Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Pangir


__ADS_3

Zul segera menuju tungku tempat memasak gadis-gadis Suku Rimba, dan meletakkan wajan yang terbuat dari tanah liat di atasnya.


“Nyalakan apinya, Eza!” seru Zul setelah beberapa kali ia menggesek dua batu agar mengeluarkan api, tetapi selalu saja gagal sehingga Beleza senyum-senyum melihatnya.


“Perhatikan baik-baik bang Zul,” kata Beleza sembari menggesek dua batu di tangannya dan diarahkan ke serbuk kayu bekas dari pembalakan liar.


Zul terkejut, Beleza hanya perlu melakukan satu kali saja dan apinya langsung menyala.


“Terus kita mau ngapain, Bang?” Beleza bingung, karena tugas memasak itu hanya dilakukan oleh gadis-gadis saja, sedangkan kalangan Pria hanya berburu dan menjaga keamanan.


“Kita mau buat ramuan yang akan membuatmu seperti bidadari yang turun dari pohon beringin he-he-he ....” Zul bercanda.

__ADS_1


Namun, Beleza sangat senang mendengarnya dan berpikir mungkin ia akan berubah seperti wanita cantik yang habis operasi plastik ke Korea Selatan.


Beleza memperhatikan Zul yang sedang mengisi air ke dalam wajan secukupnya dan memasukkan bahan-bahan Pangir tersebut, kemudian mengaduk-aduknya.


Beberapa saat kemudian tercium aroma wangi dari wajan itu, Zul kemudian menuangkannya ke dalam wadah lain dan mendinginkannya.


“Huh... lelahnya!” Zul menyeka keringat yang membasahi wajahnya. “Sayang... buatkan sarapan, dong....” Zul mengedipkan mata dan mencubit hidung Beleza.


Zul merasa Beleza sangat patuh padanya dan selalu mengerjakan apa yang ia minta tanpa ada keluhan sama sekali—apalagi disertai sedikit gombalan maka Beleza akan klepek-klepek bak kucing oren yang ingin meminta jatah ikan teri dengan menggoyang-goyang ekornya. Ini adalah cara paling lebih efektif menundukkan Beleza dari pada cara dukun yang katanya dapat membuat orang patuh hanya dengan jimat-jimat tak jelas menggunakan media paku, rambut dan kain kapan itu.


Dengan cekatan, Beleza membuatkan gulai ikan salai kembali seperti yang kemarin, sedangkan Zul duduk melamun memperhatikannya. Sesekali Zul memperhatikan area sekitarnya. Melihat sistem keamanan Suku Rimba, yang ternyata memiliki kelompok pengintai yang berjaga di atas pohon, penjagaan di sini sangat ketat sekali—seperti akan Perang antar Suku saja.

__ADS_1


Tak berselang lama pergantian shift terjadi, tim lain menggantikan mereka, yang berarti sistem komandonya berjalan dengan baik. Zul menarik nafas dalam-dalam, ternyata sangat sulit untuk kabur dari sini. Ia harus mencari celah keamanan mereka dan memanfaatkan momentum yang tepat untuk kabur.


“Tadaaaaaaa!” Beleza mengejutkan Zul yang sedang melamun—sehingga ia langsung melompat dan memasang kuda-kuda Silat.


“Eh, ternyata Eza toh... wah enak nih,” kata Zul langsung memakan gulai ikan itu. “Kau tak makan?” Ia melihat Beleza hanya senyum-senyum saja memandanginya.


Beleza menggelengkan kepala, masih dengan senyuman yang membuat detak jantung Zul berdegup tak karuan dan berpikir Beleza sebenarnya sangat cantik, akan tetapi ia jarang membersihkan diri serta tak ada kosmetik seperti yang dikenakan gadis-gadis di lembah Bukit Barisan.


“Buka mulutmu, biar Abang suapin!”


Zul mendengar suara nyanyian cacing dari perut Beleza, tetapi ia masih saja berpura-pura kenyang sehingga Zul teringat dengan emaknya. Saat Zul masih kecil, emaknya sering membawakan nasi kotak saat pulang dari hajatan dan memberikannya pada Zul—kemudian mengatakan dia masih kenyang, padahal saat Zul ke dapur Maknya malah makan dengan lauk tempe saja.

__ADS_1


__ADS_2