
Zul sebenarnya berpura-pura polos, karena sebagai laki-laki yang hidup di serba canggih sekarang—tentu ia tahu apa yang diinginkan oleh Beleza walaupun Zul belum pernah melakukannya, tapi bila ia memegang handphone maka sekali klik saja adegan adu mekanik pun akan muncul.
Sebagai pejantan tangguh, ia malah sangat tergoda oleh godaan Beleza yang membuat nafasnya terengah-engah karena harus menahan si kecil agar tidak bangun. Namun, Zul tahu, bila ia melakukannya sekarang maka akan ada rasa bersalah dalam hatinya jika ia berhasil kabur dari sini—karena Beleza akan mengandung benih unggul yang ia tanam.
“Babang tampanku ayolah,” bisik Beleza sudah tak sabar ingin bergulat dengan Zul. Namun, tak ada tanggapan dari babang tampaknya. “Hei, bang jangan tidur, dong?” Dia menggoyang-goyangkan tubuh Zul yang berpura-pura tidur.
“Ah, gadis ini agresif sekali, kayak kucing garong saja!” Zul menggerutu dalam hatinya.
Zul pun membuka matanya, ia bingung alasan apalagi yang paling tepat dan terukur—agar bisa menangkal keinginan Beleza yang sepertinya tengah berada di puncak Bukit Barisan.
“Eza sayang ....” Zul memiringkan tubuhnya dan menatap wajah Beleza, mengelus pipinya dengan lembut seperti dalam adegan sinetron—karena ia belum berpacaran atau menikah maka ia hanya bisa meniru adegan itu saja. “Abang capek, besok saja, ya!”
__ADS_1
“Tapi kata bibi Oong, biasanya laki-laki justru yang tak sabar ingin melakukan ehem-eheman. Eh, ini Abang yang malah lemah sah watt!” Beleza langsung murung dan cemberut.
Zul menghela nafas panjang, bingung mau memberikan alasan apalagi? Sepertinya keinginan Beleza untuk adu mekanik sudah tak terbendung lagi.
Beleza kemudian memeluk Zul dan mencium pipinya, Bininya itu tak mau lagi menunda-nunda. Namun, tiba-tiba sebuah alasan terbersit di pikiran Zul dan menyeringai menatap bininya yang sangat agresif itu, bahkan Zul dibuat sulit bergerak.
“Ayang bebeb ... bukannya Abang tak mau, tapi aroma tubuhmu ....” Zul menutup hidungnya dan berpura-pura akan muntah. “Kapan terakhir kali kau mandi, kalau begini anak kita nanti akan lahir seperti monyet!” Karena orang-orang Suku Rimba sangat percaya hal berbau mistis—makanya ia menggunakan itu sebagai senjata mengelabui Beleza.
“Ummm... kapan Eza mandi terakhir kali, ya? Mungkin... ketika kehujanan tahun lalu!” Beleza berkata jujur.
Mengkerut kening Zul mendengarnya, padahal ia sendiri tak mandi dia hari—maka emaknya di rumah akan mengoceh yang membuat orang satu kampung mendapatkan informasi gratis tentang tabiat buruknya.
__ADS_1
“Kau tak mandi-mandi? Sungguh ter-la-lu ....” Zul menggeleng kepala saking terkejutnya.
“Mau bagaimana lagi, sudah tradisi kami jarang mandi,” sahut Beleza tersenyum masam mendapatkan cibiran dari suaminya itu. “Baiklah, Eza akan mandi sekarang!”
“Sudahlah kita tidur saja. Besok Abang akan bantu kamu membersihkan tubuhmu di sungai,” sela Zul sembari memperhatikan wajah Beleza. Kemudian ia berkata lagi, “Sebenarnya kamu itu cantik, cuma tak pandai berhias saja.” Zul memujinya agar Beleza tak sedih.
“Betulkah?” sahut Beleza tersenyum cerah.
“Aku tidur duluan, ya.” Zul segera memunggungi Beleza lagi, tetapi Beleza malah melarangnya.
“Kalau Abang mau tidur; tidur saja. Namun, tak boleh membalikkan badan. Eza mau memandangi wajah Abang lebih lama lagi, agar terbawa mimpi nantinya!” bisiknya.
__ADS_1