
"Tapi kami tidak merasa di repotkan,Nak. ibu sangat senang jika kamu dan istrimu mau tinggal bersama kami dirumah ini," lirih Bu Sarah dengan suara serak
Ikhsan menatap wanita paruh baya itu dengan perasaan bersalah. ia merasa tidak enak karena telah membuat wanita itu bersedih karena penolakannya. sebenarnya ikhsan juga heran kenapa Bu Sarah begitu baik dengannya dan Rania. batinnya juga merasa getir saat melihat Bu Sarah bersedih.
"Maafkan saya, Bu. saya tidak bermaksud membuat ibu bersedih. saya hanya merasa sudah terlalu banyak merepotkan ibu dan bapak." ikhsan meminta maaf
"Tidak,Nak.kamu tidak salah apa-apa. mungkin ibu yang salah karena terlalu memaksakan kehendak, sudahlah. jika kamu tidak mau, tidak apa-apa. tapi biarkan ibu yang datang mengunjungi kediamanmu. biarkan ibu menjaga istrimu," jelas Bu Sarah, dan kembali membuat ikhsan semakin bingung
"Mami..." panggil Pak Bowo kepada istrinya, sembari menggelengkan kepalanya. seperti memberikan kode untuk tidak terlihat terlalu peduli.
"Ah, baiklah. jika Ibu juga tidak boleh berkunjung kerumahmu juga tidak apa-apa," Kembali wajah Bu Sarah sendu
"Bu-bukan, Bu. saya bukan melarang ibu untuk datang. silahkan jika ibu ingin berkunjung ke rumah kontrakan kami," balas ikhsan segera. ia takut membuat Bu Sarah Kembali kecewa
"Benarkah? Alhamdulillah... terimakasih ya,San. nanti siang ibu akan berkunjung ke rumah kamu. nanti tinggalkan alamat kamu ya." ujar Bu Sarah dengan senang
Ikhsan hanya mengangguk.dia kembali melanjutkan sarapannya. walaupun sudah dingin karena terjeda oleh percakapan mereka.
"Yasudah. kamu tidak perlu masuk kantor selama istri kamu sakit. kamu fokus saja merawat Rania. benar kan Rania nama istrimu?" tanya Pak Bowo
"Benar, Pak. tapi saya tidak dipecat kan,Pak?" tanya ikhsan cemas
"Tidak. saya tidak akan memecat kamu. saya hanya memberimu cuti untuk merawat istri dan calon anak kamu," jelas Pak Bowo
__ADS_1
"Alhamdulillah... terimakasih, Pak." ikhsan tersenyum senang.
***
Setelah mendapatkan izin ikhsan kembali pulang. tetapi sebelum pulang ia menuju pasar untuk membeli sayur, buah, dan ikan. ia membelikan untuk memenuhi nutrisi dan gizi untuk Rania dan juga calon anaknya.
Setelah selesai belanja ikhsan Kembali memacu sepeda motornya. diperjalanan pulang,ia tersenyum menatap semua kantong belanjaannya. siapa sangka dirinya yang dulu seorang CEO kini menjadi lelaki biasa yang tak mempunyai sayap.
Tetapi ikhsan bersyukur, dia bisa belajar menjadi orang kecil, dia juga belajar cara hidup hemat. hidup tanpa bergelimpangan harta membuat pikirannya lebih tenang. ia juga tidak pusing memikirkan semua pekerjaannya. tidak ada lagi berkas-berkas yang setiap hari menumpuk harus ia cek dan tanda tangani.
Ikhsan menikmati kehidupannya sekarang bersama wanita kesayangannya. dan sebentar lagi akan ada malaikat kecil hadir di tengah-tengah mereka, maka kebahagiaannya akan lengkap bersama keluarga kecilnya.
Tidak berapa lama sepeda motor itu sudah berada di depan rumah kontrakannya. ikhsan segera membuka pintu.ia sengaja mengunci pintu dari luar, karena ia pergi hanya sebentar.
Mampus aku... kira-kira kesalahan apa lagi yang telah aku perbuat ya? batin ikhsan.
Dengan perlahan ia mendekati sang istri yang sedang merajuk kepadanya. ia duduk di samping Rania. "Sayang, aku minta maaf ya. pasti aku sudah melakukan kesalahan lagi. aku jahat banget ya? apakah kamu ingin marah padaku?" tanya ikhsan dengan lembut sembari menyandarkan kepalanya di bahu Rania
"Bukan marah lagi Mas, tapi aku sedang marah!" rajuk Nia, sembari menghapus air matanya dan air hidung yang keluar akibat lama menangis. entah sudah berapa lama wanita itu menangis
"Baiklah, aku minta maaf. sekarang aku pasrah menerima hukuman dari kamu sayang." ujar ikhsan berusaha menenangkan calon ibu dari anaknya itu. ikhsan pasrah jadi tersangka walaupun ia tidak merasa melakukan kesalahan tetapi demi membuat mood Rania kembali membaik, maka ia rela diciduk tanpa bukti.
"Kamu tega banget pergi tidak pamit sama aku,Mas. hiks..." ucap Nia menatap ikhsan dengan kesal
__ADS_1
Ikhsan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. dia begitu gemas melihat tingkah istrinya itu. bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa dirinya pergi tanpa pamit.
"Benarkah? ya ampun aku lupa Sayang. hah... ikhsan kenapa kamu ceroboh sekali! lihatlah wanita kesayanganmu bersedih karena ulahmu!" ikhsan memarahi dirinya sendiri di depan Rania.
"Oke, aku minta maaf ya Sayang. aku janji tidak akan mengulanginya lagi. kamu mau memaafkan suamimu yang ceroboh ini kan?" tanya ikhsan memelas
"Baiklah, aku akan memaafkan kamu,Mas. tapi kamu harus cerita dulu. tadi kamu darimana?" kenapa kamu menggunakan pakaian biasa. apakah kamu tidak kerja hari ini?" tanya Nia
"Tidak sayang. aku baru pulang dari kediaman Pak Bowo. aku minta izin untuk tidak masuk kantor hari ini," jelas ikhsan
"Oh..." hanya itu ucap Nia
"Kamu sudah tidak marah lagi kan sayang?"
Nia menggelengkan kepalanya, dan tersenyum manis sembari mengalungkan tangannya dileher ikhsan. "aku senang banget kamu tidak masuk kerja hari ini,Mas. aku ingin selalu ditemani oleh kamu,"
"Hmm... baiklah, aku akan menemani kamu hingga kamu sembuh, Sayang. tapi jika sering nempel begini membuat dia selalu memberontak. aku takut khilaf,Sayang. Hehehe..." ikhsan tertawa menggoda sang istri
"Sabar ya,Mas. kan dokter bilang kita belum boleh melakukannya," ucap Nia menatap ikhsan dengan iba.
"Muuuaachh... aku selalu sabar, Sayang. ini semua demi kamu dan anak kita. Anak Papa, baik-baik,kuat ya,Nak.." ikhsan mengusap perut Nia dengan lembut.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰