Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Pesta Pernikahannya


__ADS_3

Beleza kemudian berbalik badan dan hendak pergi ke arah Sawah, ia berpikir tempatnya seharusnya adalah di Hutan—bukan berbaur dengan masyarakat modern seperti di kampung Zul tersebut. Namun, tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan tersenyum cerah walaupun ada bekas air mata di wajahnya.


“Nak, ayo naik ke mobil. Luka di kakimu juga harus diobati, nanti infeksi!” kata Mak Zul sembari menyeka lumpur dari wajah Beleza dan ia sedikit tertegun. “Kamu ternyata sangat cantik, ayo kita temani suamimu berobat!”


Detak jantung Beleza berdegup tak karuan, ia ingin mengatakan sesuatu—tapi mulutnya seperti terkunci dan ia takut dengan tatapan semua orang yang tertuju padanya. Namun, wanita di depannya ini membuatnya sangat nyaman—seperti ibu kandungnya saja.


...***...


Satu bulan kemudian, Zul kembali ke kampung dan disambut meriah oleh orang-orang kampung. Dia bingung apa yang terjadi, ia pulang hanya ditemani ayahnya saja.


Saat ia bangun dari Koma dua minggu yang lalu, ayahnya mengatakan kalau ibunya tak bisa datang menjenguknya karena kurang sehat, sedangkan saat Zul menanyakan tentang Beleza, ayahnya mengatakan kalau ia ditemukan di pinggir sungai. Sehingga Zul sangat sedih, karena merasa telah menyelamatkan Beleza saat itu—ia berpikir mungkin Suku Rimba berhasil menyusul mereka sehingga ia kembali ke hutan.


Namun, ia bingung, kenapa rumah mereka dihiasi seperti akan ada pesta pernikahan saja.

__ADS_1


“Ayah, siapa yang menikah?” Zul bingung.


“Kaulah bujak lapuk, kampret! Siapa lagi, masa ayah menikah lagi dengan janda di sebelah Kedai Oppung Sirait. Yang ada Mak-mu akan memotong leherku!” sahut Ayah si Zul.


“Aku?” Zul makin bingung. “Dengan siapa aku menikah, ya?” Dia penasaran.


“Ada nenek-nenek di kampung sebelah, tanahnya sangat luas. Gelang emas di tangannya saja kayak borgol polisi saja, belum kalungnya seperti—”


“Cukup-cukup!” Zul menyela ucapan ayahnya. “Ayah saja yang menikahinya, aku ikhlas kok ayah berpoligami. Nanti, aku yang akan membujuk Emak. Tapi....” Zul menyeringai.


Mengkerut kening Zul mendengar cibiran ayahnya. “Aku cuma minta Mobil Papero dan Handphone Ipon saja, ayahhhhhhhhhhhhhh!” gerutu Zul.


“Baiklah, deal! Nanti, ayah jual kebun karet dan sawah kita untuk membeli permintaanmu itu!” sahut ayahnya tersenyum bahagia dan berlari ke dalam rumah yang telah berkumpul warga satu kampung untuk memeriahkan pesta pernikahan Zul tersebut.

__ADS_1


“Eeeeeeeeeeeee... itu kan... Eza, Bunga Raflesia-ku! Awas kau ayah, Kampret! Mak, katanya ayah ingin berpoligami dengan jan—”


Ayah si Zul langsung menutup mulutnya, karena bisa melayang nanti piring atau gelas bila mencoba-coba mengusik ketenangan Big Bos.


“Zul... kenapa kau masih berdiam di situ, cepat ganti pakaianmu dan duduk di sebelah menantuku!”


Sifat emosian Emak Zul telah menghilang setelah Beleza selalu menemaninya, apalagi menantunya itu sangat hebat memasak dengan biaya murah, kalau begini maka ia akan Umrah dalam waktu dekat nanti.


Beleza tersenyum bahagia melihat semua orang tertawa dan sangat baik padanya. Namun, tiba-tiba ia tercengang saat melihat di halaman rumah Zul muncul rombongan Suku Rimba yang membawa Pisang, Durian, Sepuluh Ekor Rusa dan Gula Aren.


“Wah, Kak Eza cantik sekali!” seru Ayoyo, cucu Dukun Agung yang berusia Sepuluh tahun.


Warga Kampung Tonga langsung mengeluarkan Handphone masing-masing dan menvideokan kedatangan Suku Rimba—yang sulit ditemukan tersebut.

__ADS_1


“Ayah... Ibu!”


Beleza berlari menghampiri mereka dan memeluknya, ia sangat senang orangtuanya akan muncul di saat hari kebahagiaannya.


__ADS_2