
“Ah, leganya! Plong ... he-he-he tak ada yang mengganjal lagi!“
Beleza berkata setelah melepaskan semua derita yang ditahannya sejak tadi. Kini ia merasa plong dan nyaman.
Beleza berjongkok di tepi sungai yang dangkal dan melamun melamun memikirkan siapa Pemuda paling tampan di Suku Rimba. Dia masih bingung menentukan siapa yang cocok menjadi pendamping hidupnya, mengingat usianya telah dewasa dan menurut tradisi Suku Rimba, ia harus segera memilih salah satu Pemuda yang telah dewasa menjadi suaminya.
Asyik terhanyut dalam lamunannya, tiba-tiba Beleza dikejutkan oleh benda aneh yang menabraknya.
“Et dah, buayaaaaa!” teriak Beleza melompat dari sungai saking takutnya. “Eh, itu bukan buaya?” Dia memperhatikan dengan seksama, ternyata hanya potongan kayu saja yang lewat tersebut. Namun, tiba-tiba diujung potongan kayu tersebut tampak mayat laki-laki ikut terhanyut.
Awalnya Beleza ketakutan dan ingin segera kembali ke rombongan Suku Rimba-nya, tetapi ia juga penasaran dengan mayat tersebut dan memutuskan memeriksanya.
Beleza menarik mayat itu ke pinggir sungai dan menempelkan tangannya di dada Pria misterius tersebut. Dan ia merasakan detak jantungnya masih berdetak pelan.
“Apa yang harus kulakukan?” Beleza memandangi wajah laki-laki tersebut dengan seksama. “Ihhhh, tampan bingittttttt!” Beleza terpesona dan dia melirik sekitarnya, apakah ada orang lain yang memperhatikannya.
“Tak ada orang he-he-he!” Beleza melakukan pertolongan pertama dengan melakukan pernafasan buatan.
__ADS_1
Namun, setelah mengecup bibir laki-laki itu berkali-kali, tetap jua laki-laki itu masih pingsan sehingga Beleza kebingungan. Ya, tak mungkin sadarkan diri karena ia cuma mengecupnya saja, bukan mendorong udara masuk ke tenggorokan laki-laki tersebut.
“Aku harus merawatnya. Orang setampan ini sayang sekali jika mati muda,” gumamnya tersenyum cerah dan segera memapah laki-laki tersebut menuju rombongannya.
...***...
Dengan semangat membara, tergopoh-gopoh Beleza membawa laki-laki itu ke titik kumpul rombongannya tadi dan mereka langsung kebingungan melihatnya datang malah membawa orang asing.
“Siapa itu, Beleza?”
Udin langsung mendekati Beleza yang masih terengah-engah dan berkeringat dingin. Dia kelelahan setelah berjuang dengan keras memapah Pria tersebut dari Sungai.
“Tampan bingittzz, sih!”
Nerida menghampiri Beleza begitu juga gadis lainnya dan langsung mengelus-elus wajah laki-laki yang dipapah Beleza tersebut.
“Hei, jauh-jauh dari tampan-ku ini!” Beleza menipis tangan mereka.
__ADS_1
“Eh?” Para gadis-gadis Suku Rimba terkejut mendengarnya. “Nyentuh dikit doang, jangan pelit-pelitlah Beleza.” Beberapa gadis menggerutu.
Mengerut lah kening Udin melihatnya karena Beleza tidak menjawab pertanyaannya—bahkan ia diabaikan begitu saja.
“Ehemmm!” Udin berdehem. “Apakah aku ini Pohon lapuk, ya? Kok, Pria tertampan di Suku Rimba tak ada merasakan keberadaanku? Apakah aku telah menjadi orang Bunian?” sindirnya.
“Ha-ha-ha ... Aku menemukan orang hanyut di sungai,” sahut Beleza menyadari sorot mata tak suka dipancarkan oleh Udin pada laki-laki yang ia temukan tersebut.
“Tinggalkan dia! Kau tahu kan, Suku kita tak boleh berbaur dengan Suku lain!” Udin berkata dengan tegas.
Dia adalah Pemimpin Pemuda Suku Rimba, dia tidak mentoleransi perbuatan tabu begini. Kalau bukan putri dari Panglima Perang Suku Rimba, maka ia sudah menghukum Beleza dengan hukuman cambuk seratus kali.
“Tidak mau! Aku akan membawanya,” sela Beleza—cemberut menatap Udin.
“Hei, kamu mau dihukum Kepala Suku!” bentak Udin yang membuat ekspresi wajah Beleza memucat, tak berselang kemudian butiran air mata mulai membasahi pipinya dan ia memeluk laki-laki misterius itu dengan erat agar tidak dipisahkan darinya.
Semua terdiam melihat kemarahan Udin dan tidak ada yang berani melerainya, karena perbuatan Beleza memang sangat salah.
__ADS_1
Malin menepuk pundak Udin dan berbisik, “Jangan begitulah Bang, biarkan saja dulu ia membawanya. Nanti biar Kepala Suku yang memutuskan nasib Pria yang membuat Beleza menjadi bodoh itu.” Malin berusaha menenangkan situasi.
Udin berpikir saran Malin ada benarnya juga, karena Beleza itu adalah wanita yang keras kepala dan keinginannya selalu dituruti oleh Panglima Perang Suku Rimba, sehingga ia pasti mati-matian ingin membawa laki-laki yang tak jelas asal-usulnya itu bersamanya.