Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Keputusan Beleza


__ADS_3

“Beleza! Kenapa kau mengikuti kami? Tempat ini sangat berbahaya bagimu, apa kamu tidak takut laki-laki itu akan menyandera dirimu atau menyakitimu?”


Udin terkejut saat menoleh kebelakang dan ternyata Beleza mengikuti mereka.


“Bang Udin, tolonglah dia dan jangan sakiti dia. Ini salah Beleza yang dengan egois membawanya kemari hu-hu-hu ....” Ia terus menangis.


Meleleh lah hati Udin dan tak tega melihat wanita yang diimpikannya akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak itu bersedih. Namun, kenyataan malah tak selamanya seindah mimpi, ternyata wanita tercantik di seantero Bukit Barisan tersebut malah mencintai Pria lain yang datang dari antah-berantah.


“Kamu tenang saja! Abang akan berusaha untuk tidak menyakiti Setan, eh ... orang asing itu. Kau kembalilah ke pondok dan menunggu kabar dariku,” kata Udin menenangkan hati Beleza. “Abang berjanji atas nama alam dan penunggu hutan!” katanya lagi membuat sumpah sakral yang tidak akan pernah dilanggar oleh para Suku Rimba bila mengucapkan sumpah seperti ini.


“Abang Udin ... kamu sangat baik sekali pada Beleza!”


Bergejolak hati Beleza mendengar ucapan Udin, sehingga ia berpikir apakah telah terlalu egois pada Udin?


Sungguh ... Udin adalah laki-laki yang paling baik setelah ayahnya. Namun, hubungan mereka hanya sebatas sahabat saja dan Beleza tak pernah melirik isi hatinya selama ini.


“Bang Udin memang pantas kuanggap sebagai Abang kandungku sendiri, kau selalu ada disaat-saat Beleza butuhkan.”


Bak disambar petir, pedih nian hati Udin mendengarnya. Tak ada kosa-kata lagi yang perlu diucapkan. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Untung saja ia membelakangi Beleza yang senyum sumringah di belakangnya karena diperlakukan dengan baik olehnya.


Udin langsung berlari mengejar Malin yang telah jauh meninggalkan dirinya. Dia tak mau lama-lama didekat Beleza, karena yang ada dia makin patah hati saja mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Beleza.

__ADS_1


“Bang Udin hati-hati, nanti abang kesandung!” seru Beleza.


“I-iya!” jawabnya dengan suara bergetar.


Tak lama berselang punggung Udin pun menghilang di rerimbunan hutan Bukit Barisan dan Beleza pun segera kembali ke pondok persinggahan sementara Suku Rimba.


...***...


Beleza keheranan melihat Ayah dan Emaknya tengah menunggunya dengan raut wajah cemas. Dia menundukkan wajahnya—takut emaknya marah-marah lagi. Namun, ia keheranan karena tak ada suara yang memekakkan telinga atau gagang sapu yang melayang ke bokongnya.


“Ehem ....” Nucifera berdehem dan menahan amarahnya, walaupun sebenarnya tangannya sudah gatal untuk menghukum anak gadisnya itu agar tidak nakal lagi. “Cantik Emak, sini Nak!” katanya dengan suara lembut dan senyum hangat, walaupun sebenarnya itu hanyalah topeng saja.


“Coba kau bilang sama emak. Kenapa kau bawa kemari anak setan ... eh, Pemuda itu?” Nucifera bertanya dengan senyum hangat.


“Katakan saja, Nak. Ayah akan mendukung apapun keputusanmu,” sahut Pitung.


“Ayah—”


Nucifera ingin protes, tetapi Pitung memelototinya. Sehingga mengkerut lah wajahnya dan hanya bisa mendengus kesal.


“Umm ... anooo ... Beleza ingin menikahinya, Yah,” jawabnya dengan ragu-ragu dan segera memejamkan matanya karena menduga kedua orang tuanya pasti sangat marah mendengar keputusan yang ia ambil.

__ADS_1


“Apaaaaaa?”


Bak disambar petir, Emaknya tak menyangka ternyata anak gadisnya memang benar-benar menyukai Pemuda dari luar Suku Rimba itu.


“Pikirkan lagi, Nak! Apa kau serius dengan ucapan dikau itu? Kau tak sedang kesurupan atau diguna-guna, kan?” Nucifera menjadi gelisah.


“Betul Mak, Beleza jatuh cinta saat pandangan pertama. Jantungku berdegup kencang bak dikejar-kejar celeng saat melihat wajah tampannya. Ah, tak bisa dikata-kata lah, Mak. Cintaku padanya itu begitu bueeesaaaarrrrr!”


Beleza berkata dengan semangat menggebu-gebu, tangannya mengepal ke langit bak Kepala Suku yang sedang berpidato tentang pentingnya menjaga hutan agar tetap asri.


“Yah, betul kubilang. Anakmu ini lagi kesambet penunggu hutan. Segera panggil Dukun Agung! Beleza perlu diberikan mantera pengusir setan, nih!” seru Emaknya.


“Sudahlah kau diam dulu, mengoceh mulu kau dari tadi.”


Pitung kembali menyela perkataan istrinya. Kemudian ia mendekati Beleza dan berkata,


“Betulkah Nak, kau menyukai Pemuda itu?”


Beleza mengangguk. “Betul, Yah. Aku sangat mencintainya.”


Pitung menarik nafas dalam-dalam sembari menengadah menatap langit dan kedua tangannya ditaruh kebelakang. Dia seperti Pertapa Agung yang sedang menunggu pencerahan untuk membuat keputusan yang paling tepat untuk anak gadisnya itu, sedangkan Beleza dan Emaknya sangat penasaran dengan keputusan apa yang akan ia buat.

__ADS_1


__ADS_2