
Beleza memegang keningnya yang dijitak oleh Zul. Dielus-elusnya lah keningnya itu sambil memperhatikan babang tampannya yang sedang menggiling arang kayu dengan batu sungai.
“Buat apa itu bang?” tanyanya penasaran.
Seringai nakal terpancar dari sudut bibir Zul yang membuat kening Beleza mengkerut, bingung apa yang ingin dilakukan oleh Zul.
“Ayo kemari, baby... saatnya operasi plastik he-he-he ....” Di tarik Zul lah tangan Beleza yang masih berdiri kaku dan Zul mendudukkan bininya itu di sebuah batu sungai yang cukup besar.
Zul mengambil sabut kelapa yang dibawanya dari dapur umum Suku Rimba dan mengoles arang yang telah dihaluskan ke punggung Beleza, kemudian menggosoknya dengan sabut kelapa.
“Ha-ha-ha geli Bang ....”
Beleza tertawa cekikikan dan menggeliat macam belut sawah, sehingga mengkerut kening Zul melihat ulahnya.
“Nah, sekarang gantian! Giliran abang yang digosok, tapi... tak perlu pakai arang, karena abang sudah ganteng dari lahir—sehingga sulit bagi abang memilih wanita cantik mana yang akan menjadi istri abang, hingga menjadi bujang lapuk! Hadehh nasib... nasib!” Zul menghela nafas panjang—karena bininya ternyata tinggal di hutan selama ini, makanya ia jomblo bertahun-tahun saat masih di Kampung Tonga.
__ADS_1
Beleza langsung mengangguk setuju dan menggosok punggung Zul dengan pelan-pelan, takut kulit Zul nanti tergores.
“Oke, sekarang kau gosok tubuh bagian depanmu itu!” Zul menunjuk bagian dada Beleza.
“He-he-he... abang saja yang menggosoknya, nanti Eza juga yang menggosok bagian depan Abang!” sahut Beleza tersenyum cerah—karena senang mereka saling menggosok tubuh masing-masing.
“Ogah... kau saja. Tinggal gosok sat-set-sat-set beres!” Zul menolak saran dari Beleza. “Ayo buruan, biar dioleskan dengan pangir nanti. Biar cantik lah kau kayak Cinderella!”
Dengan cemberut Beleza menggosok-gosok tubuh bagian depannya hingga bagian kaki juga sembari sesekali melirik Zul yang sedang menumbuk akar kayu.
“Untuk menyikat gigi, supaya gigimu putih dan tak perlu lagi menyimpan gigi emas itu ha-ha-ha ....” Zul tertawa menyindir plak kuning di gigi para anggota Suku Rimba.
Setelah menggosok-gosok seluruh tubuhnya, Beleza langsung melompat ke dalam sungai. Daki yang menempel di tubuhnya sudah hilang. Kini kulitnya lebih bersih walaupun ia tidak putih, tetapi tidak hitam juga. Yang sedang-sedang sajalah.
“Sekarang ngapain lagi Bang?”
__ADS_1
Beleza keluar dari dalam sungai dan menghampiri Zul yang langsung terkejut melihat perubahan penampilan bininya itu.
“Wauuuu? Yu... bitiful! Syantik bener!”
Zul memuji perubahan yang terjadi padanya dengan bahasa sok gaul.
“Ini pegang dan lihat cara Abang menggunakannya,” katanya lagi sambil memberikan akar kayu yang ujungnya sudah ditumbuk jadi mirip seperti kuas.
Beleza memperhatikan Zul, yang pertama-tama berkumur dengan air pangir—sehingga ada gelembung-gelembung di dalam mulutnya. Setelah itu Zul memasukkan akar kayu yang mirip kuas tadi ke mulutnya dan melakukan gerakan seperti menggosok gigi.
Beberapa saat kemudian Zul berkumur dengan air sungai dan berkata, “Kau coba juga!”
“Baikkkkk!” sahut Beleza dengan semangat. Dia langsung menggosok giginya dan setelah selesai menggosok giginya, ia sangat terkejut. Rasanya mulutnya lebih fresh dan nyaman, tidak seperti biasanya yang beraroma khas memabukkan.
“Baiklah bagian terakhir, sini mendekat!” kata Zul dan Beleza merapatkan tubuhnya ke suaminya itu. “Menghadap ke sono sayang... jangan kau goda pula iman yang rapuh ini. Bisa-bisa lost kontrol, kugigit juga kau nanti!” canda Zul yang membuat Beleza cengar-cengir. Karena Beleza malah menghadap ke arah Zul, padahal punggungnya yang akan olesi Pangir.
__ADS_1