Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Udin Galau


__ADS_3

Setelah satu jam menuruni pegunungan Bukit Barisan, tiba-tiba Zul teringat dengan Beleza. Senyum cerahnya, tingkahnya yang konyol membuat Zul senyum-senyum sendiri dan berhenti melangkah.


Zul menoleh kebelakang dan menatap puncak bukit, kemudian ia menghela nafas panjang dan berpikir apakah keputusan yang ia ambil sudah tepat.


...***...


Tidur-tiduran di dahan Pohon, menunggu petang datang—barulah mereka akan pulang dan melamun membayangkan reaksi Beleza nanti saat mengetahui kalau babang tampannya telah kabur meninggalkan dirinya.


Sampuraga asyik memakan Babi panggang, ia tidak terlalu memikirkan apa reaksi Beleza nanti, karena ia yakin Udin akan menggantikan posisi Zul dengan baik dan ia akan menikahi Nerida serta membayangkan gadis pujaan hatinya itu akan bersikap manja padanya—seperti yang dilakukan Beleza pada Zul.


“Sampuraga... apakah Eza nanti akan membenci kita karena membiarkan Zul kabur?” tanya Udin masih ragu-ragu dengan keputusan yang mereka buat.

__ADS_1


Sampuraga berhenti mengunyah daging babi panggangnya dan melempar paha babi ke dahan pohon—sehingga Udin jatuh tersungkur ke tanah.


“Hei, kampret! Apa-apaan kau ini!” gerutu Udin kesal dengan ulah Sampuraga.


“Kan, sudah kita sepakati kalau dia menghilang setelah kita disergap kawanan Harimau Sumatera. Jadi, jangan gundah gulana kau lagi, Din. Pusing kepalaku menengok tingkah kau itu, mendingan bantu aku menghabiskan Babi panggang ini!” sahut Sampuraga acuh tak acuh, kemudian Udin menebas kepala Babi Panggang itu dan mengambil isi otaknya, memakannya dengan lahap. “Alamak, macam tak makan setahun aja kau ini ha-ha-ha ....”


Udin tak menyahut ledekan Sampuraga dan mengisi perutnya hingga kenyang, kemudian memanjat Pohon lagi. Tidur di dahannya hingga menjelang malam.


...***...


Sampuraga mengedipkan mata pada Udin untuk memulai akting mereka. Dia berguling-guling di tanah, meraung-raung tangisannya bak kehilangan barang berharganya saja.

__ADS_1


Mengkerut kening Udin menengok akting kawannya itu, macam drama Bollywood saja. Oppa-oppa Korea saja tak macam itu menangisnya, sehingga Udin berpikir ia juga harus meniru akting Sampuraga.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” teriak Udin sehingga burung hantu yang hinggap di Pohon beringin sebelah Pondok Persinggahan langsung terbang terbirit-birit.


Dicabik-cabiknya lah baju yang terbuat dari kulit Harimau Sumatera yang ia kenakan, padahal baju itu adalah jatah tahun ini—karena setiap anggota Suku Rimba hanya mendapat satu setelan pakaian saja setiap tahunnya—akibat berkurangnya populasi Harimau Sumatera dan Beruang karena makin massifnya pembalakan liar oleh oknum yang kalau dihitung satu-satunya, capek lah ngumpulinnya.


Dalam hati, Udin berkata rela menghancurkan baju baru itu demi menyelamatkan sahabatnya Beleza agar tidak bergaul lagi dengan orang dari lembah terkutuk, serta menunjukkan pesan tersirat; lihatlah Eza kami rela melakukan apa saja agar kau bahagia.


“Zul... malang nian nasibmu, entah di mana kau sekarang—dengan siapa dan berbuat apa?” Udin berkata sembari menangis tersedu-sedu. “Hu-hu-hu... Kami, disergap Harimau dan lari terbirit-birit, kemudian saat Aku dan Sampuraga bertemu lagi—kami tak menemukan Zul lagi, Oh, Zul maafkan aku yang lemah ini.”


“Alamak, paten kali bah akting si Udin ini. Tak perlu lah aku lagi menambahkan sedikit bumbu melankolis agar terlihat dramatis!” Diam-diam Sampuraga mengacungkan jempol dan mengedipkan mata Udin.

__ADS_1


“He-he-he... Kau kira aku selalu polos macam CEO dingin dan tampan, sesekali bolehlah gagah dan tampan macam Bang Regar,” gumam Zul tertawa dalam hatinya seperti tokoh antagonis sinetron ikan terbang.


__ADS_2