
Beleza menangis sesenggukan tanpa mengeluarkan suara, tetapi Zul tahu wanita tercantik di Suku Rimba itu sedih akibat dirinya berencana akan kabur dari sini.
“Apa aku tinggal di sini saja?” gumamnya. “Namun, aku mungkin tak akan bisa pulang ke kampung lagi—karena kata Udin saat bulan Purnama muncul, maka Suku Rimba akan berimigrasi menuju selatan yang berarti butuh waktu bertahun-tahun lagi bagi Suku Rimba bermigrasi menuju utara pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung Selatan Pulau Sumatera tersebut, belum lagi bisa saja mereka akan lewat sisi timur atau sisi barat nantinya, sehingga kesempatan untuk kembali ke Kampung Tonga tidak akan pernah terwujud.”
Memikirkannya saja membuat kepala Zul terasa sangat sakit sebelah. Dia menjambak rambutnya dan berteriak histeris di dalam hatinya.
Zul dan Beleza tak bisa tidur walaupun malam sudah sangat larut, para Pemuda Suku Rimba yang ingin mengintip mereka kuda-kudaan akhirnya memilih menyerah—karena tak tahan dengan serangan nyamuk yang mengerumuni mereka.
“Bang Zul sudah tidur?” bisik Beleza membalikkan tubuhnya dan menatap Zul yang melamun jauh ke mana-mana.
__ADS_1
Zul menoleh ke arah Beleza dan terkejut melihat matanya telah membengkak akibat menangis sepanjang malam. Dia kemudian menyeka air mata Beleza. “Ada apa?” jawabnya lembut.
“Bawa Eza bersama Bang Zul ke lembah,” sahutnya yang membuat Zul batuk-batuk.
“Apa kau bilang tadi, coba katakan lagi?” Zul merasa ia mungkin salah dengar atau terlalu berharap Beleza akan ikut bersamanya turun gunung.
“Ayo kita kabur sekarang juga, mumpung semua orang sedang terlelap tidur,” sahut Beleza. “Sebenarnya Udin, Sampuraga dan Malin telah tahu abang akan kabur dari sini. Aku takut bukan hanya mereka saja yang tahu, jangan-jangan semua orang sudah tahu tapi mereka berpura-pura tidak tahu dan menunggu abang masuk ke dalam jebakan mereka—sehingga abang akan dihukum mati!” Beleza berspekulasi.
“Tapi bagaimana cara kita kabur? Kan, para Pemanah masih berjaga-jaga di Pohon-pohon kayu tinggi, sehingga kita akan ketahuan saat keluar dari pintu!”
__ADS_1
Zul menggertak kan giginya, padahal Beleza sudah mau kabur bersamanya. Namun, masalah baru tiba-tiba muncul lagi, dia sangat kesal sekali kenapa sesekali ia mendapatkan keberuntungan seperti cerita-cerita dalam fiksi.
“Kita bisa lewat atap Bang Zul. Kan, atapnya terbuat dari anyaman ijuk Pohon Anai, tinggal potong saja talinya dan geser anyaman ijuk itu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara gaduh!” bisik Beleza.
“Benar juga, kenapa tidak kepikiran sama aku, ya? Apa aku terlalu banyak main sekater yang jarang jackpot itu?” sahut Zul—segera memanjat ke atap Pondok.
Digesernya lah pelan-pelan anyaman ijuk itu dan kepalanya nongol sedikit—memperhatikan apakah ada Pemuda Suku Rimba yang berpatroli dekat Pondok mereka.
“Bagaimana, Bang?“ tanya Beleza yang detak jantungnya berpacu kencang—takut ketahuan.
__ADS_1
“86!” sahut Zul segera melompat ke arah semak-semak di dekat Pondok Persinggahan dan langsung tiarap layaknya Sniper dalam film-film perang.
Kepala Beleza pun muncul sedikit di atap Pondok dan Zul melambaikan tangan tanda tak ada Pemuda Suku Rimba yang melihat mereka, kemudian Beleza melompat dan langsung berguling-guling ke arah semak-semak. Namun, saking paniknya, ia lupa melakukan rem darurat sehingga kepalanya menyeruduk dagu Zul yang langsung meringis kesakitan.