Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Kabur II


__ADS_3

Jarjit yang tidur-tiduran di Pos jaganya segera menoleh ke arah Pondok milik Beleza dan Zul karena ia merasa mendengar suara Zul.


“Ada apa, Jit?” tanya rekan jaganya yang sedang menenggak arak.


“Aku merasa mendengar suara Zul yang meringis kesakitan,” sahut Jarjit masih menatap ke arah Pondok.


“Ha-ha-ha... Pria lemah itu pasti dipaksa berkali-kali oleh Eza. Sungguh bodoh kali wanita itu, malah milih good looking setengah matang dari pada Pria Perkasa seperti kita! Bahkan sampai pagi pun jadi ha-ha-ha .....”


“Alah, banyak kali ceritamu, tapi aku juga setuju kalau Pria itu terlalu lembek kali. Tak meyakinkan tampangnya, jangan-jangan belutnya cuma sebesar cacing tanah, tidak kayak kita Belut hibrida he-he-he ....” Jarjit tertawa terkekeh-kekeh.


...***...


Zul dan Beleza merayap menuju hutan, tapi tiba-tiba Pondok Dukun Agung terbuka dan Ayeyo, cucunya sedang memegang nampan—kemudian melempar isi nampan itu ke semak-semak yang sebenarnya tepat ke arah Zul.

__ADS_1


“Cih, Bocah laknat itu, tak ada sopan santunnya... cih, jadi hangat kepalaku, tapi aromanya menyengat sekali!” gerutu Zul.


Beleza menutup mulutnya menahan tawa, kalau kejadian ini kemarin malam—maka ia akan tertawa terbahak-bahak mengejek Zul.


“Alamak, keenakan si Eza!” kata rekan jaga Jarjit karena samar-samar mendengar tawa Beleza.


Jarjit mengedipkan mata pada rekannya itu, ia berencana ingin mengintip kuda-kudaan Zul dan Beleza yang makin panas saja menurutnya.


“Ah, kau ini terlalu disiplin sekali! Mumpung Jackpot nih,” sahut Jarjit segera turun dari Pohon beringin yang diikuti rekannya itu.


Keduanya langsung merayap menuju Pondok milik Beleza yang berjarak Lima Puluh meter dari Pohon beringin. Mereka harus melakukan itu agar tidak ketahuan oleh Pemuda Suku Rimba lainnya yang berjaga di sisi lain Pondok Persinggahan, karena bila ketahuan maka hukuman cambuk lah bayarannya.


Sementara itu, Zul dan Beleza akhirnya sampai di pinggir sungai kecil dekat Pondok Persinggahan dan harus menyeberang dengan berjalan kaki.

__ADS_1


Namun, keduanya terkejut saat melihat Udin ternyata sedang menikmati khayalannya sembari memegang tongkat saktinya, sehingga Udin langsung tergelincir di saat menginjak batu yang berlumut.


“Siapa itu?” teriak Pemuda Suku Rimba yang berjaga tak jauh dari mereka.


“Ini Aku—Udin,” sahutnya sembari menengadah menatap bintang-bintang di langit dan terpaksa menenggelamkan setengah badannya di air yang sangat dingin tersebut—sehingga tubuhnya langsung menggigil kedinginan. “Aku sedang buang air, bro dan terpeleset ha-ha-ha ....” Dia berkilah agar Pemuda Suku Rimba itu tidak mendekat.


Zul tersenyum dan segera menarik tangan Beleza menyeberangi sungai kecil dan menghilang di kegelapan hutan rimbun Bukit Barisan.


Udin menghela nafas panjang, tadi itu adalah pengalaman terburuk dalam hidupnya. Untung saja ia tak akan pernah bertemu dengan Beleza lagi.


Dia segera keluar dari sungai kecil dan tak berniat melanjutkan fantasi liarnya lagi dan tiba-tiba Jarjit berteriak keras mengatakan kalau Zul dan Beleza tidak ada di Pondok mereka.


Semua anggota Suku Rimba terbangun dan segera berkerumun di depan Pondok Beleza dan Zul, mereka mendobrak Pintu Pondok itu karena penasaran bagaimana mereka bisa kabur.

__ADS_1


__ADS_2