Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Bumil sensitif


__ADS_3

Dengan di dampingi ikhsan, Rania sudah berada di ruangan Dr Obgyn. dokter wanita itu sedang fokus menatap monitor untuk melihat perkembangan bayi yang ada di rahim Rania.


"Bagaimana dengan Bayi kami Dok? apakah dia baik2 saja?" tanya ikhsan tidak sabar


"Bayinya lemah sekali. jadi kami akan memberikan obat penahan agar janin tidak keluar. ibu Rania harus Bed rest ketat ya Pak. ibu Nia hanya di perbolehkan jika ke kamar mandi saja. selain itu tidak diperbolehkan. harus istirahat total hingga kandungannya kembali kuat." jelas dokter itu


"Baiklah Dok. saya akan menjaganya."


"Baik. saya akan memberikan resep obat untuk Bu Rania. ini untuk satu Minggu. setelah habis obat ini, Bu Rania harus kontrol kembali, nanti kita lihat perkembangan bayinya. tetapi, jika sudah meminum obat ini tidak ada perubahannya, masih ada rembesan darah yang keluar. maka bapak harus segera membawa ibu Rania ke RS. itu tandanya janin tidak bisa bertahan." kembali Dokter itu menerangkan


"Baik Dok, apakah istri saya sudah bisa saya bawa pulang, tidak harus di rawat kan, Dok?" tanya ikhsan


"Sudah pak. dari hasil pemeriksaan darah, Bu Rania sehat. tidak ada penyakit lain,jadi dia sudah bisa dibawa pulang tidak perlu rawat inap.asalkan bapak atau keluarga benar-benar menjaganya dengan baik.dan ada satu lagi yang ingin saya sampaikan. dengan keadaan Bu Rania seperti ini. maka berhubungan suami istri tidak diperbolehkan sementara waktu,sampai kandungannya benar2 kuat."


"Baik, Dok. saya mengerti."


"Ini resepnya Pak. silahkan ambil obatnya di apotik. semoga ibu dan bayi sehat ya," ucap Dokter sembari memberikan resep obat


"Terimakasih Dok." ikhsan segera membopong tubuh Rania. sehingga membuat dokter itu tersenyum


"Pakai kursi roda saja Pak," ucap Dokter Obgyn itu


"Tidak usah, Dok. terimakasih." ikhsan segera keluar membopong tubuh ringkih sang istri. semenjak hamil selera makan Rania memang menurun, sehingga tubuhnya jauh lebih ringan karena penurunan berat badan.


"Mas, kenapa tidak menggunakan kursi roda saja? aku kan malu dilihat orang, Mas," Nia menyembunyikan wajahnya di cerukan leher sang suami.


"Kenapa malu Sayang? aku ini suami kamu. biarkan saja mereka memandangi kita. bahkan aku gemas sekali ingin mengecup bibirmu itu," ucap ikhsan


"Mas!" mata Rania melotot


"Hehehe... sabar sayangku. jangan marah-marah, ingat! kamu harus tetap happy. muuach." ikhsan mengecup pipi Rania


"Mas!" pekik Rania kesal dia kembali menyembunyikan wajahnya.


Ikhsan kembali tertawa sembari meneruskan langkahnya menuju apotek RS. setelah sampai ia mendudukkan Rania di kursi tunggu. "Kamu tenang disini ya, jangan banyak gerak. mas tebus obat dulu,"


Rania mengangguk. "Mas, aku haus pengen minum. tapi pengen minum yang manis," pinta Nia


"Baiklah, kamu tunggu disini ya, mas berikan resep ini sebentar." ikhsan segera menemui apoteker RS itu.

__ADS_1


Karena hari sudah malam, pasien tidak terlalu banyak, maka ikhsan bisa segera memberikan resep obat itu dan mengurus pembayarannya.


Setelah selesai pembayaran dan mendapatkan obat.ikhsan segera menghampiri Rania dan tak lupa membawakan jus jeruk hangat.


"Ini, Sayang. kamu minum dulu, setelah itu kita pulang," ikhsan menyerahkan cup yang berisi jus jeruk itu.


Terimakasih ya Mas." Rania menerima pemberian ikhsan dan tersenyum senang.


Dengan sabar ikhsan menunggu Rania menghabiskan minumannya. "Apakah kamu mau makan sesuatu sayang?" tanya ikhsan mengusap kepala istrinya.


"Nggak,Mas. nanti saja saat pulang, jika ada yang enak kita beli ya Mas. tapi apakah kita masih ada uang Mas?" tanya Nia ragu


"Ada, Sayang. Alhamdulillah rezeki yang tak terduga," jelas ikhsan


"Maksud kamu,Mas?" tanya Nia


"Tadi waktu aku pulang, Pak Bowo memberikan aku amplop titipan Bu Sarah istrinya, buat kamu Sayang." jujur ikhsan


"Alhamdulillah... baik sekali Bu Sarah ya, Mas,"


"Iya, Sayang. yaudah kita pulang sekarang yuk,"


"Tapi aku mau jalan sendiri boleh nggak, Mas?" tanya Nia memelas


***


*Di perjalanan pulang*


"Sayang, kamu pengen beli sesuatu?" tanya ikhsan sembari mengusap tangan Rania dengan lembut.


Nia hanya diam. tidak menggubris pertanyaan sang suami.


"Sayang..." panggil ikhsan Kembali


Namun masih sama tak ada jawaban. ikhsan merasakan bajunya basah. ia segera menepikan motornya, lalu turun dan menatap sang istri.


"Sayang, kamu kenapa, kok nangis? apakah aku ada salah? apakah ada sikap dan kata-kataku menyakiti perasaanmu?" tanya ikhsan cemas karena melihat Rania menangis sambil terisak


"Kamu tadi marah Mas. kamu bentak aku, padahal selama ini kamu tidak seperti itu. apakah kamu capek menghadapi aku? apakah aku hanya merepotkan kamu? hiks.." tangis wanita hamil itu semakin keras

__ADS_1


"Aku bentak kamu! yang mana Sayang? perasaan Mas, nggak ada!" sanggah ikhsan


"Huu... hiks... tadi saat di RS sakit waktu aku ingin jalan sendiri!" jelas Nia masih terisak


"MasyaAllah... jadi itu persoalannya, Sayang! demi Allah aku tidak bermaksud membentak kamu sayang. oke, oke.. aku minta maaf, benar-benar minta maaf ya Sayang. udah jangan nangis lagi!" ikhsan memeluk Rania yang masih duduk di jok penumpang.


"Udah jangan nangis lagi ya. maaf ya Sayang.aku tidak sengaja menyakiti perasaan kamu. aku tidak pernah merasa direpotkan oleh kamu, aku sangat mencintai kamu," ikhsan mengecup puncak kepala Rania sembari mengusap punggungnya dengan lembut.


"Benaran kamu tidak marah Mas?" tanya Nia sembari menghapus air matanya seperti anak kecil, membuat ikhsan tersenyum gemes melihat tingkah istrinya itu. ikhsan memahami sikap Rania,karena wanita hamil sangat sensitif.


"Benaran Sayang,demi Allah aku tidak marah. malahan aku sangat menyayangi kamu." ikhsan meyakinkan Nia


"Hehehe... terimakasih ya, Mas. kalau begitu kita cari martabak telor. aku pengen makan itu Mas." ujar Rania yang sudah kembali tersenyum ceria.


"Baiklah. tapi kamu harus janji sama aku," ucap ikhsan


"Janji apa Mas?"


"Nggak boleh nangis dan sedih lagi, Oke?"


"Hm... baiklah, aku janji." balas Nia.


Ikhsan mendaratkan bibirnya di kening Rania, dan segera melajukan motornya kembali.


***


Kini mereka sudah sampai di kontrakan. ikhsan Kembali membopong Rania untuk masuk kedalam rumah.


"Dek Nia, kenapa itu San?" tanya kak Dewi pemilik kontrakan mereka


Ikhsan menghentikan langkahnya. "Tadi Sore Nia hampir keguguran kak. jadi kata dokter Nia harus istirahat total. tolong kak, bukain pintu rumah saya.." ikhsan menyerahkan kunci rumah itu pada kak Dewi.


"Ya Allah... kenapa tak cakap sama akak, Nia! kalau bagi tahu, tentulah cepat akak bawa ke RS sakit." ujar kak Dewi bicara dengan logat Melayu Riau yang kental.


"Tidak apa-apa, Kak. Alhamdulillah Nia dan janinnya masih bisa bertahan." timpal ikhsan sembari masuk kedalam rumahnya.


Bersambung....


Jangan lupa dukungannya ya. agar Author Doble update 🙏🥰🤗

__ADS_1


Happy reading 🥰


"


__ADS_2