Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Sidang Adat


__ADS_3

“Sudahlah! Penggal saja kepalanya. Mumpung dia belum sadar maka ia tak akan merasa kesakitan dan seharusnya pun ia sudah mati saat hanyut di sungai kalau tidak diselamatkan Beleza!”


Mengkerut lah wajah Beleza dan tak menyangka kata-kata yang kejam nian itu akan diucapkan oleh Emaknya. “Tega sekali kau Mak!” Bulir-bulir air mata membasahi wajahnya.


Beleza menatap Kepala Suku Rimba dengan ekspresi wajah memelas agar Hukuman mati tidak di jatuhkan pada laki-laki tampangnya itu.


Semua mata menatap Kepala Suku yang masih diam saja dan ia memejamkan matanya, berpikir sejenak apakah ia akan menggunakan hukum adat yang berlaku secara turun-temurun tersebut atau membuat pengecualian pada laki-laki yang disukai oleh Beleza ini.


Kepala Suku membuka matanya dan menghela nafas dalam-dalam sembari menatap Beleza, kemudian ia menggelengkan kepala.


“Baiklah keputusan hukum adat kita sudah jelas. Tak perlu lagi basa-basi, nanti malam kita akan mengadakan ritual persembahan pada penunggu tempat ini. Kalau dulu kita akan mempersembahkan babi hutan. Sekarang kita akan persembahkan orang ini saja,” kata Kepala Suku Rimba membuat keputusan.


Suku Rimba selalu memberikan persembahan pada yang disebut penunggu hutan atau bahasa modernnya hantu. Tujuannya agar penunggu hutan itu tak mengganggu mereka saat Suku Rimba menempati sarang penunggu tersebut.


Lemas lah tubuh Beleza mendengarnya dan ia terduduk di tanah, kemudian menangis histeris sembari mengacak-acak rambutnya, tak terima tampangnya harus dijadikan persembahan untuk penunggu hutan.


Laki-laki yang berada di dalam Keranjang milik Malin tersebut terkejut mendengar vonis Kepala Suku Rimba padanya.


Laki-laki misterius yang tak lain si Zulkarnain tersebut sebenarnya sudah siuman, tetapi tetap berpura-pura pingsan. Karena saat ia mengintip area sekitarnya ia malah melihat orang-orang aneh dengan pakaian dari kulit binatang, memegang Kapak dan panah.

__ADS_1


Zul sangat ketakutan, detak jantungnya berdegup tak karuan. Kenapa nasibnya sangat sial sekali, setelah di bawa longsoran tanah ... eh , malah jatuh pada Manusia primitif yang konon katanya memakan Manusia.


“Paku dia di batang pohon beringin itu!”


Kepala Suku Rimba berkata pada Udin yang merupakan Ketua Pemuda Suku Rimba tersebut dan secara otomatis persiapan eksekusi mati berada di bawah yuridiksi-nya.


Zul segera melompat dari keranjang setelah mendengar kata-kata menyeramkan yang membuatnya menelan air ludah yang terasa pahit tersebut.


“Emakkkkkk! Aku tak ingin matiiiii!” teriak Zul langsung berlari ke arah hutan.


“Tangkap dia! tapi jangan sampai terluka atau mati. Dia adalah Persembahan untuk penunggu hutan dan sang penunggu tidak akan mau memakan jiwa yang terluka, karena rasanya tidak enak!”


“Tidakkkkkkk!”


“Tidakkkkkkk!”


“Babang tampan-ku jangan dijadikan persembahan, tolong ampuni dia Nenek Dukun!”


Beleza memohon pada Dukun Agung sembari menangis meraung-raung yang membuat Dukun Agung tampak kasihan.

__ADS_1


“Jangan dengarkan dia! Kita harus melestarikan tradisi Suku Rimba. Orang luar Suku harus dibunuh bila mengetahui keberadaan Suku kita!” sela Nicifera dengan tatapan sinis seperti emak-emak galak dalam sinetron ikan terbang.


Dasar Iblis!” teriak Beleza pada emaknya dan segera ikut mengejar Zul ke dalam hutan.


“Belezaaaaaaaa! Kembali kau kemari!” bentak Nucifera.


Namun, Beleza mengabaikan seruan emaknya, sehingga mengkerut lah wajah Nicifera karena tak menyangka anak gadisnya itu akan melawan perintahnya.


...***...


Sekilas info: Ada perubahan nama.


Babiat menjadi Udin.


Bipang menjadi Malin.


Goppul menjadi Sampuraga.


Kerek menjadi Jarjit.

__ADS_1


__ADS_2