
Zul pun hanya pasrah saja, tetapi tiba-tiba ia ingin buang air kecil.
“Hadehh... aku kebelet pipis!” Zul segera beranjak keluar dan membuka pintu. Namun, alangkah terkejutnya ia, ternyata para Pemuda Suku Rimba telah mengelilingi Pondok-nya. “Hei, ngapain kalian di sini kampret! Ngintip, ya?” Zul memaki-maki mereka.
Para Pemuda Suku Rimba langsung berhamburan ke segala arah. Ada yang melompat ke Sungai kecil dan ada yang langsung tiarap di tanah agar tidak kelihatan oleh Zul serta berpura-pura sedang mencari kutu teman di dekatnya.
“Ada apa Bang?” tanya Beleza keheranan suaminya malah marah-marah.
“Ternyata kita diintip sejak tadi. Untungnya kita tidak ehem-eheman,” sahut Zul—kemudian menatap para Pemuda Suku Rimba. “Makanya kawin, woi!” Zul meledek mereka.
“Gimana mau kawin, jatah kami kau rebut!” sahut Udin yang terbangun mendengar keributan itu. Dia sebenarnya diajak juga tadi oleh Jarjit, tetapi ia tak mau karena segan untuk mengintip sahabatnya sendiri dan memilih tidur di dekat api unggun.
“Salah sendiri tak pandai merayu wanita. Makanya belajar padaku—sewaktu aku masih di lembah hantu, aku ini Playboy cap banteng. Sudah tak terhitung lah wanita cantik yang kukencani. Diibaratkan kata pepatah, disetiap tikungan ada hehehe ....” Zul pun membual pada mereka, agar para Pemuda Suku Rimba itu makin iri padanya.
__ADS_1
“Kalian tak usah percaya! Dia itu mana berani pada wanita. Lihat tuh, masa kencing saja dari tangga Pondok, tak berani turun ke bawah ha-ha-ha ....” Ejekan Zul dibalas kontan oleh Jarjit yang membuat wajah Zul mengkerut masam.
“Sudah kalian tidur sana! Kami mau melakukan ritual malam pengantin baru dulu, jangan kalian intip, ya! Nanti aku sumpahi kalian mandul!” Zul langsung menutup pintu setelah menyiram rumput di bawah tangganya dengan air hangat alami.
Suara-suara Pemuda Suku Rimba masih terdengar menyumpahi Zul karena kesal diejek olehnya dan mereka gagal menonton live streaming Zul bergulat dengan Beleza.
Zul membaringkan tubuhnya di samping Beleza dan ia sangat puas berhasil menyudutkan Pemuda Suku Rimba yang tadi siang hampir membunuhnya. Namun, sorot mata Beleza seperti elang mau menerkam tikus saja.
“Ada apa sayang?” rayu Zul karena ia melihat Beleza seperti sedang merajuk.
“Ha-ha-ha ... itulah efek samping menjadi tampan. Banyak wanita yang ingin memiliki Abang, apalagi nih, Abang orangnya suka tak enakan. Makanya dengan sukarela menerima semua pernyataan cinta wanita cantik. Buktinya Eza saja tergila-gila pada Abang, kan?” Zul kembali berbohong.
Beleza merasa betul yang dikatakan suaminya, karena memang sejak awal dirinya lah yang ingin memiliki Zul, sampai-sampai ia melanggar aturan adat yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
__ADS_1
“Baiklah, mulai saat ini. Detektif Eza akan memonitoring Abang 24 jam nonstop. Eza tak akan mentolerir bibit-bibit pelakor yang hinggap di kehidupan rumah tangga kita.”
Beleza berdiri sambil berkacak pinggang seperti calon legislatif yang berkampanye ingin meraih suara rakyat yang hanya mereka ingat saat musim kampanye saja, itupun dapat salam amplop isi satu lembar lima ribuan saja.
Mengkerut kening Zul melihat tingkahnya itu. “Sudah-sudah, sini kita tidur. Nanti tetangga tersinggung dengan suaramu yang menggelegar, sehingga kau dilaporkan pada kepala Suku Rimba dengan pasal karet yang biasanya merongrong rakyat miskin.”
Dengan senang hati, Beleza langsung merebahkan tubuhnya di sebelah Zul dan suasana tiba-tiba hening, keduanya saling tatap-tatapan.
“Bang, benar nih, besok saja kita melakukan ritual malam pengantin pertama?”
Beleza masih belum yakin Zul tidak tergoda sama sekali dengan dirinya yang merupakan bunga raflesia Suku Rimba. Tercantik di seantero Bukit Barisan.
“Abang mau-mau saja, tetapi lebih baik kita membersihkan diri dulu sebelum melakukan itu. Biar Eza puas melihat ketampanan Abang, BTS atau bule-bule Hollywood mah lewat... Abang juga puas melihat kecantikan Ayuyu yang melebihi kecantikan artis dangdut kampung sebelah!” Zul tetap menolak ajakan Beleza.
__ADS_1
“Baiklah Bang, selamat malam ... semoga mimpi indah, lope-lepeyu,” bisik Beleza sembari memejamkan matanya.
“Semoga kamu juga mimpi indah,” sahut Zul membelai rambut bininya yang acak-acakan agar ia cepat tidur dan tak mengoceh terus.