
“Bang Zul!” sapa Ayoyo—cucu Dukun Agung Suku Rimba dengan senyum cerah. “Kau dari lembah hantu, ya?”
Gadis kecil itu sangat penasaran dari mana Zul berasal karena selama ini ia tak pernah melihat Pemuda tampan itu, tapi tiba-tiba saja ia malah menikah dengan Beleza.
“Lembah hantu?”
Zul bingung mendengarnya. Dia kemudian menduga-duga kalau wilayah yang diluar Bukit Barisan ini mungkin mereka sebut lembah hantu atau neneknya mengatakan hantu lah yang tinggal di rumah-rumah yang bercahaya bila malam hari di lereng Bukit Barisan tersebut.
“Betul. Abang dari lembah hantu,” sahut Zul memilih membenarkan saja kesesatan pikiran Ayoyo tentang kampung di lereng Bukit Barisan.
“Apakah lembah hantu itu mengerikan? Kata Nenek orang-orang di sana memakan anak-anak!” kata Ayoyo lagi.
“Kalau dibilang mengerikan, betul juga. Kalau dibilang tidak betul juga,” sahut Zul.
__ADS_1
“Kok bisa?” tanya Ayoyo makin penasaran.
“Mengerikannya... di sana banyak orang yang tak mau berbagi pada sesama. Bahkan ada beberapa pejabat seperti Kepala Suku yang malah memakan jerih payah rakyatnya. Ada juga Pemuda tak bermoral yang melakukan tindakan tak terpuji pada Kakak-kakak wanita di sana dan banyak macam-macamnya lah," ungkap Zul dan Ayoyo tampak sangat tertarik dengan topik pembicaraan mereka—walaupun Zul tahu Ayoyo pasti tidak memahami apa yang ia jelaskan.
Zul tersenyum tipis menatap wajah lucu Ayoyo dan ia pun teringat pada ponakannya di kampung yang sering ia buat menangis setiap hari. Sampai-sampai Emaknya ponakannya itu berbuih memarahinya. Bukannya jera, Zul malah menjadi-jadi setiap harinya; kalau keponakannya itu tak menangis histeris maka Zul tak berhenti menjahilinya.
Zul menghela nafas panjang, mungkin sekarang kakak iparnya itu sangat bersyukur dirinya tak ada di kampung, sehingga tak ada lagi biang kerok yang membuat anaknya menangis histeris setiap hari.
Zul kembali menatap Ayoyo dan berkata, “Tapi yang baik juga sangat buaaanyakkkk.”
“Kayak Abang yang baik pada anak-anak dan Abang sering loh memberikan makanan enak-enak pada anak kecil, kayak kue, permen dan coklat ha-ha-ha ....” Zul tertawa bangga.
Ayoyo sangat tertarik dengan makanan-makanan yang disebutkan oleh Zul itu, walaupun ia tak tahu makanan macam apa itu.
__ADS_1
Dia tak tahu kalau Zul sebenarnya orang yang dibenci anak-anak, karena Zul yang malah sering mengambil makanan mereka—ia tak peduli anak-anak itu akan menangis yang penting ia kenyang.
“Kalau Abang kembali ke sana. Bawa Ayoyo ya,” sahutnya lagi. “Ayoyo malas menjadi dukun. Capek, banyak kerjaannya,” kata gadis kecil itu.
Zul melirik kanan kiri. Kemudian ia berbisik ke telinga Ayoyo. “Kalau kau ikut Abang, siapa nanti yang akan menemani nenekmu? Kau nanti akan menyesal setelah jauh darinya. Abang saja menyesal telah jauh dari Emak Abang.”
Ayoyo terkejut mendengar jawaban Zul dan berpikir siapa nanti yang akan merawat neneknya walaupun sebenarnya sih dia yang dirawat dengan sepenuh hati oleh Dukun Agung Suku Rimba tersebut.
“Aku disini sajalah. Takutnya nanti, nenek kesepian tanpa ada Ayoyo. Biarpun tempat Abang itu sangat bagus, tetapi Nenek tetap lah yang terbaik buat berlabuh,” kata Ayoyo.
Zul mengelus-elus kepala Ayoyo. “Gadis yang baik. Pertahankan itu hehehe ....” Keduanya akhirnya tertawa terbahak-bahak.
“Eh, bahagia sekali nih, tak ajak-ajak Kak Eza.”
__ADS_1
Beleza menghampiri mereka dan langsung merangkul Zul. Dia kemudian mengupas kulit mangga menggunakan pisau dan menyuapi Zul daging mangganya.