Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Candaan Nerida


__ADS_3

“Umm... orang dewasa setelah menikah apa selalu seperti ini?” Ayoyo yang berdiri di depan mereka merasa diabaikan—dunia kini laksana milik mereka berdua saja.


Zul tersenyum lebar mendengar ucapan Ayoyo.


“Sini Kak Eza akan menyuapimu juga ha-ha-ha... kau juga bisa datang kapan saja ke pondok kakak nanti tak usah malu-malu atau takut dengan suami Kak Eza ini!” Beleza segera menarik Ayoyo ke pangkuannya.


“Ara-ara ... Aku mau dong, jadi bini kedua!” Nerida menggoda Zul yang sedang bercengkerama bersama Beleza dan Ayoyo.


Nerida membawa tikar yang telah selesai dianyam dan menyerahkannya pada Beleza agar mereka gunakan nanti malam sebagai alas tidur.


“Hei, suku kita tak boleh menikahi dua orang wanita,” sela Beleza serius menanggapi candaan Nerida—ia takut suami tampannya direbut.

__ADS_1


“Ha-ha-ha... kan, tinggal ubah peraturan adat saja. Toh, kamu saja boleh kok, menikahi orang luar Suku Rimba kenapa aku juga tak bisa?” Nerida tersenyum lebar—senang melihat Beleza justru terpancing emosi oleh candaannya.


Mengkerut wajah Beleza dan ia pun segera berdiri sambil berkacak pinggang. Aish ini pasti akan terjadi Perang Dunia Ketiga; Zul pun bingung bagaimana cara melerai mereka.


“Hei, kau ingin jadi pelakor pada sahabatmu sendiri! Ke mana kau taruh otakmu itu? Mau gelut kau ya? Sini maju!” Beleza menggulung lengan bajunya yang terbuat dari kulit Harimau Sumatera tersebut. “Aummmm!” Beleza meniru auman Harimau sembari bergerak seperti akan mencakar.


Zul melihat Nerida justru menyeringai yang menandakan ia sebenarnya bercanda saja, tapi apa mau dikata—emosi Beleza justru pecah duluan macam balon meletup.


“Ha-ha-ha ... jangan dianggap serius sayang!” Zul melerai Beleza. “Dia itu hanya bercanda saja. Kalaupun serius, itu... kan, bagus. Persahabatan kalian langgeng hingga ke ranjang ha-ha-ha ....” Zul tertawa terkekeh-kekeh.


“Mamam ini!” Beleza mencubit pinggang Zul sekuat-kuatnya.

__ADS_1


“Au... aaaaaa! Sakit! Ampun sayang!” Zul berteriak histeris—karena cubitan Beleza seperti dijepit kepiting saja, sungguh ter-la-lu.


Nerida sangat senang melihat Beleza, sahabatnya tampak bahagia dengan Zul yang sudah menerima kenyataan telah menjadi bagian dari Suku Rimba dan ia tampak menerima Beleza sepenuh hati sebagai istrinya.


“Sedihnya Eza sahabatku tak berbagi babang tampannya denganku hiks... hiks... sepertinya Aku akan mengejar cinta Pemuda tampan kedua di Suku Rimba saja!” Nerida berpura-pura sedih, tetapi ia sebenarnya memberikan kode pada Beleza kalau ia menyukai Udin.


Beleza melepaskan cubitannya pada Zul dan tersenyum menatap Nerida.


“Semoga kau berhasil sahabatku dan duduk di pelaminan seperti kami.” Beleza memeluk Nerida dan Zul hanya tersenyum menatap Dua gadis Rimba dengan rambut acak-acakan saling berpelukan, itu tampak lucu sekali. “Jangan sampai kau tak sengaja melihat tenda biru didepan rumah Udin, ya! Tahu kan kalau banyak gadis yang menyukai Bang Udin he-he-he ....” Gantian Beleza yang bercanda.


“Tak mungkinlah. Tak semudah itu Ferguso melangkahi Nerida... wanita tercantik nomor dua di belantara pegunungan Bukit Barisan ini dan tentunya nomor satunya adalah kamu he-he-he ....”

__ADS_1


Batuk-batuk Zul mendengar ucapan Nerida, dia terlalu percaya diri sekali. Tak tahu mereka, kalau tetangga Zul si Maemunah jauh lebih cantik dari mereka, Maemunah malah mirip artis Maudy Ayunda.


Beleza dan Nerida menatap Zul dengan tatapan curiga—karena mereka merasa Zul skeptis dengan ucapan mereka. Namun, Zul bersiul sembari menengadah menatap langit senja yang kemerahan di atas Bukit Barisan tersebut.


__ADS_2