
Jangan berkata begitu Bang Zul, tolong tetap lah hidup! Jangan tinggalkan Eza!” teriak Beleza sembari tak mau meninggalkan Zul.
Dia terus menerus melakukan pernafasan buatan sembari berjalan mengikuti petunjuk Zul tadi. Dia juga sangat sedih—karena ia sempat melihat Jarjit sahabatnya lah yang menembakkan anak panah saat Zul dan dirinya melompat ke Sungai.
Darah segar mengalir dari Kaki Beleza, kepalanya terasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang, sehingga ia berhalusinasi di depannya berdiri Zul yang mengenakan baju bermotif Harimau, tersenyum menatapnya.
“Bang Zul, tunggu Eza!” Beleza berlari dengan senyum cerah. Namun, Zul terus lebih cepat selangkah darinya dan meminta Beleza untuk menangkapnya.
...***...
“Mau ke mana, Mak Zul? Pagi-pagi sudah mau pergi menyadap karetnya, ya?” kata Emak-emak tetangga sebelah rumah Zul. “Harga karet turun drastis lho, ngapain pula kau capek-capek bekerja banting tulang. Toh duit yang dibawah bantal itu saja belum habis, apa Mak Zul berencana mau pergi Umrah?” selidiknya penasaran—macam detektif saja.
__ADS_1
Mak Zul juga bingung, kenapa ia tiba-tiba mengambil alat sadap getah karet. Padahal setelah Zul menghilang, ia tak pernah lagi ke Kebun—bahkan Sawah miliknya telah disewakan ke tetangga, dan ia juga tiba-tiba teringat dengan Zul.
“Semoga kamu tenang di alam sana, Nak. Maafkan Emak yang gagal menjadi ibu yang baik untukmu!” gumamnya—menitikkan air mata, sehingga emak-emak tetangga terkejut.
Namun, tiba-tiba matanya melotot saat melihat ada orang aneh yang berlumuran lumpur keluar dari Sawah, bukan pematang sawah seperti nyang dikatakan oleh Zul.
Beleza berkali-kali terjatuh dan segera bangun lagi walaupun kakinya berdarah-darah, dia tetap memaksakan diri membawa Zul ke tempat yang banyak Pohon kelapa yang dikatakannya.
Mak Zul yang telah kehilangan anak bungsunya itu segera menghampiri Beleza, karena ia sangat kasihan pada sepasang Pria dan Wanita berpakaian aneh di depannya itu.
“Cepat aku panggil Bidan Desa, Mak Rinto! Ngapain pula kau bengong,” bentak Mak Zul takut Pemuda di pangkuannya itu tak tertolong lagi.
__ADS_1
Dia belum menyadari kalau Pria yang berlumuran lumpur itu adalah anaknya, Zulkarnain yang dinyatakan hilang dan Tim SAR mengatakan tubuh Zul mungkin telah hanyut sangat jauh, sehingga kemungkinan besar tidak akan ditemukan lagi.
Beleza terdiam untuk sesaat dan memberanikan diri berkata, “Aku Beleza dari Suku Rimba dan istri Bang Zul, katanya kami akan diselamatkan bila sampai ke sini!”
Bak disambar petir, Mak Zul tercengang mendengar ucapan Beleza dan ia segera menyeka lumpur dari wajah Pria di pangkuannya.
“Z-Zul... Zul... anakku, Zul!” teriak Mak Zul, sehingga para tetangga berkerumun mendekati mereka dan mereka tak menyangka Zul masih hidup, tetapi kondisinya dalam keadaan kritis.
Bidan Desa melakukan pertolongan pertama dan Mobil Pickup tetangga segera membawa Zul ke Ibukota Kabupaten, karena hanya di sana ada Rumah Sakit Umum.
Beleza mematung, bingung mau ngapain dan tak ada orang yang mengajaknya berbicara—karena semua sibuk mengurus Zul, sehingga ia perlahan-lahan mundur menjauh dari keramaian.
__ADS_1
Akhirnya ia merasa, bagaimana rasanya jauh dari keluarga. Pantas saja Zul sangat ingin kembali Pulang, karena di tempat baru itu membuatnya sangat canggung.