
Udin tersenyum dan berkata, “Sejak kapan kami melindungi Pemuda Asing itu. Kami hanya melindungi Beleza yang berlari di belakang Zul, bagaimana kalau Anjing itu mengigit kakinya. Apakah kamu mau bertanggungjawab, Jit?”
“Mana mungkin Anjing itu menggigit Eza, ia pasti mengenali semua anggota Suku Rimba!” Jarjit berkilah, tetapi Udin hanya tersenyum menjengkelkan sehingga Jarjit memilih diam saja karena ia yakin Udin akan selalu memiliki alasan setiap kali ia menyalahkannya.
...***...
Zul terengah-engah, kepalanya terasa sangat pusing—karena berlari tanpa berhenti, mungkin sudah lebih dari Sepuluh Kilometer.
“Apa masih jauh, Bang Zul?” tanya Beleza yang kondisinya lebih baik dari Zul, karena ia sudah terbiasa berlari naik turun gunung—berbeda dengan Pemuda rebahan seperti Zul.
“Kita sudah dekat, aku mendengar suara Azan Shubuh walaupun samar-samar, yang berarti ada Kampung yang dekat dari sini!” sahut Zul memaksakan diri terus berlari.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di tebing yang memisahkan dua bukit dan di tengah-tengahnya adalah Sungai berarus deras, sehingga pelarian mereka menjadi buntu.
__ADS_1
Suara anjing menggonggong makin dekat, kalau berlari menyusuri pinggiran Sungai maka mereka pasti akan tertangkap oleh Suku Rimba.
“Eza... maafkan Aku.” Zul tersenyum. “Aku mencintaimu!”
“Bang Zul... tidak!” teriak Beleza.
“Jangan lompat, Eza!” teriak Pitung terkejut melihat Putrinya itu malah menyusul Zul yang memilih melompat ke sungai berarus deras dari pada ditangkap oleh Suku Rimba.
“Panglima... jangan melompat!” seru Udin segera menarik Pitung dan ia dibantu Lima Pemuda Suku Rimba untuk menahan Pria terkuat di Suku Rimba tersebut.
Pitung berteriak histeris dan menangis tersedu-sedu karena sangat sedih melihat Putri dan menantunya memilih bunuh diri dari pada harus kembali bersamanya ke Pondok Persinggahan.
Pitung segera menyeka air matanya dan berkata, “Ikuti aliran sungainya. Kita harus membawa tubuh Eza kembali bersama kita!” katanya lagi.
__ADS_1
“Tapi, matahari akan segera terbit dan kita sudah turun terlalu jauh—sehingga akan bertemu dengan orang-orang dari lembah!” sahut Udin.
Pitung tak berkata apa-apa lagi, dia hanya menatap kosong ke aliran sungai berarus deras di depannya dan berandai-andai bila membiarkan saja Beleza dan Zul kabur tanpa harus dikejar oleh mereka.
...***...
Zul langsung menangkap lengan Beleza saat tahu istrinya itu malah ikutan melompat. Dia merasa tindakannya sangat konyol sekali, padahal bila ia menyerah maka Suku Rimba tak akan menghukumnya.
Lagi pula Zul berpikir sebenarnya ia sudah lama mati kalau tidak diselamatkan Beleza saat terjebak longsoran tanah ketika membawa balok kayu dari gunung, dan saat ini ia sedang kembali ke makamnya yang sebenarnya.
Beleza kesulitan berenang di arus deras tersebut, untung saja Zul memegang lengannya. Matahari juga mulai bersinar dan Beleza terkejut saat melihat di punggung Zul tertancap panah—sehingga ia langsung menangis, takut kehilangan Zul.
“Jangan menangis bodoh, aku baik-baik saja!” Zul berkata dengan suara pelan, wajahnya sangat pucat sekali dan akhirnya mereka mencapai sisi seberang Sungai yang pinggirnya bukan tebing.
__ADS_1
Beleza memapah Zul keluar dari Sungai dan segera berjalan ke dalam kebun yang cukup familiar di mata Zul.
“Kita sudah dekat, Kamu ikuti saja jalan setapak ini maka tak lama lagi akan ketemu sawah. Kemudian lihat tempat yang banyak Pohon Kepalanya, maka itu pasti Kampung Tonga. Di sanalah Rumah Abang dan katakan pada mereka kamu adalah istriku, maka emakku akan merawatmu, Eza. Maafkan Aku ....”