
Rumah pondok untuk Zul dan Beleza telah selesai dibangun oleh Pemuda Suku Rimba secara gotong-royong, kini kedua pengantin baru itu dipersilahkan menempatinya.
“Cepat masuk Beleza... Kau sudah bisa mantap-mantap ha-ha-ha .....”
Malin bercanda, sehingga Beleza tersipu malu, dibenamkannya wajahnya yang merah merona ke dada Zul, karena Pemuda lain langsung tertawa dan bersiul menggodanya.
“Jangan lupa mandi dulu! Tengok suami kau tuh... macam kerbau habis bergumul saja!” cibir Udin masih tak suka dengan Zul walaupun ia telah melerakan Beleza dan berpaling hati pada Nerida.
Beleza tahu Udin suka padanya dan cibirannya itu ditujukan pada suaminya—sehingga Beleza segera merangkul tangan Zul.
“Ayo bang kita istirahat saja. Di sini banyak yang dengki dengan kemesraan kita, huh!”
Beleza membalas cibiran Udin yang langsung tersenyum masam, karena tak menyangka Beleza tampak tersinggung.
__ADS_1
Beleza menoleh lagi kebelakang dan berkata, “Tolong bawakan tikar kami itu, Bang Udin!”
Mengkerut lah wajah Udin mendengar seruan Beleza, kalau dulu mungkin ia akan langsung menuruti semua keinginannya. Namun, kini lain ceritanya.
Bertegak pinggang Udin dan berkata, “Ah, kalian yang nikah... aku pula yang repot!”
Namun, Beleza menatap Udin seperti anak kucing dan memasang ekspresi imut yang membuat meleleh hatinya; sulit sekali berkata, “Tidak mau!” Sehingga diangkutnya jugalah tikar itu ke Pondok.
Zul merasa ada Aura permusuhan dari Udin yang membuatnya tak nyaman. Rasa-rasanya punggungnya akan disentuh golok terbang saja.
“Beleza ....” Zul berhenti melangkah sehingga wajah Udin menabrak bokong Zul. “Ah, maaf-maaf!” Zul buru-buru meminta maaf agar Udin tak mengoceh lagi.
Udin menghela nafas panjang dan melewati Zul menaiki tangga—kemudian ketika sampai diujung atas tangga, dia melempar tikar ke dalam Pondok dan melompat turun ke bawah tanpa berkata sepatah katapun.
__ADS_1
Beleza tersenyum melihat ulah sahabatnya yang sedang merajuk itu, kemudian menatap Zul dan menantikan kata apa yang akan keluar dari suami tampannya itu.
“Aku mandi dulu, ya. Kau duluan saja ke dalam, memang betul kok... macam babi saja Abang ini!” seru Zul mencium bau badannya yang berlumpur, karena ia bergumul di bekas kubangan tempat babi hutan buang hajat.
“Baiklah babang tampanku... mandi yang bersih ya, Eza akan membentang kan tikar untuk... he-he-he ....”
Beleza bertingkah manja membuat Udin ingin menampol wajahnya—karena bikin sakit hatinya saja yang sebenarnya salah dia juga, kenapa tak langsung pergi dari sana, dan malah mendengarkan candaan suami istri yang sedang dihanyutkan asmara tersebut.
Zul pun segera menuju sungai kecil, sedangkan Beleza membentang kan tikar dengan tergesa-gesa, karena ia tak ingin melewatkan pemandangan Zul sedang mandi yang terlihat dari pintu Pondoknya tersebut.
Zul melompat ke dalam sungai kecil yang dalamnya hanya selutut dan melirik ke arah Pondok, ia sangat kaget—ternyata Beleza ke arahnya membuatnya sangat risih.
“Apa aku akan dipantau 1x24 jam ya? Macam koruptor yang takut kabur ke negeri seberang saja!” keluh Zul dalam hatinya sembari menggosok tubuhnya dengan pasir.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, Zul dengan pakaiannya yang basah berjalan ke Pondok dan ia bingung apa yang akan ia kenakan nanti atau mungkin ia tidur telanjang saja agar pakaiannya dijemur dulu, tetapi itu tetap tak akan kering—mengingat saat malam hari sangat dingin sekali di pegunungan Bukit Barisan ini.