Istriku Orang Rimba

Istriku Orang Rimba
Beleza Vine Roots Andalas


__ADS_3

Beleza Vine Roots Andalas, Putri Panglima Perang Suku Rimba sedang menggali umbi dari talas liar yang ada di lereng pegunungan Bukit Barisan.


“Hadeuh, susah betullah nak dapatkan umbian, nih!” Beleza menyeka keringat yang membasahi wajah kumelnya yang tidak mandi berbulan-bulan tersebut, karena di Suku Rimba—mandi adalah pekerjaan yang paling sulit mereka lakukan dan mereka lebih baik berduel melawan harimau daripada harus melompat ke sungai atau sekedar cuci muka saja.


“Janganlah ngeluh saja kau Beleza, siapa suruh ikut kami! Sengsara kau, kan? Nikmati sajalah!” sahut Nerida—sahabat dari kecil Beleza dengan seringai tipis di sudut bibirnya yang langsung menunjukkan gigi emasnya—akibat karang gigi yang bermutasi setelah sekian purnama.


Beleza tersenyum masam mendengar jawaban dari Nerida, ia tak menyangka akan diolok-olok oleh sahabatnya itu.


Dalam Suku Rimba, para Pemuda akan melakukan perburuan dan mengumpul bahan makanan sekali dalam sebulan. Lebih tepatnya saat mereka menemukan lokasi baru untuk menetap sementara, karena kehidupan Suku Rimba adalah Nomaden (berpindah-pindah).


Para Pria Suku Rimba akan berburu binatang. Apa saja mereka ambil, asalkan bermanfaat buat mereka, seperti babi hutan, Harimau diambil kulitnya untuk dijadikan pakaian dan kulit beruang juga.


Untuk para gadis-gadis yang belum menikah, akan mengumpulkan jamur, sayuran seperti pakis dan sebagainya.

__ADS_1


Hari ini Para Pemuda-Pemudi Suku Rimba telah selesai melaksanakan tugas masing-masing. Udin segera meniup meniup terompet yang terbuat dari cula badak agar semua berkumpul.


Sebagai ketua rombongan Pemuda Suku Rimba, Udin segera mensidak anggotanya. Takut nanti ada yang ketinggalan saat mereka kembali ke kemah Suku Rimba yang lokasinya jika mereka berjalan malam ini, akan sampai besok pagi.


Udin menatap satu persatu para Pemuda Suku Rimba tersebut dan tidak ada wajah yang menghilang dari ingatannya—yang berarti semua sama seperti saat mereka meninggalkan kemah beberapa hari yang lalu.


“Hari ini kita mendapatkan panen raya. Ada 25 ekor babi hutan, dua ekor Harimau, satu ekor beruang, satu ekor ular piton dan lima keranjang ikan. Memuaskan!” seru Sampuraga dengan senyum sumringah.


“Para gadis bagaimana, Bang Udin?” tanya Jarjit yang sebenarnya ingin mengejek para gadis-gadis saja, karena biasanya para gadis hanya mendapatkan sedikit sayuran yang dapat dimakan.


“Berarti bulan ini adalah bulan kegemukan ha-ha-ha!” Malin—Pemuda bertubuh gemuk yang doyan makan tertawa terkekeh-kekeh.


“Huuuuuu!” Teman-temannya menyoraki Malin dan mereka tahu bahwa dia tak sabar hasil tangkapan hari ini segera di masak, sehingga dia bisa makan sepuasnya.

__ADS_1


“Bang Udin, Beleza pergi ke sungai sebentar, mau—”


“Sudah pergi sana! Cepat, ya, kita harus segera bergegas!”


Udin menyela ucapan Beleza dan ia tahu sahabat sekaligus wanita yang dicintainya diam-diam itu telah kebelet ingin buang air.


“Kau temanilah dia? Ungkapkan perasaanmu padanya. Dari pada nanti ada yang menikungmu!” Malin menggoda Udin yang langsung tersipu malu, karena tidak menyangka ada yang mengetahui kalau ia menyukai Beleza.


“Ah, kau ini bicara apa, sih?” Udin berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan Malin.


“Eh, Kau ini!” Malin geleng-geleng kepala dengan sikap Udin yang malu-malu mengungkapkan perasaannya itu. “Kalau sudah diambil orang. Sakitnya tuh di sini!” Malin berkata lagi sambil memegang dadanya.


Udin merasa ucapan Malin ada benarnya juga, apalagi ada banyak Pemuda Suku Rimba yang seusia dengannya dan mereka juga tak kalah tampan dalam kaca mata Suku Rimba, sih. Kalau dibandingkan dengan Bang Regar tentu ketampanan mereka cuma 15% saja. Hmm, ini bukan sombong, ya, ha-ha-ha.

__ADS_1


“Besok aku akan mengungkapkan cinta padanya,” gumam Udin mengepal tangannya dan detak jantungnya langsung berdegup tak karuan duluan, padahal belum jua mengungkapkan cinta pada Beleza, Bunga Hutan Bukit Barisan tersebut.


__ADS_2