Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Kebenaran Yang Tersembunyi


__ADS_3

Malin menghela nafas panjang dan berkata, “Kan, Aku kau suruh mengikuti mereka diam-diam dan aku juga terus mengikuti Zul hingga hampir mendekati lembah. Namun, tiba-tiba ia berubah pikiran, akan tetapi aku mendengar dengan jelas ucapannya—bahwa ia akan mengajak kamu kabur bersamanya dan bila kamu tak mau pergi, maka ia akan memutuskan pulang ke Kampungnya sendiri serta tidak akan menyentuhmu malam ini agar tidak meninggalkan rasa bersalah di hatinya dikemudian hari!”


Bak disambar petir, Beleza sangat terkejut mendengarnya. Dia memang menyuruh Malin diam-diam mengikuti Zul, karena takut Udin akan menyiksanya saat perburuan tadi.


Namun, yang paling menyayat hatinya adalah Zul tega akan meninggalkannya, padahal ia telah menyangka Zul mencintainya apa adanya seperti dongeng Cinderella.


“Dan satu hal lagi, bersamamu Dua hari ini telah membuatnya jatuh cinta padamu—ya, kadang ada hal-hal yang tidak bisa kita paksakan Eza,” kata Malin—sehingga Udin dan Sampuraga bengong, sejak kapan si gendut yang doyan makan itu menjadi sangat bijak dan berwibawa. “Zul, juga punya keluarga di Kampungnya, teman-temannya atau tidak nyaman menjalani kehidupan Nomaden seperti Suku Rimba kita ini. Kamu juga harus memutuskan memilih dia atau Suku Rimba kita!” ungkapnya lagi.


“Maksudmu, Eza akan mengikuti Zul ke lembah terkutuk?” sela Udin.

__ADS_1


Malin hanya tersenyum, karena jawabannya sudah jelas. Tinggal di sini tanpa Zul atau ikut Zul ke kampung halamannya, tak ada tawar-menawar lagi bahkan sidang adat tak akan bisa mengubah alurnya.


Beleza masih terdiam mematung, tubuhnya gemetaran dan sangat takut kehilangan Zul. Namun, seperti hal dengan Zul, ia juga tak ingin pergi jauh meninggalkan ayah dan emaknya.


Udin ingin berkata sesuatu, tetapi urung ia katakan karena ia tak ingin gara-gara ucapannya malah berakibat fatal pada Beleza di masa depan.


Dia menepuk pundak Beleza dan berkata, “Kembalilah ke Pondok dan tidur bersamanya. Kalian renungkan saja malam ini, keputusan apa yang kalian inginkan. Sebagai sahabatmu, aku akan selalu mendukungmu!”


Beleza berjalan sembari melamun menuju Pondoknya. Dibukanya pintu Pondok dan terlihat Zul sedang melamun juga menatap langit-langit Pondok. Tentu Beleza sudah tahu apa yang ia pikirkan.

__ADS_1


“Bang Zul!” bisik Beleza sembari berbaring di sebelah Zul.


“Ada apa sayang?” sahut Zul—keheranan dengan sikap Beleza yang malah murung setelah bertemu dengan Udin dan Sampuraga. “Apa mereka memarahinya, ya?” pikir Zul—karena selama ini Beleza selalu riang dan agresif bila sudah masuk ke Pondok, dan saat ini seharusnya ia akan meminta jatah malam pengantin baru yang tertunda kemarin.


Beleza menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Apakah abang benar-benar meninggalkan Beleza? Kenapa abang tak mau tinggal di sini?”


Zul terkejut, bagaimana bisa Beleza telah mengetahui isi pikirannya. Apakah Udin memberitahu semuanya pada Beleza.


“Sial, si Udin kampret itu!” gerutu Zul dalam hati. Dia menggertakkan giginya—memikirkan alasan untuk berkilah.

__ADS_1


“Aku mengerti... kita tidur saja, Bang Zul!” kata Beleza lagi tanpa menunggu jawaban dari Zul.


Dia tidur memiringkan tubuhnya, memunggungi Zul yang ingin membelai rambutnya, tapi urung ia lakukan—karena ia dan Beleza mungkin tidak ditakdirkan bersama, sehingga sangat tak sopan bila membelai wanita yang bukan akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


__ADS_2