut-kerut. “Lantas kenapa Bang Zul kembali lagi?” Dia tak percaya dengan ucapan Malin.


“Betul tuh, jangan mengada-ada kau Malin! Berbisa kali mulutmu itu, apa kau ingin Eza membenci Zul?” sela Udin berkilah agar Beleza tak bertanya lebih jauh padanya.

__ADS_1


“Betul itu, jangan begitulah Malin, kita ini sudah bersahabat sejak kecil. Mana mungkin kami melakukan hal tercela begitu!” sahut Sampuraga sembari tersenyum masam.


Beleza terharu mendengar ucapan Udin dan Sampuraga, ia tak menyangka kedua sahabatnya itu sebenarnya sangat menjaga Zul agar tidak kenapa-kenapa saat berburu tadi.


__ADS_2