
Kurang ajar, mereka kabur dengan menggeser atapnya dan melompat dari sana!” seru Jarjit. “Udin, apakah kamu tahu ke mana mereka kabur?” selidiknya karena ia telah mendengar pembicaraannya dengan Beleza tentang memilih antara tetap tinggal di Suku Rimba atau ikut dengan Zul.
Namun, ia tidak menceritakan itu pada Kepala Suku Rimba atau ******, ayah Beleza karena menyangka mereka akan kabur saat sedang berburu lagi dengan bantuan Udin seperti tadi siang.
“Aku tak tahu, sungguh! Aku baru saja buang air di sana. Kalau kalian tak percaya tanya saja pada Gulaolao,” sahut Udin sembari menunjuk Pemuda Suku Rimba yang berjaga di dekatnya tadi.
“Putriku hu-hu-hu!” Nucifera menangis tersedu-sedu, karena inilah yang ia takutkan bila Beleza dinikahkan dengan Pemuda dari lembah bukit Barisan tersebut. Namun, Pitung dan Kepala Suku Rimba malah menuruti keinginan Beleza.
“Jangan panik, Zul pasti tidak tahu ke arah mana harus kabur,” sela Pitung sembari menyarungkan Goloknya ke pinggang dan mengambil Busur Panah serta Obor. “Bagi tim menjadi Tujuh dan berpencar ke tujuh arah mata angin dan setiap orang bawa Anjing—karena indra penciumannya sangat tinggi!”
Malin dan Sampuraga menatap Udin yang langsung mengedipkan mata tanda untuk mengikutinya.
__ADS_1
Udin berencana akan berupaya memperlambat pergerakan Pitung yang malah pergi menuju arah Zul dan Beleza kabur.
Malin dan Sampuraga tentu langsung paham dengan kedipan mata Udin itu, tetapi Jarjit malah mengikuti mereka dengan membawa Sepuluh Pemuda Suku Rimba—sehingga nyaris semua orang bergerak ke arah Zul dan Beleza kabur. Hal ini membuat Udin menjadi gelisah, karena Zul pasti akan dibunuh bila tertangkap dan Beleza mungkin akan melakukan bunuh diri juga karena tak terima suaminya direbut darinya.
Mengkerut kening Zul saat mendengar suara gonggongan anjing dari atas Bukit Barisan yang diikuti cahaya terang dari Obor yang dibawa anggota Suku Rimba—yang juga menuruni Bukit.
“Gawat, kita harus lari dengan cepat!” gerutu Zul, panik.
“Apakah mereka kabur sejak lama, ya?” gerutu Jarjit—karena belum menemukan Zul dan Beleza.
Dia sudah tak sabar ingin menebas leher Zul yang dulu gagal mereka lakukan, tetapi ia curiga Udin, Malin dan Sampuraga seperti akan melindungi Zul, makanya ia mengikuti ketiganya untuk mengawasi mereka.
__ADS_1
“Aku akan melepaskan Anjingku ini!” sahut Pemuda Suku Rimba yang memegang tali Jantan yang terkenal paling cepat di Suku Rimba.
“Sial!” gerutu Udin—karena Anjing itu mungkin akan menyusul Zul dan Beleza.
“Ah, kakiku terkena duri, kalian duluan saja!” Malin berhenti berlari dan duduk di tanah sembari memegangi kakinya.
Jarjit yakin Malin sedang merencanakan sesuatu, tetapi ia tak ada waktu untuk meladeninya—sehingga ia tetap berlari bersama Udin.
Malin segera menarik tali Busur Panahnya dan membidik ke arah lereng bukit, ia hanya mengandalkan intuisinya yang sering berburu babi hutan dan Harimau Sumatera.
“Shuwshhh!”
__ADS_1
Anak Panah meluncur dengan kecepatan tinggi dan terdengar suara Anjing menjerit-jerit kesakitan, sehingga Jarjit menggetarkan giginya. “Sialan kau Malin, Aku akan melaporkan pada Panglima Suku Rimba bahwa kalian melindungi, Zul!”