Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Berakhir Bahagia


__ADS_3

Ha-ha-ha... cantik sekali anak gadis ayah ini,” sahut Pitung mencium kening Beleza. “Maafkan ayah, ya... karena hampir membunuh kalian, untung saja kami bertemu dengan orang yang sedang memotong kayu di Hutan dan mengatakan kalau kalian baik-baik saja serta menikah hari ini.”


“Ya, bahkan kami menunda imigrasi kami ke Selatan demi berjumpa denganmu untuk terakhir kalinya,” sela Udin yang senyum dirangkul Nerida.


Keduanya telah dinikahkan juga beberapa hari yang lalu, sehingga Sampuraga hanya bisa cemberut—karena sudah lelah dia berjuang dan Udin pula yang menuai hasilnya.


“Ha-ha-ha... kalau begitu, mari masuk ke dalam rumah sederhana kami—ayah mertua dan... i-ibu mertua!” Zul masih gugup saat berhadapan dengan Emaknya, Beleza walaupun mertuanya itu tersenyum lebar padanya—akan tetapi senyuman itu terlihat seperti dipaksakan saja.


Jarjit bersembunyi di kerumunan Pemuda Suku Rimba yang berlomba-lomba memakan kue hidangan yang disediakan untuk tamu pernikahan Zul dan Beleza. Jarjit malu menghadap sahabatnya itu, karena dirinyalah yang telah memanah Zul—sehingga keduanya hampir tewas terbawa arus Sungai yang sangat deras.


...***...


Rombongan Suku Rimba hanya sebentar saja di acara pesta pernikahan Zul dan Beleza, karena mereka tak nyaman berbaur dengan orang asing dan dengan perginya mereka, maka Beleza dan Zul tidak akan pernah lagi berjumpa dengan mereka.

__ADS_1


Beleza sangat sedih, tetapi ia juga senang karena kedua orangtuanya serta Suku Rimba telah merestui pernikahannya dengan Zul, laki-laki idamannya tersebut.


Setelah tamu-tamu telah meninggalkan rumah Zul, ia langsung menggendong Beleza dan membawa ke kamar dengan tergesa-gesa, tidak lagi berpura-pura tidak mau seperti saat di Pondok Persinggahan.


Mengkerut kening ayah si Zul melihatnya dan menggeleng pelan. “Jadi, pengen muda lagi atau bini muda he-he-he ....”


Namun, tiba-tiba gagang sapu melayang ke keningnya, sehingga pecinya terlempar dan memperlihatkan kepalanya yang merupakan lapangan sepakbola para kutu.


“Astaga, aku cuma bercanda karena senang melihat anak kita akan membuat cucu biar ramai lah rumah ini. Nggak sepi kayak sarang Kuntilanak saja,” gerutunya sembari menatap Emak Zul dan kabur ke Kedai Oppung Sirait untuk menonton Sepakbola.


“A yu redi, Baby?” bisik Zul sudah tak sabar, darahnya sudah mendidih dan Tongkat Sakti juga tegak bagaikan tiang listrik.


“Ummm... bagaimana, ya?” canda Beleza tersenyum cerah. “Bagaimana besok saja?” Dia meniru sikap Zul seperti saat di Pondok Persinggahan.

__ADS_1


“Oh, tidak bisa... saatnya berubah menjadi ZUltraman ranjang!” teriak Zul melompat menerkam Beleza.


Mengkerut kening tetangga kiri, kanan, belakang dan seberang jalan oleh ulah Zul tersebut. Dia terlalu bersemangat sekali, bahkan sampai anak-anak tetangga yang masih polos bertanya pada orangtua mereka—kenapa Zul berteriak-teriak seperti itu.


Mereka itu sedang melakukan permainan kuda-kudaan karena masa kecil mereka tidak bahagia, sehingga sekarang lah baru bisa bahagia. Itulah kata salah satu ayah yang paling bijak—sedangkan yang lain malah menyuruh anak. mereka tidur.


...~Tamat~...


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


Terimakasih buat pembaca setia Istriku Orang Rimba. Jujur Novel ini membuat babang tampan terngakak-ngakak saat menulisnya, entah kesambet apa Bang Regar sampai kepikiran membuat cerita romantis komedi. Ya, walaupun akhirnya nggak laku juga. 😁😁😁


__ADS_2