Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Mandi di Gua Dekat Pondok Persinggahan


__ADS_3

Beleza membuka mulutnya lebar-lebar, sehingga mengerutkan kening Zul melihatnya dan ingin tertawa terpingkal-pingkal. Namun, ia menahannya agar Belezatak malu dan malah merajuk, tentu itu sangat merepotkan—bisa ditelan ibu mertuanya dia nanti.


“Kemesraan ini ... janganlah cepat berlalu ... oh, kemesraan ini....”


Malin malah merusak momen kebersamaan mereka, sehingga Beleza menatap tajam ke arahnya—karena saat tadi adalah momen paling berharga baginya.


Malin mundur selangkah dan tak jadi memasuki dapur umum Suku Rimba, padahal awalnya ia ingin mencari makanan karena merasa lapar. Namun, tatapan Beleza padanya seperti hantu Valak dalam film the nun saja. “Ah, perutku mulas, sampai jumpa!” Malin langsung kabur dari sana.


“Tak perlu marah begitu, nih Abang suapin lagi. Aaaaaaaa!” Zul tahu suasana hati Beleza berubah ketika diganggu oleh Malin.


Beleza kembali membuka lebar-lebar mulutnya dan menyantap makanan dari suapan Zul. Kadang-kadang ia malah tak sengaja menggigit tangan Zul, karena sebenarnya ia gugup—walaupun tampak dipermukaan sangat agresif.


“Abang ... gantian Eza yang menyuapi Abang,” kata Beleza ingin melakukan hal sebaliknya juga.


Zul menoleh ke sekelilingnya apakah ada orang lain yang memperhatikan mereka.


“Baiklah...,” sahut Zul segera menganga lah mulutnya menantikan asupan makanan dari bininya.


Dengan senyum cerah Beleza menyuapi Zul. Namun, yang terjadi Zul malah tersedak karena ia memasukkan tangannya terlalu dalam ke mulut suami tampannya itu.

__ADS_1


Beleza panik dan langsung mengambil wadah air yang ada didekatnya dan memasukkan semua air itu ke mulut Zul hingga tumpah ruah.


Bukannya sembuh, malah tambah parah. Sampai-sampai air itu keluar dari hidung Zul, dan bila hal ini dilakukan oleh orang lain—maka Zul pasti berpikir orang itu telah mencoba untuk membunuhnya.


“Sudah-sudah, tak usah panik ukhuk-ukhuk ....”


Zul menenangkan Beleza yang tampak panik dan Zul memegangi dadanya—menarik nafas dalam-dalam. “Huh ... hampir saja, bukannya mesra, malah hampir menyetor nyawa,” gumam Zul tersenyum masam menatap Beleza.


“Kau tak apa Bang? Apa Eza perlu berikan nafas buatan,“ katanya dengan panik.


“Sudah tak apa," sahut Zul. “Kalau nafasmu nggak bau sih, aku oke-oke saja, tapi ini nafasnya bisa membuat orang nge-fly hingga mendarat di Bulan ha-ha-ha ....” Zul bercanda.


Seandainya Beleza adalah makhluk mitologi kucing seperti di anime, mungkin ekornya sudah goyang-goyang tak karuan mendengar gombalan maut Zul ini.


“Baiklah, ayo kubuat kau menjadi seindah bunga mawar tak seperti Raflesia lagi.”


Zul mengajak Beleza ke sungai, karena Pangir buatannya telah dingin. Tak lupa ia juga mengambil sabut kelapa serta arang kayu bakar dari dapur umum Suku Rimba.


“Bang kita mandi di gua saja, biasanya para gadis mandi di sana, supaya para pria tak mengintip,” sela Beleza segera memimpin jalan menuju gua yang berjarak cuma lima puluh meter dari Pondok Persinggahan Suku Rimba.

__ADS_1


Mulut gua itu bahkan masih terlihat dari oleh tim Pengintai Suku Rimba yang ada di atas pohon. Namun, bagian dalamnya tidak terlihat karena agak gelap.


Zul memperhatikan sekelilingnya, Air di dalam gua itu ternyata bersumber dari rembesan dinding gua, mungkin karena di atas gua banyak tumbuh pepohonan—makanya air merembes ke dinding gua.


“Tidak bisa melarikan diri dari sini, padahal tempat ini tak terpantau oleh Pengintai Suku Rimba,” sesal Zul—karena di ujung gua malah buntu.


Tanpa aba-aba dari Zul, Beleza langsung membuka pakaiannya—membuat Zul terbelalak melihatnya. Ini pertama kalinya ia melihat pemandangan yang sering dikhayalkan oleh jomblo ngenes di luar sana secara langsung begini, tentu situs Dajjal yang terkoneksi di smartphone-nya dulu tidak masuk hitungan.


“Ayo Bang, kita mandi. Kau tak membuka pakaianmu. Biar Eza cuciin!” seru Beleza tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Zul tersenyum masam, ia ragu-ragu untuk membuka pakaiannya. Tapi ia kemudian berpikir, kenapa harus malu. Toh, wanita yang ada dihadapannya ini adalah istri sahnya, yang diakui oleh hukum adat Suku Rimba.


“Aaaaaaaaaaaaa!” Beleza terkejut melihat pemandangan yang ada dihadapannya itu. “Kenapa ada lintah di sana!” Dia segera mengambil batu dan hendak melemparnya.


Namun, Zul menjitak kening Beleza. “Jangan berteriak bodoh! Nanti aku dikira melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan dihajar massa.”


Zul bertingkah seolah-olah tak terpikat melihat bininya yang tidak ada sehelai benang pun yang menutupinya itu. Padahal sesuatu ditubuhnya saat ini sedang mencapai tegangan tinggi—bahkan dibutuhkan saklar untuk memadamkannya.


Namun, tekatnya sudah bulat untuk menghindari hubungan spesial dengan Beleza agar bininya itu tetap suci—sehingga ia tak merasa bersalah ketika suatu waktu melarikan diri meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2