
"Sayang, kamu tenanglah," ucap ikhsan tak bisa menyembunyikan wajah sedihnya.
"Tidak. ini tidak mungkin 'kan, Mas?" jerit Nia dengan sedih
Ikhsan segera berdiri sembari meraup tubuh Rania yang begitu terguncang. "Sayang, ikhlaskan ya. mungkin ini sudah takdir. Allah hanya menitipkannya sebentar dirahim kamu," lirih ikhsan mengusap punggung Nia dengan lembut.
"Mas, maafkan aku karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Hiks...."
"Sstth... jangan berkata seperti itu,Sayang. ini memang belum rezeki kita. sudah jangan banyak pikiran ya. kamu harus cepat pulih. kita ikhlaskan, semoga secepatnya Allah berikan gantinya," ikhsan mengecup wajah Nia dengan penuh kasih sayang.
Lambat laun tangis Nia reda. dia meraih tengkuk ikhsan dengan erat menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. ikhsan membalas pelukan sang istri tak kalah mesranya.
"Ehem..." dr Yandra masuk memberi kode bahwa dirinya ada di ruangan itu.
Rania yang mendengar ada deheman seseorang, ia segera ingin melepaskan diri dari ikhsan. tetapi ikhsan sengaja menahan pundak Nia agar tetap dalam dekapannya.
"Mas, ada orang," desis Nia ingin lepas sembari mendorong tubuh ikhsan.
"Udah biarin aja. mas tahu siapa orang itu," bisik ikhsan pada Nia.
"Tapi malu,Mas. lepaskan aku!" bisik Nia Kembali tetapi ikhsan tak mengindahkan ucapan sang istri. dia malas meladeni kejahilan dokter obgyn itu.
Dr Yandra yang melihat ikhsan sengaja melakukan itu. maka dia tersenyum jahil.
Cklekk!
"Eh, Pak Bowo, Bu Sarah!" ujar Yandra sehingga membuat ikhsan segera melepaskan rangkulannya dari tubuh Rania dan segera melihat siapa orang yang masuk tetapi ternyata nggak ada siapa2.
"Hahaha.... habisnya nggak sopan banget. udah tau ada Dokter, malah sengaja ngebully seorang jomblo," Yandra tertawa sembari memberi pengakuan
"Oh, jadi kamu seorang jomblo? pantas kelihatan dari wajahnya. ngenes banget," ejek ikhsan sembari memperbaiki posisi sang istri agar lebih nyaman.
"Iya, sekarang aku jomblo. tapi sebentar lagi aku akan melepaskan masa lajang," bals Yandra berjalan menuju bad pasien.
"Katanya jomblo tapi akan melepas masa lajang. lepas masa lajang atau lepas perjaka? hahaha... tawa ikhsan menggelegar. dia seperti melupakan kesedihan saat kehilangan calon anaknya. kehadiran Yandra seperti sebuah hiburan untuknya.
__ADS_1
"Heh! sembarangan ngomongnya. ya nikahlah, setelah nikah baru lepas segalanya," balas Yandra mengerlingkan matanya dengan senyum menggoda.
"Oke, Oke... aku akan Do'ain kamu semoga apa yang kamu harapkan segera terlaksana. jadi ceritanya nggak pacaran tapi tak'arufan nih?" goda ikhsan kembali
"Nggak juga sih. tapi... ya begitulah. pokoknya Do'ain ajalah!" sambung Yandra masih mode abu-abu sembari memeriksa keadaan Rania.
"Nia, jika kamu capek miring terus, kamu bisa sedikit terlentang. kamu rasa-rasakan saja agar tak mengenai bahu. pokoknya bagian bahu jangan di himpit ya," jelas Yandra pada Nia
"Baik, Dok. Terimakasih," ucap Nia
***
Kini sudah tiga hari Rania menjalani perawatan intensif di RS Malik. hari ini ikhsan akan ke kantor polisi untuk menemui kedua orangtua angkatnya. walau bagaimanapun ia tetap berhutang Budi karena sudah dibesarkan dengan kasih sayang dan diberi pendidikan yang tinggi.
Sebenarnya ikhsan masih kecewa atas segala tindakan yang dilakukan oleh Papa Zoni. tapi ia berusaha untuk memaafkan tapi tidak mencabut laporan. biarkan hukum tetap berjalan, karena tindakan Papa zoni itu hampir saja menghilangkan nyawa sang istri.
"Mi, aku ketahanan dulu. titip Nia ya," ucap ikhsan menyalami tangan Mami Sarah.
"Iya kamu hati-hati,San. Mami masih ngeri dengan orang itu. bagaimana nanti dia berusaha mencelakaimu kembali," Mami Sarah memperingati putranya.
"Tidak apa-apa,Mi. tidak perlu cemas," ikhsan segera pamit pada Rania. "Sayang,Mas pergi sebentar ya. kamu mau aku belikan apa?" ikhsan mengecup kening Nia dan mengusap rambutnya dengan lembut.
"Baiklah, sayang. aku akan pulang secepatnya. kalau begitu aku pergi dulu ya." Nia mengangguk sembari menyalami tangan sang suami.
***
Kini ikhsan sudah berada di rutan. tempat kedua orangtua angkatnya ditahan. ia menunggu pihak penjaga tahanan membawa mereka.
Tidak menunggu lama yang ia nantikan sudah berada dihadapannya. ikhsan menatap kedua orangtuanya yang tampak begitu kusut.
"Untuk apa kamu datang kesini? kamu sudah senang melihat kedua orangtuamu mendekam di penjara 'kan?" ujar Papa zoni sinis
"Pa, Ma. bagaimana kabar kalian?" ujar ikhsan tidak menanggapi ucapan sang Papa
"San, Mama tidak ingin dipenjara. tolong,Nak cabut tuntutanmu! Mama benar2 tidak betah,San. apakah kamu tega melihat kedua orangtuamu tersiksa?" mohon Mama Lena
__ADS_1
"Maaf,Ma. proses hukum akan tetap berjalan. karena tindakan Papa sudah keterlaluan," tegas ikhsan
"Jadi untuk apa kamu datang jika kamu tidak mau melepaskan kami. apakah kamu sengaja ingin mentertawakan kami? tega kamu,San! Mama tidak menyangka kamu anak yang Mama besarkan dengan penuh kasih sayang, tapi begini balasannya?" ungkit Mama Lena.
"Ma, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan kasih sayang Mama dan Papa. tapi hukum harus berjalan. karena Papa hampir saja menghilangkan nyawa Istriku, dan lebih menyakitkan lagi janin yang ada dirahim istriku tidak bisa diselamatkan!" ujar ikhsan meninggi. karena dia terbawa perasaan saat menyebut calon anaknya yang telah hilang.
"Sudahlah,Ma. tidak usah mengemis hiba padanya. tenanglah kita akan mencari pengacara yang terbaik untuk mengeluarkan kita dari jeruji besi ini!"
Ayo kita masuk. tidak ada gunanya menemui anak yang tak membalas budi ini!" ajak Zoni pada sang istri.
"Maafkan aku,Ma,pa. jika Mama dan Papa membutuhkan sesuatu jangan sungkan kabari aku. kalau begitu aku pamit dulu,"
"Silahkan kamu pergi. jangan pernah datang menemui kami lagi. kami tidak butuh kunjunganmu!" ujar Zoni garang,sebelum masuk kedalam tahanan Kembali.
***
Kini ikhsan Kembali ke RS. diperjalanan ia terngiang Isak tangisan Mama Lena. sekelabat masa lalu bermunculan dalam ingatannya.
Memang dia dibesarkan penuh dengan kasih sayang oleh sang Mama. ikhsan teringat saat itu ia mengalami demam tinggi sehingga membuat Mama Lena tidak bisa tidur semalaman demi menjaga dirinya. kasih sayang mereka yang begitu besar membuat ikhsan tak menyadari bahwa dirinya adalah anak angkat.
Maafkan aku Ma,Pa. semoga dengan ini kalian akan sadar, karena tidak semua bisa diselesaikan dengan uang.
Ikhsan bergumam dalam hati sembari fokus mengemudi. namun tak sengaja matanya melihat penjual buah manggis dipinggir jalan. ikhsan segera menghentikan mobilnya, walau sudah terlewat beberapa meter ia segera memundurkan kendaraan roda empat itu kebelakang.
"Kak, manggisnya dua kilo, ya,"
"Baik, Bang. apakah Abang mau pilih sendiri?" tanya tukang buah
"Saya, tidak bisa milih,Kak. tolong kakak saja yang pilihkan ya," ujar ikhsan menyerahkan pada situkang buah
"Baiklah, bang."
Ikhsan Kembali menuju RS. dia tersenyum melihat bungkusan manggis itu. ia membayangkan wajah senang Rania saat mendapatkan buah kesukaannya. namun senyum itu tiba-tiba memudar ia teringat saat sang istri ngidam buah yang sangat jujur itu.
Kini janin yang sangat susah payah mereka jaga sudah tak ada lagi. ikhsan Kembali sedih impiannya yang ingin segera menimang buah cinta mereka kini telah pupus.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰