Istriku Seorang Buta Huruf

Istriku Seorang Buta Huruf
Ikhsan Kembali


__ADS_3

Pagi ini dikediaman keluarga Amarzoni sudah tampak ramai. yang mana putranya ikhsan Marzoni akan melakukan ijab qobul dengan seorang wanita dimasa lalunya. yaitu Sofia Salena. putri dari pengusaha sukses yang ada di kota itu. tak lain adalah rekan bisnis tuan Amarzoni.


Ikhsan yang baru saja selesai menggunakan pakaian ijab qobul. saat seorang MUA ingin mempoles wajahnya, ia menahan tangan wanita itu


"Jauhkan tanganmu!"


"Tapi...-"


"Aku bilang jauhkan tanganmu!" sergahnya dengan nada tinggi sehingga wanita itu gelagapan dan memasukkan kembali semua alat make-up nya.


"Sekarang keluarlah!" usirnya


"Ba-baik, Tuan." mua itu segera meninggalkan ikhsan sendiri. tapi tidak terlepas dari penjagaan beberapa orang suruhan Amarzoni yang berdiri di depan pintu.


Kini keluarga mempelai wanita sudah berada di kediaman keluarga mempelai Pria. mungkin mereka sudah mengadakan kesepakatan. dan tentu juga pihak keluarga Sofi sudah tahu bahwa pernikahan ini tak di inginkan oleh calon mempelai pria.


Demi sebuah kemajuan ke-dua perusahaan yang sama-sama menguntungkan. maka mereka saling mengikat kuat dengan menikahkan anak-anaknya.


Mungkin Sofi akan merasa sangat senang menikah dengan Pria yang dia cintai. tapi tidak bagi ikhsan. ya, dulu wanita itu pernah masuk dalam kehidupannya. tapi ikhsan tak pernah merasakan cinta sehebat Rania.


Kini ikhsan sudah turun. dia menatap sekeliling ruangan itu. Sofi sudah duduk dengan balutan busana pengantin. wajahnya yang cantik dipoles dengan riasan maka tampak semakin memukau.


Mungkin semua orang bisa jadi terpesona melihat kecantikan wanita itu. tapi tidak dengan ikhsan. Pria itu menatap Sofi begitu datar tanpa memiliki ekspresi wajah kagum sedikitpun.


Ikhsan duduk disamping Sofi tanpa menoleh sedikitpun pada wanita itu. berhadapan dengan dua orang Pria yaitu ayah Sofi dan penghulu.


"Sudah siap?" tanya penghulu


Ikhsan tidak menjawab. ia menatap penghulu itu dengan datar.


"Apakah sudah bisa kita mulai?" kembali pak penghulu bertanya


"Sudah,Pak. mari." Papa Sofi segera menyahut pertanyaan pemuka agama yang akan mengesahkan pernikahan itu.


"Baik, silahkan,"


Papa Sofi mengulurkan tangannya. namun ikhsan tak menjawab uluran tangan itu. malah dia tersenyum sinis. sehingga pak penghulu dan yang lainnya heran


"Ayo mas ikhsan, kita mulai akad-nya," seru penghulu itu.


Akhirnya ikhsan menerima uluran tangan sang calon mertua. dengan raut wajah tak bisa di artikan. entah apa yang ada dalam pikiran Pria itu


"Ikhsan Marzoni. aku nikah dan kawinkan putri kandungku Sofi Salena dengan engkau dengan mas kawin sepuluh gram perhiasan dibayar tunai...."


"Aku terima nikah dan kawinya Rania Rahayu dengan mas kawin tersebut di bayar tunai..."


Seketika semua orang sontak terperanjat mendengar Jawaban yang keluar dari bibir sang mempelai pria.


"Apa-apaan ini?!" Papa Sofi menghempas tangan ikhsan

__ADS_1


"Maaf,bisa di ulang lagi. mungkin mempelai Pria sedang tidak fokus," ujar penghulu itu


"Tidak perlu di ulang,pak penghulu. karena mau sampai seratus kali pun aku mengulanginya maka jawabannya akan tetap sama!" ujar ikhsan santai dengan senyum membingungkan semua orang


Semua mata menyorot ikhsan dengan penuh amarah. terutama Papanya Sofi. begitupun wanita yang ada di samping ikhsan. wanita itu sudah menangis.


"Ikhsan! apa yang kamu lakukan? apakah kamu ingin membuat semua keluargamu malu?!" Zoni menghardik ikhsan dengan manik mata menyala.


"Hahahaha.... malu? siapa yang merencanakan malu ini. kalian semua 'kan? jadi jangan salahkan aku!" ikhsan tertawa sembari menanggapi ucapan Zoni dengan santai


"Br4ngs4k kau benar-benar sudah mencoreng malu di wajah anakku!"


Buggh! Buggh!


Dua Bogeman mentah mendarat di wajah ikhsan dari Papa Sofi. ikhsan hampir limbung namun dia berusaha tetap kokoh berdiri.


Ikhsan tersenyum sembari memegang wajahnya yang terasa panas dan sedikit memar. ia menatap Pria yang ada dihadapannya itu dengan amarah terpendam ikhsan masih menahan diri agar tak membalasnya.


Melihat ikhsan masih bisa tersenyum maka Pria paruh baya itu kembali ingin melayangkan tangannya. tetapi kali ini ikhsan tak tinggal diam.


Tangan itu mengempal di udara. ikhsan menangkis pukulan itu. "Dengar,Om! aku masih menghormatimu. tapi jangan salahkan aku jika rasa hormat dan seganku hilang saat ini juga. kuharap berhentilah untuk memaksa kehendakmu. karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menikahi putrimu!"


Ikhsan menghempaskan tangan Pria baya itu dengan kasar. dan menatap orang sekeliling mereka dengan tatapan penuh amarah menyala. ingin rasanya dia melenyapkan semua bodyguard yang menghalangi langkahnya.


Namun ia kembali mengingat bahwa Rania sangat membutuhkannya. ia tidak ingin membusuk dipenjara. maka ikhsan berusaha tetap tenang untuk mencari celah agar bisa lepas dari cengkeraman Amarzoni.


Kini giliran Amarzoni mendekati ikhsan. Pria itu sedang menahan sesuatu yang ingin meledak. sementara ikhsan menghadapinya tanpa ada rasa gentar sedikitpun.


"Turunkan tanganmu Zoni. jangan berani kau menyentuh Putraku!!"


Terdengar suara seseorang yang mengalihkan perhatian semua penghuni ruangan itu. Pria itu berdiri di depan gapura pintu masuk. dan di dampingi beberapa anak buahnya yang tak kalah lebih banyak dari Amarzoni


"Bowo!" Zoni menyadari kehadiran lelaki itu.


"Ya,benar sekali! rupanya kamu masih mengenaliku. dasar penculik!" tuding Bowo dengan wajah kesal


"Apa maksud kamu?!" Zoni tidak mengerti


"Heh! apa maksudku, kurasa kamu sudah tau itu." balas Bowo dengan sinis


"Ikhsan, ayo segera kita pergi." Bowo membawa ikhsan untuk pergi. tentu saja membuat Pria itu kegirangan. dia merasa terlindungi oleh lelaki itu. ikhsan merasa seorang anak kecil yang mendapatkan pembelaan dan perlindungan dari seorang ayah.


Saat ikhsan ingin beranjak, bodyguard Amarzoni sudah menghalanginya. tetapi Bowo tak mau tinggal diam dia memberi kode pada orang suruhannya untuk menuntaskan penghalang itu. maka suasana diruangan itu tampak ricuh dengan perkelahian


Sementara itu semua tamu dan penghulu sudah meninggalkan kediaman keluarga Amarzoni. mereka tidak ingin menyaksikan pertikaian yang sudah tidak sehat.


Karena orang suruhan Bowo lebih banyak maka mereka dengan mudah mengalahkan kubu Zoni. Bowo dan ikhsan segera beranjak.


"Dengar Bowo. aku tidak akan tinggal diam!" seru Zoni dengan emosi.

__ADS_1


"Sampai bertemu di pengadilan!" jawab Bowo penuh penekanan


***


Di pesawat. ikhsan menatap Bowo penuh dengan tanda tanya. ia belum paham dengan apa yang tersirat dalam percakapan Pria itu dengan keluarganya.


Ditambah lagi kalimat terakhir Bowo yang menunggu Zoni di pengadilan. apa maksud dari kata-kata itu.


"Pak, bagaimana keadaan Rania. apakah istri saya. baik-baik saja?" tanya ikhsan dengan cemas. padahal rencananya bukan hal itu yang ia tanyakan, tetapi seketika bayangan wanita itu muncul maka membuat lidahnya spontan menanyakannya


"Tenanglah. Nia baik-baik saja. tapi sekarang dia sedang dirawat di RS," jawab Bowo dengan jujur


"Rumah sakit? A-apa yang terjadi,Pak?" pertanyaan dengan kegelisahan


"Rania mengalami hal yang serupa waktu itu. jadi Rania harus menjalani rawat inap. tapi kamu tidak perlu khawatir, Nia dan janinnya baik-baik saja."


Ikhsan mengucap syukur dengan lega. "Maaf,Pak. jika boleh saya tahu apa maksud dari percakapan Bapak dan keluarga saya tadi? apakah bapak sudah lama mengenal Papa saya?"


"Ikhsan, dia bukan Papamu. tapi akulah Papimu. kamu anak Bowo dan Sarah. kamu anak kami,"


"A-apa maksud Bapak?" ikhsan masih belum ngeh


Akhirnya Bowo menceritakan semuanya. sehingga membuat ikhsan sulit menerima kenyataan yang ada. tetapi lambat laun ia bisa percaya dengan segala kesungguhan semua ucapan Bowo.


***


Di RS.


Seperti biasanya. sore sebelum magrib Mami Sarah pulang. untuk mandi dan mengambil keperluan Rania. beberapa hari ini Mami berusaha untuk menghibur menantunya itu dengan mengatakan bahwa Papi Bowo sudah mengetahui dimana ikhsan berada.


Namun setelah magrib Mami Sarah belum kunjung kembali ke RS. Nia merasa gusar sendiri diruangan itu. dia tidak tahu harus berbuat apa. ia merasa bosan harus berbaring terus.


Nia mencoba untuk turun. ia ingin mencoba duduk di sofa sembari menonton televisi. dengan pelan Nia memijakkan kakinya kelantai dan tangan berpegang pada tiang infus.


Saat Nia sudah hampir sempurna turun,namun roda tiang infus itu berjalan sehingga Nia ikut limbung tubuhnya jatuh, Nia memejamkan matanya. dan bersiap untuk menahan resiko dan rasa sakit


Namun ia merasakan tubuhnya tak jadi menduduki lantai yang dingin itu. perlahan Nia membuka matanya. wanita itu melihat Dr Yandra sudah menahan tubuhnya. dengan tangan melilit di pinggangnya.


"Aku sudah bilang jangan banyak bergerak. nanti kamu kembali mengalami pendarahan!" Dr itu memperingati dengan nada sedikit geram


"Apa-apaan ini? hei, berani sekali kau memeluk istriku!"


Ikhsan muncul sembari melepaskan tangan Dr Yandra dari tubuh Rania. tatapan Pria itu seakan ingin membunuh Dr Obgyn itu.


"Mas ikhsan! ya Allah. kamu benar-benar mas ikhsan. kamu suamiku 'kan? haaa... Mas, aku sangat merindukan kamu.." Rania melonjak kegirangan merangkul tubuh ikhsan.


Ikhsan membalas pelukan sang istri. meski rasa kesalnya belum usai. tetapi dia tidak ingin membuat Rania sedih. lagipula dia juga sangat merindukan wanita itu. maka ikhsan menumpahkan segala rasa rindunya dengan menghadiahkan Rania kecupan hangat seluruh wajah dan juga bibirnya.


Sementara itu Yandra masih berdiri disana. entahlah apa yang membuat dokter itu masih betah disana. apa yang sedang ia pikirkan saat melihat adegan mesra kedua pasutri itu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2