
Zul merasa seperti ada yang menindihnya, bernafas pun sulit—sehingga ia berpikir mungkin Penunggu hutan sedang memasukinya, karena kecewa pada Suku Rimba yang tidak jadi menjadikan Zul sebagai tumbal untuknya.
Zul komat-komit membaca doa agar Hantu yang merasuknya segera kabur dari alam bawah sadarnya, tetapi tiba-tiba Zul merasa Doa tak dikabulkan. “Eh, aku ternyata baca doa makan!” Saking gugupnya malah salah baca Doa.
Zul berpikir mungkin lebih ia meminta bantuan Beleza saja, agar bininya itu meminta bantuan Dukung Agung Suku Rimba yang mengusir hantu yang merasukinya.
Namun, alangkah terkejutnya Zul, ternyata yang menghimpitnya ternyata Beleza; Dua gunung kembarnya menenggelamkan wajah Zul makanya ia tak bisa bernafas.
“Hei, bangun!”
“Cepat bangun!”
__ADS_1
Suara Zul terdengar tak jelas di telinga Beleza, sehingga ia hanya menguap dengan mulut menganga.
Zul langsung menutup hidungnya, karena aroma yang keluar dari mulut Bininya itu, “sungguh ter-la-lu!” Seperti kata Bang Rhoma, bisa membuat seseorang nge-fly ke langit ketujuh.
“Geser-geser! Aku mau keluar, sejak kapan tubuhku menjadi kasur yang empuk... padahal kurus begini!” Zul menggerutu dan ingin mengomeli Beleza, tetapi ia teringat ayah bininya adalah Panglima Suku Rimba yang dapat mengalahkan harimau dalam duel tangan kosong.
Beleza langsung pindah ke sebelah Zul dan sangat senang ternyata suaminya itu tidak melarikan diri tadi malam.
Zul segera berdiri dan membuka pintu Pondok, sehingga udara dingin pegunungan Bukit Barisan langsung membuat Zul mengigil kedinginan—padahal sewaktu tubuhnya dihimpit Beleza, ia merasa masih hangat. Namun, tak bisa bernafas saja kurangnya.
“Mau mandi!” sahut Zul sambil melakukan peregangan otot. “Itu adalah kebiasaan manusia lembah hantu, dari generasi ke generasi,” katanya lagi sembari meniru logat bicara Suku Rimba.
__ADS_1
Beleza segera berdiri juga dan memeluk Zul dari belakang.
“Eza ikut... bukannya Abang bilang mau memandikanku juga hi-hi-hi ....” Beleza tertawa cekikikan seperti Kuntilanak dalam film hantu.
“Ah, sial! Ikut pula dia. Padahal aku ‘kan mau kabur,” gerutu Zul dalam hati. Kemudian ia berpikir bagaimana cara memoles bininya ini agar tidak bau dan kumel lagi, dan ia teringat dengan tradisi Marpangir kalangan Batak Islam dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Di mana mereka akan mandi menggunakan Pangir yang merupakan tujuh dedaunan beraroma khas yang direbus hingga beraroma wangi, ibaratnya sampo jaman dululah. “Hmm, baiklah... ikuti aku!” ajak Zul menuruni tangga Pondok mereka.
“Ayooooo!” sahut Beleza senang, walaupun ia tak tahu apa itu marpangir yang dimaksud Zul. Namun, diperlakukan dengan baik saja sudah membuatnya senang.
Zul menuju dapur umum Suku Rimba dan memperhatikan apakah ada bahan-bahan untuk membuat Pangir di sana.
“Apa yang sedang abang cari?” Beleza bertanya dengan ekspresi wajah bingung—karena Zul menatap ke segala penjuru dapur umum Suku Rimba seperti auditor KPK yang sedang melakukan audit di ruangan kerja terduga pelaku korupsi saja.
__ADS_1
“Daun Pandan, Daun Jeruk, Daun Nilam, Batang Embelu, Akar Kausar, Serai Wangi dan Bunga Pinang. Semua bahan yang dibutuhkan ada di sini, dari mana kalian mengumpulkan ini dan untuk apa?” Seulas senyum cerah terpancar dari wajah Zul yang sejak bangun tidur sangat kusut sekali, mengkerut-kerut karena Beleza menempel terus padanya—sehingga ia tak bisa kabur.
“Ooo, itu dikumpulkan untuk keperluan Dukun Agung!” jawab Beleza yang masih penasaran untuk apa Zul mengambilnya, padahal suaminya telah mengatakan akan membuat Pangir.