
Zul tahu Udin dan Sampuraga cemburu melihat kemesraan mereka—sehingga ia membelai rambut Beleza dan berkata, “Sudah kau kembali saja. Nanti mereka betulan marah dan membunuh Abang, kalau Eza sih, tak mungkin. Namun, Abang ... cuma menumpang hidup saja di sini!”
Beleza hanya tersenyum saja dan mencium pipi Zul, kemudian berlari ke arah Pondok. Namun, tiba-tiba ia berhenti berlari dan menoleh kebelakang dan melambaikan tangan.
“Hati-hati ya, Bang Zul!”
Udin dan Sampuraga tersenyum melihat Beleza dan terus menatapnya hingga wanita tercantik di seantero Bukit Barisan itu menghilang dibalik Pondok yang terbuat dari anyaman bambu dan ijuk Pohon anai tersebut.
“Ehemmm!” Zul berdehem. Kemudian berkata lagi, “Tak elok melihat bini orang begitu! Sor kali kutengok mata kalian—padahal lakinya ada di sebelah kalian. Kalau aku sekuat mertuaku, Pitung, akan kucongkel mata kalian itu agar tak jelalatan!” sindirnya.
“Cie... cie... cemburu kau ya? Bukankah kau tak ingin tinggal bersama Suku Rimba kami?” ledek Sampuraga.
“Hei, suka tak suka... Eza itu biniku dan diakui oleh Adat kalian!” Zul berkilah.
“Ya sudahlah, ayo kita berburu!” sela Udin berjalan lebih dulu memasuk hutan, kemudian Sampuraga mengekor di belakangnya—begitu juga dengan Zul di barisan terakhir.
__ADS_1
Mereka menyusuri jalanan setapak dan Zul melihat ada beberapa tanda di pohon-pohon besar yang mereka lalui. Dia berpikir tanda itu berfungsi agar anggota Suku Rimba yang berburu tidak nyasar saat pergi terlalu jauh dari Pondok Persinggahan.
Sampuraga mengedipkan mata pada Udin, sehingga Zul berpikir ada Babi hutan di dekat mereka. Detak jantungnya berpacu tak karuan karena ia tak memegang Tombak atau Golok.
Zul melirik sekitarnya dan diraihnya lah kayu lapuk di dekatnya. Tak ada Rotan, kayu lapuk buat nakut-nakutin Babi Hutan pun jadilah, daripada diseruduk nanti; bisa berabe nanti urusannya.
Udin meminta Zul mendekat ke arahnya dan memberikan anjing berwarna hitam yang telah diikat dengan tali dari anyaman ijuk Pohon Anau, sehingga tali itu sangat kuat tak kalah kuat dari tali tambang.
“Kau ikutilah Anjing ini!” bisik Udin agar tidak ada Pemuda Suku Rimba dari kelompok lain yang berburu mendengar ucapannya.
Zul merasa ada yang tak beres dan menduga mereka menginginkan dirinya sebagai tameng di depan saat menyergap Babi Hutan.
“Karena cuma Anjing ini yang bisa membawamu ke tempat asal kami menemukanmu di lembah Bukit,” sahut Sampuraga sembari melambaikan tangan menyuruh Zul segera pergi.
“Apa mereka akan membantuku atau menjebakku, ya?” gumam Zul ragu-ragu karena kemarin Udin hampir memenggal kepalanya—untung saja saat itu ada Malin yang melerai aksi gilanya itu. Namun, kini tiba-tiba ia malah menjadi malaikat sang penyelamatnya.
__ADS_1
“Kresek-kresek!”
Semak-semak di sebelah mereka tiba-tiba bergoyang dan Zul segera mundur, meraih dahan Pohon dan akan meloncat ke atas bila yang muncul dari sana adalah hewan buas.
Udin mengayunkan tombaknya ke semak-semak itu, kemudian terdengar suara jeritan babi yang langsung menyeruduk ke arah Zul yang langsung bergelantungan di dahan Pohon yang dipegangnya. Namun, dahan Pohon itu tak kuat menanggung beban berat tubuh Zul—sehingga dahan pohon itu rubuh dan Zul pun jatuh dengan posisi menungging*.
“Ga-gawat!”
Zul panik, bokongnya akan diseruduk babi hutan yang lumayan besar dengan dua taring menjorok keluar dari mulutnya.
Zul merangkak dan lebih dulu membayangkan bokongnya akan diseruduk babi hutan itu, kemudian ia akan terbang beberapa meter seperti dalam film kartun yang di tontonnya.
“Din! Tulungngngngngngngng!”
“Makkkkkkkkkkk! Mati aku!”
__ADS_1
Air mata Zul mengalir deras dan Babi hutan hanya berjarak satu langkah lagi di belakangnya.