
Keheningan berlangsung cukup lama, Pitung masih jua memejamkan matanya dan tak tertanggung oleh hembusan angin kencang membuat rambut panjangnya menutupi wajahnya.
“Aku ....”
Pitung menggantung ucapannya bak sinetron suami yang tersakiti agar terkesan dramatis dan memacu detak jantung emak dan anak di belakangnya tersebut.
Pitung menghela nafas dalam-dalam.
“Hmm ... sungguh keputusan yang sangat pelik untuk diungkapkan. Walau demikian, sebagai Ayahmu aku harus mengatakan ini demi dikau anak gadisku satu-satunya yang belum ada duanya, karena emakmu tak mau hamil-hamil lagi. Ah, keputusanku adalah ....”
“Adalah?”
__ADS_1
Nucifera dan Beleza menantikan keputusan Pitung dengan jantung yang berdegup kencang. Keduanya bahkan hampir lupa bernafas, tetapi ucapan Pitung malah seperti Kaset bajakan yang bila diputar di Radio bunyinya kayak nyamuk yang sedang berpatroli di telinga.
“Cepatlah Bang, katakan!” seru Nucifera harap-harap cemas.
“Merestui Beleza menikahi anak setan itu ... maksudnya si tampan itu, asalkan ia mau tinggal bersama kita!” sahut Pitung sembari melirik Nucifera yang ia yakini akan segera merepet seperti knalpot motor Kap 70.
“Horeeeeeee! Terbaiklah ayah, nih.”
Beleza bertepuk tangan. Di peluknya lah ayahnya itu, ia sangat gembira sekali. Namun, lain lagi dengan emaknya; mengkerut wajahnya bak nenek lampir dan segera berpura-pura lemas serta merebahkan tubuhnya ke tanah dengan pelan-pelan, karena bila langsung jatuh bedegub begitu saja—tentu itu sangat sakit, siapa pula yang mau sakit beneran, toh ini cuma akting agar dikasihani saja dan berharap Pitung meralat keputusannya.
“Pitung!”
__ADS_1
“Apa kau sudah yakin betul dengan ucapan kau tuh? Apa kau ingin melanggar aturan adat yang telah turun temurun dari nenek moyang kita hanya demi memuaskan keinginan yang egois dari anak gadismu?” Protes Kepala Suku atas keputusan Pitung itu.
Pitung cengengesan sembari menggaruk-garuk wajahnya yang kebetulan gatal karena digigit nyamuk. “Apa salahnya menikahkan mereka, toh nenek moyang kita juga berasal dari luar sana sebelum mereka memutuskan mengisolasi diri ke dalam belantara Bukit Barisan ini.” Pitung berkilah.
“Cih, dasar keras kepala! Baiklah, saya sebagai Kepala Suku akan merestui hubungan Beleza dengan anak setan itu. Dengan syarat ia mau menjadi bagian dari kita,” kata Kepala Suku tak bisa lagi melerai keinginan Beleza menikahi Zul.
“Horeeeeee! Paman Kepala Suku baik sekali. Beginilah Pemimpin yang bijak, mengerti akan keinginan warganya he-he-he ....” Beleza tertawa senang dengan keputusan Kepala Suku Rimba.
Kepala Suku menghela nafas dalam-dalam, kini ia hanya berharap agar keputusannya ini tidak menimbulkan gejolak politik atas pihak-pihak yang kontra dengannya—sehingga terjadi kudeta untuk menggulingkan kedudukannya sebagai Kepala Suku Rimba. Namun, ia juga kesulitan menolak keinginan Beleza karena ayahnya adalah Panglima Perang Suku Rimba yang merupakan manusia terkuat di komunitasnya.
“Tak usah kau risau begitu.” Pitung menepuk pundak Kepala Suku. Kemudian berkata, “Bila ada yang berani berbuat macam-macam, aku sebagai Panglima Perang akan berdiri terdepan membelamu ha-ha-ha ....”
__ADS_1
Kepala Suku Rimba hanya tersenyum masam mendengar ucapan Pitung. Ia sedikit lega karena Pitung berterus-terang dan pasang badan bila ada gerombolan perusuh yang ingin membuat kekacauan.
“Tak usahlah bersedih begitu oh biniku, sudah takdir dari alam semesta yang membuat anak gadis kita berjodoh dengan anak setan itu,” kata Pitung sembari menggendong Nucifera yang langsung membuang wajah ke arah lain—karena kecewa dengan keputusan Pitung. “Makin cantik saja kau cemberut he-he-he ... bagaimana kalau kau lampiaskan saja kemarahanmu padaku di gubuk derita!” bisiknya ke telinga Nucifera yang membuat wajahnya memerah.