
Lepaskan aku brengsekkkk!” bentak Nucifera sembari memukul-mukul dada Pitung yang tak mau melepaskannya dan membawanya ke Pondok mereka yang cuma sepuluh langkah jauhnya.
Mengkerut wajah Beleza karena bingung—kenapa ayahnya sangat bersemangat membawa emaknya ke Pondok dan kenapa pula wajahnya emaknya menjadi memerah serta memukul ayahnya sangat pelan seperti tak ada niat saja—sebenarnya jelas terlihat wajahnya emaknya memang ingin dibawa ayahnya ke dalam Pondok.
“Dasar orang tua aneh!” gumam Beleza sembari menghela nafas dalam-dalam dan kini berharap Zul baik-baik saja serta tidak pukuli para Pemuda Suku Rimba yang mengejarnya.
...***...
Zul yang berlari tergopoh-gopoh tersandung akar kayu yang menjuntai keluar dari tanah. Wajahnya mendarat lebih dulu ke tanah berlumpur di kubangan yang sering digunakan babi hutan mandi dan buang hajat.
Bedegub!
__ADS_1
“Aduh, sialan! Siapa pula yang menanam Pohon jelek ini, membuatku tersandung saja!” Zul menggerutu.
Dia menyeka lumpur yang rasanya agak asin gimana gitu dari wajahnya, tetapi ia tidak memperdulikan rasa itu karena suara-suara para Pemuda Suku Rimba yang mengejarnya semakin nyaring terdengar.
“Ga-gawat! Mati Aku, cepat kali lari mereka—cocok ikut lomba lari di Olimpiade saja!”
Zul makin panik. Kemudian sebuah ide brilian muncul di pikirannya.
Dia bergumul di lumpur, hingga seluruh tubuhnya tertutupi oleh lumpur itu dan dia pun diam berpura-pura menjadi bagian dari kubangan lumpur tersebut.
Selain mata yang jelalatan, telinga mereka juga berdenyut-denyut mencari sumber suara yang mencurigakan di antara semak belukar dan rerimbunan pepohonan.
__ADS_1
Anjing-anjing yang mereka bawa terus menggonggong seperti tak sabar ingin mengigit mangsanya, sehingga menimbulkan kesan horor yang membuat detak jantung Zul berdebar-debar hebat—ini mirip seperti saat ia mencoba melamar Jamilah dua tahu yang lalu, tetapi ia ditolak mentah-mentah dengan alasan Zul terlalu baik dan satu minggu kemudian, Jamilah pun menikah dengan Duda berumur 50 tahun pemilik saham besar di Binomo.
“Macam mana ini ‘Din? Kita kehilangan jejaknya, cepat kali larinya macam babi saja kutengok!”
Sampuraga bertanya pada Udin sembari menyeka keringat yang membasahi wajahnya.
“Jarjit cari dia ke arah sana!” Udin menunjuk arah Selatan. “Bawa lima orang bersamamu dan Sampuraga lurus ke depan, bawa lima orang juga bersamamu serta sisanya ikut aku!” katanya lagi.
Udin sebenarnya sangat gembira saat ini karena anak setan yang diinginkan oleh Beleza itu akhirnya berhasil kabur. Jadi, ia tak perlu risau lagi gadis pujaan hatinya itu akan menikah dengan orang asing. Kini ia hanya perlu memikirkan strategi jitu dan terukur untuk melamar Beleza tanpa ada kata penolakan.
Mengkerut wajah Malin. Pemuda bertubuh gemuk itu merasa seperti diabaikan oleh Udin, mungkin karena ia membantu Beleza membawa Zul ke persinggahan Suku Rimba—sehingga Udin masih kesal padanya.
__ADS_1
“Bos Udin, Aku pergi ke mana?” tanya Malin.
Udin asal menunjukkan arah saja tanpa menoleh pada Malin, sikapnya benar-benar pendendam sekali—sehingga Malin menghela nafas panjang dan berlari ke arah yang ditunjuk oleh Malin. Namun, lumpur yang ia injak rasanya agak keras sehingga Malin langsung berhenti melangkah dan menoleh ke bawah.