Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Sikap Mama Lena


__ADS_3

"Ayo sekarang kita masuk. kamu harus istirahat." ajak mas ikhsan, aku memang merasa jika mas ikhsan sangat baik dan selalu membelaku di depan keluarganya. tapi entah kenapa sikapnya masih Dingin.


Sudah lima hari aku menjadi istrinya, tetapi sampai saat ini mas ikhsan belum pernah menyentuhku. apakah aku salah jika menginginkan sentuhan dari suamiku sendiri? aku ingin mas Ikhsan menyentuhku agar rasa cinta hadir dihatinya. tetapi aku tidak bisa memaksa kehendak. aku harus lebih sabar lagi. semoga seiring berjalannya waktu rasa cinta itu segera tumbuh dihati suamiku


Aku segera mengikuti mas ikhsan untuk masuk. "Nia, kamu tidurlah terlebih dahulu. aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." ujarnya sembari mengambil laptop dan duduk di sofa itu


Aku hanya mengangguk saja menanggapi perintahnya. segera ku baringkan tubuhku. kembali aku menatap wajah tampan Pria yang sangat aku cintai itu. berharap dia akan mau tidur bersama Dan memeluk tubuhku. ah, kenapa aku menghayal begitu jauh sih? mana mungkin mas ikhsan mau tidur bersamaku. aku ini adalah wanita yang tidak ia cintai. dan aku juga sudah tahu jika dia sangat mencintai Sofi


Tentu saja itu tidak akan mudah baginya untuk melakukan hal itu. apalagi dengan segala kekurangan yang ada pada diriku, mungkin juga dia malu mempunyai istri sepertiku sementara dia adalah seorang sarjana ekonomi dan seorang direktur perusahaan Batu Bara. sebenarnya mereka sangat cocok karena Sofi juga seorang dokter kecantikan. mereka sama-sama mempunyai titel yang sepadan.


Ah sudahlah. lebih baik aku tidur sekarang daripada aku hanya bisa membandingkan diriku yang jauh dari kata sempurna ini. itu hanya akan membuat percaya diriku hilang. biarlah waktu yang akan menjawabnya nanti. aku jalani saja takdir hidupku kedepannya akan seperti apa. yang jelas aku selalu berharap kebahagiaan akan berpihak kepadaku.


***


Kini pagi sudah menjelang. aku segera bangun. aku memang sudah terbiasa bangun subuh. aku melihat kesamping dan berharap mas ikhsan ada disana. namun kembali rasa kecewa dihatiku. sosok itu tak kutemui disampingku


Segera pandangan kuedarkan untuk mencari sosok suamiku. dan benar saja aku melihat dia masih tertidur pulas di atas sofa panjang yang ada di kamar itu. dengan nafas berat aku mencoba untuk tetap bersabar.


Aku segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. dan kulaksanakan sholat subuh dua rakaat. setelah itu tak lupa aku membaca surah Yasin. untuk ku kirimkan kepada ibu.semoga beliau mendapatkan tempat terindah disisi Allah. jika mengingat sosok wanita yang telah melahirkan aku itu. maka rasa rinduku kembali datang. aku sangat merindukan ibu rasanya masih seperti mimpi bahwa sekarang ibu telah tiada. hingga tak terasa air mataku jatuh.


Setelah selesai sholat. aku mencoba untuk membangunkan mas ikhsan. "Mas, mas ikhsan. bangun mas. sholat subuh dulu yuk." ucapku

__ADS_1


"Hmm... Sudah jam berapa ini?" tanyanya dengan suara berat dan matanya masih terpejam


"Sudah jam lima lewat mas. sholat dulu ya.nanti kesiangan sholatnya."


"Hmm.. ya, baiklah. kamu sudah sholat?" tanyanya kembali


"Sudah mas. aku baru saja selesai sholat."


Mas, ikhsan segera bangun dan menuju kamar mandi. dan aku segera menuju ke bawah. aku ingin membantu si mbak yang ada di dapur itu. aku merasa sangat tidak enak hanya duduk diam saja. berharap ada sedikit saja sikap baik yang aku terima dari keluarga suamiku ini


"Selamat pagi mbak. maaf apakah ada yang bisa saya bantu mbak?" tanyaku kepada si Mbak yang sudah mulai sibuk dengan peralatan dapur.


"Ah, tidak usah nyonya. lebih baik nyonya temani Tuan saja di kamar. ini biar Mbak yang mengerjakannya." jawab mbak yang bernama Siti, itu.


"Tidak apa-apa mbak. biar aku bantuin, soalnya aku sudah terbiasa bekerja, jadi aku tidak enak hanya duduk saja." ujarku kepada mbak Siti


"Tapi nyonya?"


"Sudah biarkan saja dia ikut mengerjakan tugas dirumah ini Mbak. memang harus begitu. jangan merasa sudah menjadi nyonya ikhsan dirumah ini. karena tempat kamu pantasnya memang di dapur ini!"


Tiba-tiba mama Lena datang dan menimpali pembicaraan aku dan Mbak Siti. kembali rasa sabar aku tanamkan sebesar mungkin. sabar Nia, tidak apa-apa jika mama mertuamu dan Yang lainnya tidak menyukaimu. asalkan suamimu masih menghargai kamu. aku menguatkan batinku sendiri agar aku tidak lemah

__ADS_1


"Aku, mengerti ma. tidak apa-apa. aku juga sangat senang bisa mengerjakannya." jawabku dengan rasa hormat.Karena aku tahu bahwa dia adalah ibu mertuaku, dialah yang melahirkan suamiku sehingga mas ikhsan tumbuh menjadi Pria yang baik dan juga sempurna di mataku.


"Bagus kalau kamu mengerti! ingat ya Nia. sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima kamu menjadi menantuku. karena kamu sudah merusak kebahagiaan Putraku satu2nya! Apakah kamu pikir ikhsan akan bahagia menikah denganmu? dan kamu juga tahu siapa anakku sayang sebenarnya, bagaimana mungkin dia yang seorang direktur utama,bisa menikahi wanita buta huruf yang tak pernah menduduki bangku sekolah sama sekali! aduh Nia. mimpi apa anakku bisa menikahi wanita sepertimu!" ujar mama Lena penuh penekanan


Kembali air mataku jatuh, apakah aku memang telah merusak kebahagiaan mas ikhsan? apakah memang benar mas ikhsan tidak bahagia dengan pernikahan ini?


"Sabar ya nyonya! semoga nanti suatu saat sikap nyonya besar akan berubah dan bisa menerima nyonya sebagai menantunya." ujar mbak Siti dengan tatapan iba.


"Terimakasih ya mbak. Oya, mbak jangan panggil aku Nyonya. panggil nama saja.namaku Rania,jadi mbak bisa panggil Nia."


"Baiklah kalau begitu Nia. nama kamu bagus, sama seperti orangnya cantik." puji Mbak Siti. ini yang ke-dua kalinya aku mendapatkan pujian. yang pertama kali aku masih ingat yang mengatakan aku cantik adalah Mas ikhsan, saat pertemuan pertamaku Dengannya.


Aku baru ingat saat pertama aku berkenalan dengan mas ikhsan. aku merasakan sikapnya sangat manis. tapi kenapa sekarang sepertinya mas ikhsan tidak semanis itu? Entahlah aku tidak ingin memikirkan hal itu. yang penting sekarang aku harus semangat dan tetap tegar


Aku segera membantu mbak Siti, untuk membuat sarapan pagi. karena aku memang sudah terbiasa bekerja dan memasak jadi aku tidak merasa kesulitan untuk melakukannya. aku merasa pekerjaan ini sangat mudah bagiku.


"Nia.. kamu kok disini? kamu lagi ngapain? loh mbak kenapa istri saya disuruh bekerja?" tanya mas ikhsan kepada mbak Siti


"Maaf tuan tapi-"


"Aku sendiri yang ingin membantu mbak Siti untuk memasak mas. karena aku merasa bosan jika duduk saja. nggak apa-apa mas. aku sudah terbiasa mengerjakan tugas ini." jelasku kepada suamiku, yang tampak sudah rapi dengan stelan seragam kantornya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa dukungannya ya agar Author semangat Update. terimakasih 🙏🥰🤗


__ADS_2