
*Dikediaman Amarzoni*
Kini sudah tiga hari ikhsan berada di kamar itu. pikirannya benar-benar kacau. ia hanya memikirkan Rania. "Nia, maafkan aku yang menjadi laki-laki lemah. aku belum mau mati sebelum bertemu denganmu dan juga anak kita." gumam ikhsan sembari mengusap wajahnya dengan kasar
Cklekk!
Pintu kamar itu terbuka. Amarzoni masuk,dikawal beberapa bodyguard.dengan nampan berisi makanan ditangannya. ia meletakan nampan itu di atas nakas.
"Bawa saja makanan itu keluar,Pa!" ujar ikhsan tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
"Kenapa baru sekarang kamu menolak makanan ini? apakah kamu ingin mencoba mogok makan? heh..." Pria itu tersenyum mengejek
Ikhsan menatap Pria paruh baya itu dengan air muka yang tak bisa di artikan, senyum muak tersungging di bibirnya. "apakah jika aku menikahi Sofi, Papa mengizinkan aku untuk bertemu dengan Rania?"
"Oke, aku akan mengizinkan kamu untuk bertemu dengan Rania, tapi dengan syarat pertemuan kamu itu untuk yang terakhir kalinya. yaitu kamu harus menceraikan wanita itu!"
Ikhsan menatap Pria itu dengan mata memerah. tetapi dia menahan emosi. ia harus bisa menjalani misinya.
"Baik, tidak masalah. aku akan menemui Rania seperti yang Papa minta."
"Oke, sekarang makanlah. dan besok pagi acara akad nikah akan segera dilaksanakan." laki-laki itu segera keluar dari kamar itu
"Heh! kita lihat saja besok apa yang akan terjadi!" gumam ikhsan menyeringai
***
Di RS*
Rania sudah menempati kamar rawat inap VIP. dengan di temani oleh Mami Sarah. namun pikiran wanita itu masih tidak tenang. ia tidak mau makan apapun.
Sore ini dokter Obgyn visit. Dr Yandra memeriksa Rania dengan fokus. "Apakah anda sudah makan Bu Rania?" tanya sang dokter
Nia, tidak menggubris pertanyaan dokter Tampan Itu. yang ada di pikirannya hanya ikhsan. ia sangat mencemaskan nasib sang suami.
"Dok, apakah kondisinya menurun?" tanya Mami Sarah dengan cemas
"Ya, karena tidak ada asupan makanan yang masuk. jika hanya mengandalkan infus itu tidak akan bisa. pasien diharuskan untuk makan, minimal minum susu. tolong di bujuk ya, Bu."
"Saya sudah membujuk, Dok. tapi sepertinya menantu saya masih shock," jelas Mami Sarah
"Shock? maaf jika boleh saya tahu, apa persoalannya sehingga Bu Nia mengalami hal itu?" tanya Dr Yandra sedikit tertarik dengan penjelasan Mami Sarah.
Akhirnya wanita itu menceritakan persoalan yang sedang terjadi. Yandra begitu kaget dengan penjelasan Mami Sarah. dia merasa kasihan dengan pasiennya itu.
"Apakah sudah ada kabar tentang putra, ibu?" tanya Yandra
"Saya belum dapat kabar,Dok,"
__ADS_1
"Ibu, pulanglah istirahat. Rania biar suster yang menjaga. ibu tidak perlu khawatir,dia aman disini," jelas Dr Yandra
"Tapi saya masih enggan meninggalkannya,Dok. saya sangat mencemaskan keadaan menantu saya,"
"Bu, percaya dengan saya. Bu Nia akan baik-baik saja,"
"Baiklah, saya akan coba bicara dengan Nia," Bu Sarah menghampiri Rania
"Nak, Mami pulang sebentar untuk mandi ya. kamu tidak apa-apa jika Mami tinggal sebentar,"
"Iya,Mi. aku tidak apa-apa," jawab Nia memaksakan untuk tersenyum
"Mi..."
Panggil Nia menghentikan langkah Bu Sarah. "Ada apa, Nak?"
"Jangan lupa tanyakan ke Papi tentang mas ikhsan,"
Bu Sarah mengangguk. "Tentu,Nak. Mami akan tanyakan pada Papimu."
Setelah bicara pada perawat, Bu Sarah segera pulang hanya untuk mandi dan mengambil pakaian ganti Rania.
Selepas magrib Dr Yandra baru saja keluar dari ruangannya untuk segera pulang. namun ia melewati kamar rawat inap pasiennya yang bernama Rania itu. ia kembali masuk hanya sekedar memastikan keadan wanita itu baik-baik saja.
"Bagaimana keadaannya Sus, apakah dia sudah mau makan?" tanya dr Yandra
"Bawa sini," Yandra meminta mangkok itu
Perawat itu segera memberikan, ia segera keluar dari ruang rawat.
"Bu Rania, ayo makan dulu. Anda ingin sembuh dan tidak ingin menyakiti bayi anda 'kan?"
Suara Dokter itu membuat Rania membuka matanya seketika. "Tapi saya tidak lapar, Dok."
"Jika anda tidak lapar janin anda pasti ingin makan. apakah anda tega menyakitinya? apakah anda tidak menyayanginya? atau jangan-jangan Anda hanya menyayangi Papanya daripada anaknya..."
Ucapan Dokter itu membuat Rania kesal. "Apa maksud anda bicara seperti itu,Dokter? Anda tidak tahu apa yang sedang saya rasakan. dokter tidak tahu 'kan, dimana suami saya sekarang. tentu saja saya sangat menyayangi janin saya,Dok. tapi apakah dokter tahu bagaimana takut dan khawatirnya saya saat ini!"
Wanita itu menumpahkan kekesalannya dengan sudut mata yang sudah mulai berembun
Dr Yandra mendekati Rania. ia duduk di kursi samping ranjang. sepertinya kita perlu bicara. bisakah aku menjadi temanmu? sepertinya kamu tidak cocok menjadi pasienku,"
Nia masih kesal sembari menghapus air matanya. "Kenapa anda bicara seperti itu, Dokter?"
"Ya, soalnya mana ada pasien yang bicara dengan saya marah' begini. baru kali ini aku menemui pasien yang galak seperti kamu,"
"Apa sih, Dok. aku tidak galak. dokter saja yang memancing amarahku," sungut Nia
__ADS_1
"Baiklah jika kamu memang tidak galak. sekarang ayo duduk dulu. kita akan bicara," Dr Yandra membantu Rania untuk duduk.
"Tidak usah, Dok. saya bisa duduk sendiri," tolak Nia saat tangan sang dokter ingin membantunya.
Yandra tersenyum. baru kali ini ada pasien yang menolak bantuannya. wanita ini cukup unik.
"Sekarang ayo makan dulu. setelah makan aku akan membantumu untuk mencari pujaan hatimu itu," bujuk dr Yandra sembari menyerahkan mangkuk bubur itu pada Nia
"Dokter serius?" wanita itu kegirangan.
"Ya, tapi dengan satu syarat,"
"Syarat?" Nia mengerutkan keningnya
"Ya,"
"Syarat apa?"
"Kamu harus tetap makan. agar kamu dan bayimu sehat dan juga nanti saat bertemu dengan suamimu dia tidak kabur,"
"Kabur? kenapa suamiku harus kabur bertemu denganku,"
"Ya, tentu saja dia kabur, karena dia tidak percaya bahwa kamu itu istrinya. karena sudah kurus dan jelek,"
"Ck... apa sih,Dok. iya, iya. saya makan," akhirnya wanita itu memakan bubur ayam itu.
Dr Yandra tersenyum simpul. sambil memperhatikan wanita itu.
"Nia... aku boleh panggil namamu Nia 'kan?"
"Hmm..." wanita itu hanya mengangguk masih fokus dengan makanannya
"Siapa nama suamimu?"
"Ikhsan,"
"Nia, kita tunggu kabar dari, pak Bowo dulu. jika masih belum ada kejelasan. aku akan membantumu. kamu masih punya alamat orangtua suamimu yang di Jakarta 'Kan?"
"Ya, masih,Dok. apa yang akan dokter lakukan?" tanya Nia penasaran
"Kamu tidak perlu pikirkan itu, sekarang habiskan dulu makanmu. agar nanti bertemu dengan ikhsan kamu sudah terlihat segar dan cantik, tidak seperti sekarang ini 'jelek."
Nia tersenyum mendengar celoteh dokter obgyn yang menurutnya cukup ramah dan baik.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya🙏🤗
__ADS_1
Happy reading 🥰