
Beleza membawa Zul menemui Udin, karena tak mungkin suaminya itu menganggur atau berleha-leha di Pondok, sementara Pemuda Suku Rimba lainnya bekerja banting tulang mengumpulkan makanan—yang ada nanti terjadi kecemburuan sosial yang membuat Zul terkena sidang adat sekali lagi—padahal ia sudah jera saat nyawanya di prank Malaikat maut.
Udin dan Sampuraga akhir-akhir ini selalu bersama bahkan saat pergi berburu pun mereka selalu dalam kelompok yang sama. Kini pun keduanya sedang mengasah Tombak serta Golok sebelum memulai aktivitas yang berulang-ulang setiap hari. Ya... namanya juga demi mengisi perut agar tidak lapar, rutinitas itu mereka nyaman-nyaman kan sajalah.
Sampuraga tersenyum lebar melihat Beleza dan Zul mendekati mereka.
“Wah-wah pengantin baru datang kemari, tumben banget nih? Kalian tidak sedang kesurupan, kan? Biasanya pengantin baru itu Pondok-nya masih bergetar hebat hingga matahari agak meninggi,” canda Sampuraga.
Udin pun melirik ke arah pasangan pengantin baru itu dan menebar senyum tipis saja sebagai tanda sapaan, kemudian ia melanjutkan pekerjaan yang sedang mengasah Tombaknya.
__ADS_1
“Bang Udin! Titip suamiku, ya!” kata Beleza sembari mengabaikan candaan Sampuraga. “Aku hanya bisa mempercayakan Bang Zul pada Bang Udin saja, karena bila sama yang lain aku takut mereka akan membully babang tampanku. Bagaimana kalau mereka menendang belut tampannya, nanti kami gagal lagi melakukan ritual malam pertama!”
Beleza kelihatan gelisah, akan tetapi ia tetap terlihat sangat cantik setelah dipoles oleh Udin di gua dekat Pondok Persinggahan Suku Rimba. Kalau ada pemilihan Miss Universe versi Suku Rimba, tak diragukan lagi yang keluar sebagai pemenangnya pastilah Beleza Vine Roots Andalas.
Mengkerut kening Zul mendengarnya, ia tak tahu apakah harus tertawa berguling-guling di tanah atau menangis—permintaan sahabat sejatinya ini sama saja menjadikan dirinya sebagai bodyguard Zul.
Udin menyiram Tombaknya dengan air dan bilahnya tampak mengeluarkan pantulan sinar matahari—sehingga tampak mengkilap. Dia kemudian menghela nafas panjang dan menoleh ke arah Beleza yang memasang ekspresi wajah imut—membuat detak jantung Udin berdetak kencang.
Beleza sangat senang Udin mau membawa Zul bersamanya—walaupun sebenarnya ia sangat khawatir juga, karena sikap Udin seperti tidak menyukai suaminya. Namun, hanya Udin satu-satunya yang bisa ia percayai yang bisa menjaga Zul selama perburuan nanti.
__ADS_1
“Abang... apakah kau baik-baik saja atau Abang pergi berburu bersama ayah saja?” tanya Beleza karena Zul tampak termenung memikirkan sesuatu.
Udin dan Sampuraga menyeringai menatap Zul, mereka seperti merencanakan sesuatu saja—membuat Zul berkeringat dingin.
“Abang tak apa kok, Eza... kau kembali saja ke Pondok,” sahut Zul—sembari mencium kening Beleza yang membuat wanita itu tersipu malu karena ada dua sahabatnya di depan mereka.
“Ehemmm!” Sampuraga berdehem, cemburu melihat kemesraan yang dipertontonkan oleh keduanya. Apalagi ia masih jomblo, tentu saja hatinya mendidih melihatnya. “Kalau mau mesra-mesraan lihat-lihat tempat, dong!” katanya lagi sambil mengacungkan Goloknya tinggi-tinggi.
“Aaaaaaaaa! Eza takutttttttt!”
__ADS_1
Beleza memeluk Zul berpura-pura ketakutan dengan ancaman Sampuraga, padahal sebenarnya ia tahu tak mungkin Sampuraga akan menebas suaminya.