Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Emak Galak


__ADS_3

“Belezaaaaaaaaaaaaaaaa!”


Suara yang memekakkan telinga membuat burung-burung yang hinggap di pepohonan segera berhamburan.


Beleza langsung bersembunyi di belakang tubuh Kepala Suku Rimba. Dia tampak ketakutan pada sosok wanita berusia empat puluhan tahun tersebut. Wanita itu berkacak pinggang dan matanya menatap tajam ke arah Beleza.


“Paman, Tolong selamatkan aku!” bisik Beleza pada Kepala Suku yang langsung menggelengkan Kepala.


Kepala Suku tentu tak mau menghadapi emak-emak yang sedang marah ini. Bisa-bisa ia dimakan mentah-mentah, itu mengerikan; membayangkannya saja lutut Kepala Suku terasa lemah dan sulit digerakkan.


“Emak!”


Beleza berkata pelan sembari mengintip Emaknya yang kadung marah tersebut. Emosinya sudah memuncak seperti lahar gunung berapi yang siap meletup—tinggal menunggu waktunya saja.


Nucifera, Emak Beleza tersebut meraih gagang sapu yang terbuat dari ijuk aren, mengkerut wajahnya. Melayang lah gagang sapu itu ke bokong Beleza, bukan sekali dua kali tapi berkali-kali sehingga anak gadis semata wayangnya itu menjerit-jerit mengikuti irama monyet yang bergantungan di dahan pohon yang seolah-olah mengejeknya.

__ADS_1


“Pakkkk!”


“Pukkk!”


“Ondeh Makkkk sakit nian!” Merengek Beleza pada Mak-nya sembari memegangi bokongnya yang berdenyut-denyut macam digigit tawon. “Ampun Mak ’e!”


Beleza terus memohon pada Nucifera yang masih kesetanan karena sangat malu oleh ulah anak gadisnya yang malah melakukan perbuatan tabu tersebut.


“Sudah lah lope-lopeku! Mati pula kau bikin anak kita tuh! Kan, kita bisa bicarakan baik-baik, kenapa ia malah membawa Pemuda ....”


Laki-laki bertubuh kekar dengan perut kotak-kotak macam ade rai si binaragawan tiba-tiba datang menenangkan Nicifera. Kemudian ia menatap Pemuda yang masih terbaring di keranjang milik Malin.


Nucifera menatap tajam pada Pitung, suaminya alias ayah Beleza. Mengkerut-kerut wajahnya sembari bertegak pinggang dan tangan satunya lagi memegang gagang sapu.


Merasa lawakannya tak digubris bininya, Pitung segera menoleh ke arah Beleza.

__ADS_1


“Kenapa tak kau tinggalkan saja dia setelah kau selamatkan. Ngapain pula kau bawa pulang? Emang dia ini kucing peliharaan? Hadeuhh!”


Pitung memarahi Beleza sembari menghela nafas panjang dan ditatapnya lekat-lekat anak gadisnya itu—menunggu tanggapannya.


“Hmmm Aku ... Aku ... hmmm—” Beleza memain-mainkan kedua jempolnya.


Nucifera sangat geram melihat tingkah Beleza, sampai-sampai terdengar suara gertakan giginya. “Cepat katakan, kupecahkan pula kepalamu itu!” bentaknya.


Pitung membelai pipi Nucifera untuk meredakan amarahnya. “Jangan begitulah pada anak sendiri. Coba hirup nafas dalam-dalam dulu dan kalau dipikir-pikir Beleza cocok juga dengan Pemuda ini. Namun, kita tunggu dia sadar dulu baru dilanjutkan lagi debat panas ini. Mari kita rehat sejenak,” kata Pitung sembari senyum-senyum karena tahu bininya akan segera meletup lagi amarahnya.


Nucifera melirik Udin dan berkata, “Hmm, cocok dari mananya. Lebih cocok Udin lagi kurasa untuk jadi suami Beleza, kurang apalagi dia; baik, ganteng, kuat dan ketua Pemuda Suku Rimba, dari pada ini? Mau muntah aku melihatnya!”


Nucifera mengutuk Pemuda yang tergeletak di keranjang tersebut.


“Cie-cie mendapat kode alam, nih ye. Restu dari big bos telah terpecahkan sandinya,” bisik Sampuraga menyenggol bahu Udin.

__ADS_1


“Ah, apaan, sih. Palingan itu karena bibi Nucifera terbawa emosi saja. Makanya ia asal ceplas-ceplos begitu!”


Udin berkilah—padahal nampak jelas diwajahnya ia sedang tersenyum bahagia mendengar ucapan Emak Beleza tersebut.


__ADS_2