Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Gotong Royong Membangun Pondok


__ADS_3

Sampuraga senyum-senyum menatap Nerida sepanjang perjalanan ke Pondok persinggahan, membuatnya risih dan ingin sekali mengumpat Sampuraga, tapi ia harus menuruti janjinya pada Udin untuk berpura-pura ia tak memiliki hubungan cinta dengan siapapun saat ini.


Demi Pria tampan nomor dua di Suku Rimba itu ia rela melakukan apa saja. Dulunya sih, Udin nomor satu. Namun, sejak kehadiran Zul, posisi puncak itu telah bergeser.


“Nerida ....” Akhirnya Sampuraga memberanikan diri menyapanya walaupun detak jantungnya sedang cenat-cenut saat ini. “Kau beneran suka sama Jarjit, kah?” selidiknya penasaran.


Sampuraga belum yakin sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Udin kalau Nerida menyukai Jarjit. Soalnya Jarjit itu bertemperamen tinggi, para gadis-gadis selalu menjauhinya selama ini—sungguh tak masuk logika kalau gadis secantik Nerida menyukainya.


“Umm, bisa jadi,” jawab Nerida singkat—tetap bersikap cuek pada Sampuraga seakan ia tak berminat berbicara dengannya.


Sampuraga kebingungan mendengar jawaban Nerida. Dia merasa ada sesuatu janggal, tetapi entah apa itu.


Sorot mata Nerida sedari tadi hanya fokus pada satu titik. Yaitu punggung sahabatnya, Udin. Belum lagi Udin tak mengucapkan sepatah katapun atau membantu dirinya merayu Nerida—seperti yang ia lakukan kala Udin kesulitan merayu Beleza.

__ADS_1


“Jangan-jangan Nerida bukan menyukai Jarjit? tapi sebenarnya ia menyukai Udin.” Sampuraga berspekulasi negatif. “Ah, hatiku terluka Nerida! Tega-teganya kau ....” Sampuraga melambatkan langkahnya.


Udin tak menyadari perubahan suasana hati Sampuraga, begitu juga dengan Nerida yang terus mengikuti Udin dengan senyum-senyum sendiri menatap punggung Pria tertampan kedua di Suku Rimba tersebut.


...***...


Mereka akhirnya sampai di Pondok Persinggahan Suku Rimba. Barulah Udin menoleh kebelakang karena ia merasa ketika akan dekat dengan Pondok persinggahan suara Sampuraga dan Nerida malah lenyap begitu saja.


“Eh, di mana Sampuraga? Bukannya ia mengobrol denganmu, Nerida?” tanya Udin khawatir Sampuraga sudah memahami hubungannya dengan Nerida.


“Sampuraga pasti sedang kecewa. Karena kau acuh tak acuh padanya—seperti yang aku rasakan, saat Beleza mengacuhkan diriku dulu.” Udin hanya berkata dalam hatinya saja karena tak ingin Nerida malah tersinggung juga bila mengatakan dirinya lah penyebab Sampuraga merajuk. “Sudahlah ... kau bantu para gadis-gadis menganyam rumbia untuk membuat tikar pengantin baru itu, sedangkan Sampuraga ... mungkin dia sedang kebelet pipis saja!” seru Udin sembari menghela nafas panjang.


“Iya Bang... Nerida pamit!” sahutnya langsung bergabung dengan para gadis-gadis Suku Rimba yang sibuk menganyam daun rumbia.

__ADS_1


Udin juga segera menuju tempat para Pemuda Suku Rimba, ia mengesampingkan dulu tentang Sampuraga yang sedang merajuk karena Nerida mengabaikannya. Urusan pembangunan Pondok Persinggahan untuk pengantin baru lebih mendesak untuk saat ini karena matahari sudah mulai membelakangi Pegunungan Bukit Barisan yang menandakan akan segera malam.


“Semua berhenti minum-minum arak itu dulu. Mari kita buat Pondok buat pengantin baru itu. Nanti mereka tak bisa melakukan ritual pengantin baru ha-ha-ha ... masa mereka melakukannya di bawah Pohon beringin!” Udin tertawa mengatakannya.


Para Pemuda Suku Rimba juga ikutan tertawa sembari segera beranjak dari tempat duduk masing-masing dan beberapa orang segera menuju hutan mencari bambu, sedangkan yang lainnya mencari Pohon Anau untuk mengambil ijuknya agar bisa dianyam menjadi atap Pondok.


Pemuda Suku Rimba yang awalnya tampak berleha-leha saja kini sangat sibuk, membuat Zul kagum karena ia adalah Pemuda yang sangat pemalas dan sering mengabaikan emaknya yang menyuruhnya ke sawah atau menyadap Pohon karet.


“Apa aku perlu ikut membantu mereka?” tanya Zul takut ia dimarahi oleh ibu mertuanya karena hanya duduk santai saja seperti mandor yang sedang mengawasi para tukang bangunan.


“Ngapain Abang ikut-ikutan. Kan, hari ini kita adalah Raja dan Ratu. Tentu saja kita sedang dibebaskan tugaskan sementara waktu. Sudahlah, Abang lapar tidak? Biar Eza ambilkan makanan,” sahut Beleza.


“Iya, ambilkan aku buah-buahan saja!” Zul juga merasa bosan duduk saja di kursi yang terbuat dari anyaman rotan, bokongnya terasa ngilu tetapi ia tak berani melangkah dari sana. Takut nanti salah lagi dan ia dihukum lagi nantinya.

__ADS_1


Para gadis-gadis Suku Rimba yang sedang menganyam rumbia senyum-senyum melirik Zul. Tentu itu karena pesona ketampanannya yang bak artis top Indonesia.


Zul jadi salah tingkah dan terpaksa berpura-pura melihat ke arah lain serta kadang-kadang menggaruk-garuk tubuhnya yang sebenarnya tidak gatal agar tidak bertambah gugup. Ini seperti pepatah, percuma tampan... tapi ciut saat dilirik wanita; mubazir juga jadinya.


__ADS_2