
“Udin bawa dia ke samping Beleza!” seru Dukun Agung.
Kemudian Udin membawa Zul ke tengah-tengah kerumunan orang-orang Suku Rimba yang berbaris membentuk lingkaran tersebut.
Dukun Agung segera merapalkan mantra, “Wahai penunggu Hutan. Ijinkanlah anak setan dari lembah ini berbaur dalam perlindunganmu. Sesatkan lah ia dalam hutan ini, jangan biarkan ia melihat cahaya dari lembah dikala malam dan buramkan penglihatannya di kala terik sinar matahari. Datang tak diundang, terjerat tak bisa pulang!”
Burrrrrrrrrrrr!
Dukun Agung menyemburkan kunyahan daun sirih dari mulutnya yang telah bercampur air ludah suci yang dirahmati oleh Penunggu Hutan ke wajah Zul.
Zul menyipitkan matanya. “Astaga apa-apaan ini. Apa dia tak pernah sikat gigi? Baunya sungguh ter-la-lu!” gerutunya sembari batuk-batuk.
“Selanjutnya! Ritual janji bersedia menjadi bagian dari Suku Rimba dan bila dia ingkar terhadap sumpah yang telah dibuat. Maka hukum pancung lah yang paling tepat bagi pengkhianat,” kata Dukun Agung mengucapkan sumpah setia pada Suku Rimba. “Apakah engkau bersedia menjadi bagian dari keluarga Suku Rimba ini wahai anak muda!” katanya lagi dengan suara melengking.
__ADS_1
Zul kebingungan. “Apa maksudnya ini. Apa aku akan dimaafkan jika bergabung dengan mereka,” gumamnya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Semua mata menatap padanya, suasana menjadi hening. Jika ada monyet yang berteriak-teriak, maka sang pemanah Suku Rimba yang ada di atas pohon akan mendiamkannya—dengan menembaknya hingga tewas. Zul yang tak ingin dijadikan sebagai persembahan pada penunggu hutan lansung menjawab, “Aku bersedia! Hidup dan matiku sepenuhnya kupersembahkan pada Suku Rimba.”
“Yeaaaaaaaa!” Ayoyo melompat kegirangan. “Abang ganteng kau akan menikahi kakak Eza!”
Tersipu lah Beleza mendengarnya, wajahnya memerah seperti tomat dan ia memainkan kedua jempolnya saking groginya menatap Zul Sang pujaan hatinya.
“Ehhhh?”
Zul bingung ... ternyata ia akan dinikahkan dengan wanita dari Suku Rimba. Namun, ia tak tahu yang mana gadis bernama Eza yang dimaksud oleh gadis kecil di hadapannya tersebut. Padahal orangnya berdiri klepek-klepek di sebelahnya.
“Zul, Kepala Suku,” jawabnya ragu-ragu. Dia masih bingung ada apa dengan semua ini. Baru beberapa saat yang lalu ia akan dikorbankan untuk persembahan pada Penunggu Hutan. Namun, kini ia malah diterima menjadi bagian dari mereka dan dinikahkan pula dengan wanita Suku Rimba. Apakah ini dinamakan dengan takdir?
Kepala Suku mengangguk pelan. “Baiklah, Zul ... kau akan kunikahkan dengan Beleza—Putri dari Pitung dan Nucifera. Mulai saat ini kalian akan membina rumah tangga bersama. Jagalah Beleza dengan sepenuh hatimu. Jangan kau buat dia bersedih dan menderita. Asal kau tahu ya ... ayahnya adalah Panglima Suku Rimba yang kekuatannya mampu mengalahkan Dua harimau dengan tangan kosong, macam legenda otot baja tulang besi saja!” kata Kepala Suku mengikrarkan janji pernikahan mereka.
__ADS_1
Mata semua orang beralih ke arah Zul, sedangkan Beleza sangat gugup—karena tak terbayangkan akan mendapatkan suami tampan dari Suku Asing di sebelahnya yang entah sepenuh hati mencintainya atau paling memungkinkan ya, terpaksa mencintainya.
“A-aku Z-Zul bersedia menjadi suami Beleza,” sahutnya terbata-bata.
“Auauauuuuuuuuuuu!”
Para anggota Suku Rimba bersorak gembira, beberapa bersiul-siul dan mulai meniup seruling dan menabuh gendang. Para gadis-gadis langsung melakukan tarian khas Suku Rimba untuk merayakan pernikahan Beleza.
Dukun Agung kemudian mengambil nampan berisi air yang direndam dengan bunga tujuh rupa itu, ia menyiram kepala Zul dan Beleza dengan air tersebut. Barulah Zul tahu ternyata istrinya adalah wanita yang berdiri di sebelahnya sejak tadi.
“Nak, rawat lah Beleza dengan baik, ya. Dia itu masih kekanak-kanakan, jangan kau sakiti dia atau kepalamu lepas dari raga,” kata Maknya Beleza dengan senyum penuh intimidasi. Membuat bulu kuduk Zul berdiri dan kakinya gemeteran—ketakutan mendengar ancaman tersirat tersebut.
“Ha-ha-ha kalian sangat cocok! Cantik dan tampan,” kata Pitung tertawa bahagia. Namun, tetap membuat Zul ketakutan—karena ia tahu ayah Beleza adalah yang terkuat di Suku Rimba.
__ADS_1
“Cantik dari mana? Kumal begini. Apa mereka tak mandi-mandi, ya?” gumam Zul melirik ke sebelahnya dan wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya itu tersenyum cerah menunjukkan gigi emasnya.