
“Kan, itu bagus Bang. Bukannya tujuan kita mandi supaya bisa melakukan ritual pengantin yang tertunda,” sahut Beleza memonyongkan bibirnya, melakukan gerakan slow motion ke arah bibir Zul, tetapi Zul segera menahan bibir Beleza dengan jari telunjuknya agar tidak mendekati bibirnya.
“Itu harus dilakukan di Pondok. Pamali tahu, melakukan itu ditempat terbuka. Apa kau tak takut Penunggu Hutan marah atau ia malah jatuh cinta pada abang yang tampan ini.” Dengan pedenya, Zul memuji dirinya sendiri.
“Iya juga, ya, Bang. Kan, penunggu hutan identik dengan hantu wanita cantik, tak maulah Eza. Masa Eza saja belum mantap-mantap dengan Abang diambil duluan sama dia, rugilah bandar” jawab Beleza dengan polosnya.
“Nah itu,” sahut Zul sembari memutar tubun Beleza agar memunggunginya dan menyiram sedikit air pangir ke rambut acak-acakan Beleza.
“Hmm, wangi sekali Bang. Kalau begini mandi tiap hari Eza juga mau,” kata Beleza mencium aroma wangi dari air pangir itu.
“Baguslah kalau kau rajin mandi, lagi pula kau sudah tahu cara membuatnya, kan? Nanti tinggal ajarkan pada yang lain, supaya Suku Rimba kita ini tak kumel-kumel lagi. Biar syantik-syantik dan enak dipandang!”
Zul mulai melakukan pijatan lembut pada kepala Beleza—seperti yang ada di iklan sampo di televisi.
__ADS_1
“Ah, enaknya ....” Beleza malah mendesah membuat Zul menelan ludahnya dan segera menepis pikiran kotornya.
Zul kemudian menyiram lebih banyak air Pangir ke rambut Beleza, sehingga menimbulkan busa yang banyak.
“Sudah kau keramas sendiri saja. Aku mau mandi juga!” Zul melompat ke sungai.
“Eh, padahal masih enak tadi. Kalau keramas sendiri tak asik lah,” gerutu Beleza membilas rambut hitamnya yang panjangnya hingga ke pinggang tersebut.
Zul merasa pikirannya kembali segar setelah berendam di sungai—padahal sempat terlintas di benaknya tadi untuk menerkam Beleza karena tidak tahan lagi menahan hasrattnya.
“Aku kedinginan, terlalu lama berendam di sini.” Zul pun berpura-pura bersendawa, entah apa hubungannya itu dengan kedinginan.
“Ya, sudah kita pulang saja. Tunggu Eza sebentar ya!” Beleza melompat ke sungai.
__ADS_1
Zul berjalan ke mulut gua dan melihat-lihat area sekitar. Apa ada celah untuk melarikan diri. Akan tetapi ia tak menemukan sedikitpun celah, semua terpantau dari tim Pengintai Suku Rimba yang ada di atas pohon.
“Bang aku sudah selesai. Tolong bawakan keranjang ini,” teriak Beleza dari dalam gua.
Zul masuk lagi ke dalam gua dan terkejut melihat Beleza kini bertransformasi lebih cantik, seperti telah selesai operasi plastik di Korea Selatan saja.
Kemudian Zul mendekati Beleza dan merapikan rambutnya dengan menyisirnya menggunakan jari tangannya.
“Nah, kau kini sangat cantik mirip Ayunda Maudy atau Emma Watson he-he-he ....”
Zul memuji kecantikannya dan berpikir sangat mubazir bila menyerahkan Beleza pada Pemuda Suku Rimba, lebih cocok menjadi istrinya saja; bukan sebagai istri bohongan.
Memerah wajah Beleza, tersipu malu karena dipuji oleh babang tampannya dan sangat senang disandingkan dengan nama-nama keren yang dikatakan Zul tersebut, walaupun ia sebenarnya tahu siapa nama-nama yang disebutkan oleh suaminya itu.
__ADS_1
“Ah, Abang bisa saja menggoda Eza. Berkat Abang juga Eza kini sudah cantik dan wangi,” sahut Beleza yang juga terkejut melihat penampilan barunya saat dilihatnya menggunakan kaca spion mobil yang ia temukan dulu di pinggir sungai.