Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Pelarian Zulkarnain


__ADS_3

“Anak ini sudah berani melawan sekarang, ya!” gerutu Nucifera berkacak pinggang dan hendak mengejar Beleza.


“Hei-hei! Jangan begitulah pada anak sendiri. Dia itu sudah dewasa! Sudah pandai lah menilai mana yang baik dan buruk. Tak perlu semarah itu padanya.”


Pitung menarik tangan Nucifera—agar tidak mengejar Beleza ke hutan, karena anak gadisnya itu sedang menyusul para Pemuda Suku Rimba yang memburu Zul yang kabur dari tempat persinggahan mereka.


“Kau mau anak gadismu bergaul dengan anak setan itu? Aku sih tak sudi, cepat lepaskan aku!”


Nucifera berusaha meronta dari genggaman tangan Pitung. Namun, suaminya itu malah mengencangkan pegangannya, sehingga Nucifera tak bisa ke mana-mana karena tenaga Pitung jauh lebih kuat darinya.


“Kau ini!” Mengkerut lah wajah Pitung. “Komat-kamit saja muncungmu itu. Apa perlu kusumpal saja biar kau diam, sudah kubilang selesaikan dengan kepala dingin saja. Toh, buat apa coba mengoceh mulu tak ada ujungnya, bikin kuping panas saja!”

__ADS_1


Pitung meluapkan amarahnya, ia sudah tak tahan melihat istrinya marah-marah tak jelas begitu. Seolah-olah seperti dia saja yang Kepala Sukunya. Mentang-mentang kepala Suku Rimba sekarang ini adalah saudara laki-lakinya.


Nucifera pun terdiam, suaminya yang penurut itu tiba-tiba saja berubah menjadi galak. Tentu ia menjadi ketakutan, karena kata pepatah orang jahat itu terlahir dari orang baik yang tersakiti.


“Bang ... tak perlulah kau marah begitu. Apa yang akan kita lakukan pada anak gadis kita itu?”


Tiba-tiba suara Nucifera berubah menjadi pelan. Ia merangkul tangan suaminya itu untuk meredam amarahnya—sembari tersenyum cerah menggodanya. Perilakunya ajaib sekali, langsung berubah 360° ... macam bunglon saja.


“Cih, dasar iblis betina ini!” gumam Pitung berpikir sejenak. “Biarkan dulu Beleza menjelaskan kenapa ia ingin sekali menyelamatkan Pemuda itu. Kalau ternyata ia sangat menyukainya—maka nanti saja kita pikirkan tindakan apa yang akan kita jatuhkan padanya. Sekarang yang terpenting kita harus menangkap Pemuda itu dan menenangkan hati Beleza agar dia tidak sedih lagi!”


...***...

__ADS_1


“O Mak ‘e! Kenapa pula aku bisa terdampar ke tempat terkutuk ini?” gerutu Zul berlari kencang. Dibelakangnya puluhan anjing menggonggong mengikutinya. “Emakkkk! apa kau mengutukku begini.” Ia menangis tersedu-sedu.


Zul pun teringat saat emaknya mengutuk dirinya karena tidak mau bangun pagi dan menolong mereka menyadap Karet ke Kebun.


Dia malah tertarik dengan tawaran dari Bos Kayu ilegal logging—yang menjanjikan upah tinggi bila ia mau ikut mengangkut balok kayu dari puncak gunung. Namun, apa yang ia dapatkan malah malapetaka—yang membuat hidupnya diselimuti adrenalin seperti dalam film horor.


Tak jauh dari tempat Zul berlari, Beleza juga sedang menangis tersedu-sedu mengikuti Udin dan yang lainnya—yang berusaha menangkap babang tampannya tersebut.


Dia sangat kecewa pada Emak dan Ayahnya yang malah mendukung keputusan Kepala Suku untuk menjadikan tampannya itu sebagai persembahan untuk penunggu hutan. Padahal seharusnya mereka membela keputusannya dan membantu dirinya bernegosiasi dengan seluruh warga Suku Rimba untuk menjadikan Pemuda itu sebagai suaminya dan merevisi aturan adat yang melarang hubungan dengan Suku lain.


“Babang tampan hu-hu-hu ... ini salahku yang telah membawamu ke sini. Kamu akan dijadikan persembahan, maafkan aku Abang!”

__ADS_1


Beleza menyalahkan kebodohannya, padahal seharusnya ia tidak perlu membawa Zul ke tempat persinggahan Suku Rimba dan meningalkan dirinya di pinggir sungai saja, maka nasib Zul tidak akan seperti ini.


Penyesalan selalu datang terlambat, tinggal berharap pada keberuntungan saja lagi—mana tahu tiba-tiba seluruh penduduk Suku Rimba berubah pikiran dan membiarkan dirinya menikah dengan babang tampannya. Kalau impian seperti itu bisa terjadi maka dirinya akan menjadi wanita paling beruntung di seantero Bukit Barisan.


__ADS_2