
Beleza bingung, kenapa lah Zul diam saja sejak tadi. Dia hanya sesekali menyeduh madu dari gelasnya dan menunjukkan seulas senyum tipis padanya.
“Bang Zul ... kenapa kau diam saja?” Beleza bertanya pelan.
“E-a-e ... tak ada apa-apa, Beleza” jawab Zul gugup. Dia takut salah bicara karena mertuanya, Nucifera selalu menatapnya dengan tatapan tajam seperti akan menelannya hidup-hidup saja.
“Tak usahlah Abang risau begitu. Kita nih, dah suami istri. Kenapa pula Abang grogi,” kata Beleza menyemangati Zul.
“Ah, betul juga, ya. Kenapa Aku harus takut. Toh, sekarang aku bisa berlindung di belakang Beleza. Kan, ia sangat menyukaiku. Jika aku berbuat salah, ia pasti akan membelaku nantinya. Ha-ha-ha ... sekarang Aku pura-pura mencintainya saja, sembari menyusun rencana pelarian secara matang,” gumam Zul dengan seringai tipis terpancar dari sudut bibirnya—khas tokoh antagonis dalam sinetron ikan terbang.
__ADS_1
“He-he-he... Bang Zul kini mau tersenyum!” Beleza sangat senang melihatnya.
“Terimakasih kau telah membelaku dan menyelamatkanku yang hampir dijadikan Persembahan.” Zul berbisik pada Beleza. “Aku mencintaimu, Beleza,” gombal Zul yang membuat wajah Beleza merah merona karena tersipu malu tak menyangka Zul akan berkata begitu.
Zul yakin seorang wanita polos seperti Beleza akan mudah dimanfaatkan seperti di film-film sinetron ikan terbang itu.
Dalam film kesukaan Emaknya itu diperlihatkan sang wanita rela melakukan apa saja demi mendapatkan cinta dari sang protagonis tampan. Uang, merendahkan harga diri atau pun tindakan melanggar hukum pun dilakukan oleh sang wanita. Namun, adegan di film itu belum tentu sama dengan di kehidupan nyata—karena Zul sendiri belum pernah pacaran karena menghindari berkhalwat dengan wanita walaupun ia tidaklah alim, tetapi setidaknya tidak menimbun dosa yang lebih banyak lagi seperti yang ia pelajari dalam ajaran agama yang dianutnya.
Kata lope-lope yu itu Beleza dengar ketika Suku Rimba melewati sebuah perkampungan saat malam hari. Pada saat itu, sepasang muda-mudi duduk diatas sepeda motor sembari menghitung bintang di langit. Gombalan demi gombalan dilontarkan oleh sang pria yang langsung dibalas dengan suara tawa manja oleh sang wanita. Makanya Beleza selalu mengingat kata-kata sakti mandraguna itu.
__ADS_1
“Ai lope yu tu,” sahut Zul sambil membelai rambut acak-acakan Beleza—yang tidak keramas berhari-hari tersebut. “Buset baunya ... sungguh ter-la-lu ...,” gumam Zul tetap menebar senyum cerah pada Beleza.
Pitung sangat senang melihat Beleza dan Zul tampak sudah mulai akrab. Zul tidak lagi grogi atau canggung saat berbicara dengan Beleza.
“Ah, anak kita mesra sekali ya,” kata Pitung yang setengah sadar itu, akibat terlalu banyak menenggak arak.
“Tapi naluriku mengatakan, anak setan ini cuma memanfaatkan kepolosan Putri kita,” sahut Nucifera menggerutu dengan tatapan penuh kebencian pada Zul.
“Tidak baik berburuk sangka begitu!” kata Pitung sembari menenggak araknya. “Ayo nikmati pesta ini atau kita ke Pondok lagi ....” Seringai tipis terpancar dari sudut bibir Pitung, tetapi Nucifera langsung mengabaikannya.
__ADS_1
Zul mendengar semua pembicaraan mertuanya itu, walaupun tatapannya tertuju pada Beleza. Dia kini telah mengetahui siapa saja orang-orang yang harus diwaspadai di Suku Rimba ini agar pelariannya nanti berjalan lancar.