
“Bang Udin dan Sampuraga ngapain sih, kok gerak-gerik mereka mencurigakan sekali?” kata Beleza saat melewati kedua orang yang tengah cengar-cengir tersebut.
Mengkerut lah wajah Beleza, ditatapnya wajah tampan Pemuda yang berada di atas keranjang yang sedang dibawa Malin.
“Apa mereka akan merencanakan sesuatu yang akan membahayakan babang tampanku ini?” Resah hati Beleza memikirkannya.
“Tak mungkin lah, Udin begitu. Kau tahu dia kan, pria paling baik di kelompok kita. Apalagi dia juga Ketua Pemuda Suku Rimba, kau berpikir terlalu jauh Beleza. Santai saja, tak akan ada yang akan menyingkirkan babang tanpanmu!” sahut Malin sembari memikirkan makanan apa yang akan dimasakin oleh Beleza untuknya nanti.
Beleza tersenyum masam sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan yang tak pernah tersentuh air tersebut, kecuali ia tak sengaja diguyur hujan. Namun, itu palingan sementara saja karena ada daun talas yang bisa dijadikan payung.
“Hi-hi-hi pikiran Beleza terlalu melayang jauh. Mana mungkin Bang Udin setega itu, kan dia sahabat Beleza yang paling baik!”
Beleza merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada Udin.
__ADS_1
...***...
Udin dan Sampuraga telah tertinggal jauh dari rombongan Pemuda Suku Rimba tersebut dan Dia segera menarik Parangnya yang diselipkan di pinggang.
Bilah Parang itu sangat tajam, karena Udin sudah menganggapnya sebagai kekasih yang dirawat dengan sepenuh hati. Pagi-pagi sebelum matahari bersinar terang di pegunungan Bukit Barisan, ia telah berada di pinggir sungai mengasah Parang tersebut dengan batu Asah.
“Semuanya sudah menjauh, kita buat tanda apa?” tanya Udin memasang kuda-kuda beladiri seperti akan bergulat melawan Babi Hutan saja.
“Hmm, apa, ya?” Sampuraga berpikir sejenak. “Kita suruh anjing ini kencing setiap seratus meter. Supaya dia sering kencing, tiap sebentar kita beri dia minum he-he-he ....” Sampuraga menyeringai lagi membuat gigi emasnya kelihatan bersinar.
Udin pun memuji sahabatnya itu, walaupun Sampuraga tak senang dibanding-bandingkan dengan Kancil. Lantas siapa Raja Binatang-nya? Apakah itu Pemimpin Suku Rimba atau Pemuda di hadapannya ini?
“Eits, ini tak gratis, loh!” sela Sampuraga dengan seringai tipis terpancar di sudut bibirnya.
__ADS_1
“Cih, tega kau, ya. Ada udang dibalik batu rupanya. Sudah katakan cepat, Apa yang kau inginkan? Mumpung suasana hatiku sangat baik saat ini!” Udin menepuk pundak Sampuraga dengan senyum cerah.
“Gampang saja, Bos!” sahut Sampuraga dengan senyum lebar juga. Kemudian berkata, “Kau comblangin lah aku dengan si Nerida. Hatiku selalu cenat-cenut saat membayangkan wajahnya, makan pun terasa enak tidur pun makin pulas gara-gara selalu memikirkannya!”
Udin tercengang mendengarnya dan merasa ada yang aneh! Bukankah ada kata-kata yang janggal. Namun, apa?
“Sudahlah, menyerah saja kau. Dia itu menyukai Jarjit,” sahut Udin sambil tertawa terbahak-bahak, ia tak menyangka wanita idaman Sampuraga justru telah memiliki pria idaman lain.
Mengkerut lah wajah Sampuraga, tak percaya dia dengan ucapan Udin.
“Tahu dari mana kau Nerida menyukai Jarjit yang dekil itu?”
Sampuraga bertanya dengan ekspresi wajah serius. Dia tak menyangka, ternyata wanita pujaan hatinya juga telah menyukai pria lain.
__ADS_1
“Dari Nerida lah, dari siapa lagi?” jawab Udin yang masih tertawa. “Sebelum kita berangkat ke sini, dia bertanya padaku siapa wanita yang aku sukai dan aku menjawab Beleza. Kemudian kutanya lah dia siapa laki-laki yang disukainya, lantas dia mengatakan menyukai si Jarjit. Aku pun tercengang mendengarnya dan tak menyangka selera Nerida aneh juga he-he-he!”
Tanpa merasa kasihan pada Sampuraga, Udin malah mengatakan kebenaran yang ia ketahui tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sehingga Sampuraga langsung mengigit kukunya sembari menangis tersedu-sedu sehingga Udin pun panik, takut rekan-rekannya akan berbalik karena mendengar tangisan Sampuraga dan rencana mereka pun akan berantakan.