
Saat Nia masih larut dalam tangisannya. ia mendengar ada suara deru mesin mobil yang berhenti Nia segera membukakan pintu.
"Ibu...."
"Rania...Apa yang terjadi,Nak? apakah nomor ponsel ikhsan tidak bisa dihubungi?" ujar Bu Sarah sembari memeluk Rania dengan suara bergetar
"Tidak,Bu. nomornya tidak bisa dihubungi. Bu, tolong cari mas ikhsan. aku takut. hiks..." tangis Nia pecah dalam pelukan Bu Sarah
"Sabar ya,Nak. orang suruhan Papimu sedang mencari ikhsan. ayo sekarang kita pulang, kamu harus tinggal sama Ibu."
"Tapi bagaimana jika nanti mas ikhsan pulang,Bu?"
"Nanti, dia pasti akan menelpon kamu atau Papi. udah ayo sekarang kita pulang."
Akhirnya Nia ikut bersama Bu Sarah. untuk tinggal di kediaman pak Bowo. diperjalanan Rania masih menangis.
***
Sementara itu dikediaman keluarga Amarzoni. ikhsan baru saja sadar dari obat biusnya. ia mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan itu. rasanya ruangan itu sudah tidak asing lagi
Ikhsan segera duduk untuk memulihkan pikirannya. ternyata dia sudah berada di kediaman orangtuanya. ruangan itu adalah kamarnya sendiri.
setelah menyadari dimana keberadaannya sekarang. ia melihat jam dinding yang ada dikamarnya itu. waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. ikhsan segera bangkit dan menuju pintu kamarnya,dan memutar kenop pintu itu namun terkunci dari luar.
Ikhsan Kembali mencoba membuka pintu itu dengan sekuat tenaganya. namun tidak bisa. ia mencoba mencari ponselnya, namun tidak ada.
"Apa-apaan ini! Papa..... buka pintunya. Mama...!" teriak ikhsan dengan keras. namun tak ada tanggapan dari luar
"Sekali lagi aku katakan, siapapun yang ada diluar tolong buka pintu ini...!" teriak ikhsan lagi
Merasa tak ada yang menghiraukan teriaknya. ikhsan segera mendobrak pintu kamar itu. namun pintu itu terlalu kokoh. ia mencoba mencari benda tumpul untuk mencongkel pintu itu. lagi-lagi dia kecewa.
__ADS_1
Sepertinya orangtuanya sudah mengalihkan semua alat-alat yang bisa di pergunakan oleh ikhsan untuk membuka pintu kamarnya itu.
Ikhsan benar-benar kesal. dia membayangkan bagaimana cemas dan takutnya Rania. ikhsan menatap semua jendela kamarnya. tetapi kamar itu sudah menggunakan terali besi yang cukup kokoh.
Kini harapan satu2nya adalah pintu balkon kamarnya itu. ikhsan segera berlari menuju pintu balkon kamarnya dan memutar kenop pintu itu. namun masih sama. pintu itu sudah terkunci.
Ikhsan bingung harus berbuat apa. hatinya begitu marah dan kesal. rencana apa yang akan keluarga Amarzoni lakukan pada dirinya.
"Arrrgggghh!!"
Ikhsan menghantam tembok kamar dengan kepalan tangannya. sudut matanya sudah berair, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Rania. padahal tadi sore ia akan membawa Nia kontrol ke RS.
"Nia, maafkan aku,Sayang. kamu baik-baik disana ya. aku janji akan keluar dari tempat ini. aku akan kembali padamu. tidak ada yang bisa memisahkan kita, Sayang. sabarlah, jaga bayi kita dengan baik!"
Pria itu bergumam sendiri dalam frustasi. terkadang dia tersenyum sendiri melihat ulah orangtuanya itu. bisa-bisanya mereka memperlakukan putranya sendiri sebagai tawanan.
***
Rania masih menatap keluar dari jendela kamarnya yang ada di lantai dasar. jendela kamar itu persis menghadap ke halaman rumah yang luas membentang. hingga dari kamar itu bisa melihat pos sequrity yang ada di ujung gerbang.
Rania menyingkap gorden penutup jendela kamarnya. netranya tak lepas menatap kearah gerbang rumah itu. berharap ikhsan akan pulang.
Benar saja, Nia mendengar suara klakson mobil yang ingin masuk. dan sequrity berlari tergopoh-gopoh untuk membukakan gerbang rumah itu.
Nia melihat sepeda motor yang digunakan ikhsan masuk dengan seorang pengemudi. namun saat ia perhatikan sipengemudi itu bukanlah ikhsan. dibelakang motor itu di ikuti oleh sebuah mobil. sudah pasti mobil itu adalah orang suruhan pak Bowo
Nia juga memperhatikan semua orang yang turun dari dalam mobil itu. namun ia tak melihat ada suaminya diantara Pria-pria bertubuh tegap itu.
Kembali tangis Nia pecah. ia membekab mulutnya dengan tangan. rasa sakit dan sesak dihatinya begitu nyata. ketakutan menyelimuti pikirannya.
Setelah cukup puas menangis Rania keluar dari kamar. walaupun rasa takut begitu besar,tapi dia butuh penjelasan atas sepeda motor suaminya itu. Nia segera menunju ruang tamu.
__ADS_1
Namun sayup-sayup terdengar suara isakan tangis seorang wanita. dari racauannya Nia sangat mengenali suara itu. ya, itu adalah tangisan Bu Sarah. Nia tertegun sesaat dia berpikir kenapa Bu Sarah begitu khawatir dan menangis. kenapa wanita paruh baya itu tak kalah cemasnya dengan dirinya.
"Pi, cari ikhsan sampai ketemu. Mami tidak mau kehilangannya. coba Papi bayangkan sudah puluhan tahun kita kehilangannya. rasanya sekarang Mami tidak bisa Pi, dia anak kita satu-satunya, ini semua salah Papi. kenapa Papi melarang Mami untuk menceritakan yang sebenarnya!" kesal wanita itu kepada suaminya.
"Mi, tenanglah. kita akan mencari ikhsan sampai ketemu. Papi bukan melarang, tapi waktunya belum tepat. kita belum mengetahui tentang kehidupannya. dan dia juga masih menyembunyikan identitas orangtuanya dari kita." sangkal pak Bowo.
Sementara itu Rania menggigil mendengar pengakuan kedua pasutri itu. rasanya ia masih belum percaya. apakah benar ikhsan anak mereka. jadi Amarzoni itu siapa. bagaimana bisa ikhsan masuk di keluarga itu.
Nia Kembali berpikir. lambat laun ia menyadari bahwa sikap ikhsan memang bertolak belakang dengan keluarganya yang sombong dan angkuh itu.
Ikhsan seorang Pria baik dan penuh kasih sayang dan kelembutan. dia juga sangat peduli dengan sesama. sikap ikhsan memang mengarah pada sikap pak Bowo dan Bu Sarah. benarkah suaminya itu anak dari mereka.
Lama Rania larut dengan pikirannya. ia segera berjalan menuju dimana tempat kedua pasangan yang sedang menguatkan itu.
"Bu...." panggil Nia dengan suara tercekat dan air mata berlinang
Bu Sarah melepaskan diri dari dekapan suaminya. "Rania... kamu belum tidur,Nak. tidurlah sayang. kamu tidak perlu cemas. kamu pikirkan kandungan kamu. ikhsan pasti pulang," Bu Sarah berusaha memberikan kata penghiburan kepada Rania. walaupun dirinya sendiri sangat mencemaskan putra semata wayangnya itu.
"Bu, aku ingin tahu tentang sepeda motor mas ikhsan. apakah ada petunjuk yang lainnya?" tanya Nia
"Ayo duduk dulu,Nia." kini pak Bowo yang merangkul bahu Rania untuk membawanya duduk
"Nia, tadi orang suruhan Bapak menemukan sepeda motor ikhsan tergeletak di pinggir jalan yang cukup sepi. dan mereka juga melihat ada jejak mobil berhenti disana. juga terdapat bekas perkelahian. ada beberapa tetes darah di lokasi kejadian itu.
Nia membekap mulutnya dengan tangan. air matanya mengalir dengan deras. "Apa yang terjadi dengan mas ikhsan? hiks..." gumam Nia
"Ssstt.. tenanglah,Nak. ikhsan pasti baik-baik saja." Bu Sarah memeluk Rania.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1