Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Baju Baru


__ADS_3

“Nak, sini!” Kepala Suku membuyarkan lamunan Zul.


“Iya, Kepala Suku,” sahut Zul segera berlari menghampirinya.


“Mulai sekarang, buang pakaianmu itu! Sekarang kau adalah penduduk Suku Rimba, jadi ikuti tradisi kami. Yu andesten, wouke?” kata Kepala Suku sembari memberikan tiga helai pakaian yang terbuat dari kulit harimau.


“Wouke, aem andesten, ser!”


Zul ikut-ikutan dengan gaya bahasa Kepala Suku Rimba itu yang entah dari mana ia pelajari. Namun, Zul masih bisalah menjawabnya dengan fasih dan elegan.


“Sudah, ngapain lagi kau berdiri di sini. Sana-sana! wus-wus!” Kepala Suku mengusirnya seperti mengusir kucing yang menginginkan ikan teri.


Mengkerut kening Zul dan ia hanya bisa mengelus dada saja—kemudian segera balik kanan seperti anak Pramuka dan dengan langkah tegap menuju Pondok bininya.

__ADS_1


Zul berpikir ia harus cepat beradaptasi dengan gaya hidup Suku Rimba, karena ia merasa karakter mereka aneh-aneh sekali—takutnya nanti salah dikit kena bacok.


“Bang kau sudah dapat pakaian dinas, ya. Cie-cie baju baru nih, ya.” Beleza senyum-senyum mengejek suaminya. Namun Zul hanya tersenyum tipis saja dan masuk ke dalam pondok.


“Aku lapar. Bisa buatkan aku makanan lagi!”


Zul berpura-pura lapar karena ia ingin mengganti pakaian. Namun, Beleza malah mengekor dibelakangnya—karena ia masih malu menampakkan tubuhnya, padahal mereka sudah resmi menikah dan tercatat di catatan sipil sekretaris pribadi Kepala Suku, Elala—yang juga merupakan pegawai rangkap jabatan sekaligus bertindak sebagai ketua Himpunan Wanita Kece Suku Rimba, dan istri tercinta sang Kepala Suku.


“Abang mau Eza buatin gulai apa? Ikan, babi, ayam hutan atau pakis gulai?” sahut Beleza dengan semangat ‘45 karena merasa Zul sudah menerima kenyataan bahwa dirinya adalah istri yang benar-benar cocok untuknya.


Namun, setelah Beleza turun dari tangga dan Zul ingin membuka celananya—kepala Beleza kembali muncul di pintu.


“Jangan tidur ya, sayang. Eza akan buatkan makanan dengan sepenuh hati, yang membuat Abang ketagihan memakannya,” katanya dengan senyum cerah.

__ADS_1


“Iya... iya sayang... cepat masakin sana!” sahut Zul dengan senyum masam sembari menggertak kan giginya karena dongkol dengan ulah bininya itu.


“Huh, pergi juga dia. Sekarang ganti baju dululah,” gumam Zul bernafas lega


“Jangan tidur ya?”


Kepala Beleza kembali muncul mengintip Zul yang sudah telanjangg—sehingga Zul melompat mundur saking kagetnya dan ia segera menutup burung pipitnya dengan tangannya.


“Eh, aku sudah lapar nih, jangan main-main lagi Beleza!” teriak Zul—sehingga Beleza berlari ke arah dapur umum Suku Rimba dengan tawa cekikikan.


Zul takut ia berbalik lagi—sehingga Zul menutup pintu Pondok rapat-rapat karena tak ingin bininya itu mengintip lagi.


...***...

__ADS_1


Dengan semangat menggelora, Beleza langsung memasak gulai ikan dicampur sayur pakis di dapur umum Suku Rimba. Beberapa emak-emak suku rimba ingin membantunya. Namun, dengan sopan ia menolak gratifikasi dari mereka. Karena menurutnya, ini adalah tugas besar yang diamanatkan padanya. Dia harus bekerja di jalan yang benar dan katakan ‘No’ pada nepotisme.


Dengan cekatan Beleza mengiris-iris bawang merah menggunakan pisau dapur yang telah diasah oleh Panglima Rimba secara langsung, yang juga ayahnya. Tak lupa cabainya ia giling menggunakan penggilingan batu dan memeras kelapa yang mereka ambil dari lembah hantu, yang sebenarnya adalah punya Penduduk di sana. Namun, karena konsep Suku Rimba adalah alam punya kita bersama. Jadi, mereka merasa tak mencuri punya siapapun.


__ADS_2